Post Image

Indonesia Fashion Week (IFW) akan kembali digelar April 2020 mendatang. Untuk kali kedua, IFW akan mengangkat tema budaya Kalimantan.

“Tales of the Equator” – Treasure of the Magnificent Borneo menjadi tema pilihan Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) selaku penyelenggara acara.

Ketua Umum APPMI sekaligus Presiden IFW, Poppy Dharsono menjelaskan, tema budaya Kalimantan dipilih sebagai komitmen nyata mendukung promosi khasanah Indonesia.

Borneo dinilai memiliki budaya yang beragam dan tak pernah habis untuk menjadi inspirasi mode.

Jika pada IFW 2019 fokusnya adalah Kalimantan sebagai sebuah pulau besar, fokus IFW 2020 adalah pada budaya suku-sukunya. Seperti Dayak, Kutai dan Banjar.

Ketiganya memiliki kultur berbeda yang patut kita perkenalkan ke teman-teman se-Indonesia dan internasional,” kata Poppy dalam soft launching IFW 2020 di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (9/10/2019).
Tema Borneo akan dituangkan ke dalam karya para desainer yang terlibat melalui sejumlah kategori mode, antara lain ready to wear, konvensional, kontemporer, hingga modest.

Budaya Kalimantan memang sudah pernah diangkat tahun lalu, namun bagi Poppy sekali saja tidak cukup.

Menurutnya, IFW akan mengangkat tema tersebut bahkan mungkin lebih dari dua kali.

Kemarin (IFW 2019) baru pengenalan, sekarang lebih dalam. Mungkin dari sekarang, dua kali lagi (IFW), sampai karya dan produk masyarakat Kalimantan betul-betul bisa di-branding dan banyak dibeli,” kata dia.

Fesyen berkelanjutan

Pada IFW kali ini, APPMI juga bekerja sama dengan Indonesia Global Compact Network (IGNC), aliansi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk fesyen berkelanjutan.

Hal ini dilakukan agar industri fesyen ramah lingkungan semakin banyak di Indonesia. Sebab, saat ini fesyen masih merupakan industri kedua terbesar yang paling banyak mengkonsumsi air dalam setiap proses produksinya.

Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan untuk mempromosikan industri fesyen ramah lingkungan yang berkelanjutan.

Salah satu desainer yang turut menampilkan karyanya adalah Ivan Gunawan.

Ivan akan berkolaborasi dengan Asian Pacific Rayon (APR), sebuah pabrik lokal yang menghasilkan aneka tekstil sintetis berbahan dasar serat kayu.

Untuk koleksi bertajuk “Birds of Happiness”, Ivan akan menyulap jeans berbahan dasar viscose-rayon menjadi busana pret-a-porter, baju pria dan busana wanita.

Busana saya terbuat dari 100 persen selulosa kayu, jadi ketika baju saya sudah tidak terpakai atau dibuang bisa terurai di tanah,” ucapnya.

Pada busana laki-laki, jeans digunakan pada bagian lengan dan kantong kemeja, atau kelepak kerah dan ujung lengan outer berbahan embroidery.

Sementara untuk perempuan, Ivan mempersembahkan blus putih lengan panjang dengan pita super besar di pergelangan, dipadukan dengan outer panjang tanpa lengan. Pada outer tersemat bordir Burung Enggang atau Rangkong warna putih.

Rangkong sendiri merupakan salah satu jenis burung yang dilindungi dan dilestarikan.

Saya buat look fashion yang forward ke depan. Walau tema kedaerahan, tapi baju bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari dan up to date,” katanya.

Next
Kalimantan Kembali Jadi Tema Besar Indonesia Fashion Week 2020

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.