Home Blog

Ridiculous Hope, Koleksi Penuh Harapan dari Fame Agenda

0
fame agenda

Jakarta – Brand Fame Agenda asal Australia menggelar koleksinya di Indonesia Fashion Week (IFW) 2018 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, pada 28 Maret-1 April 2018. Koleksi ditampilkan dalam peragaan gabungan bertema The Heritage of Ancient Komodo, Jumat (30/3).
“Koleksi Fame Agenda bertema Ridiculous Hope. Koleksi ini bercerita mengenai dunia yang rusuh, banyak masalah global yang kita hadapi. Namun di balik semua itu, kita masih punya harapan, ini yang menjadi koleksi kami,” kata Monica Lim, desainer Fame Agenda.

Ridiculous Hope menampilkan koleksi dalam gradasi warna putih hingga corak bunga-bunga berukuran besar. Di sesi pertama, busana polos putih mencuri perhatian dengan helaian di sisi kiri dan kanan, seperti sirip pada tubuh cumi-cumi. Selain dress, koleksi juga berupa celana selutut berkerut dan blus.

Dari putih polos, Fame Agenda menyuarakan harapan lewat busana bercorak bunga-bunga ceria. Corak bunga berukuran besar, pilihan warna kuning, serta abu, dan biru, seperti ingin memberikan kepastian bahwa masih ada harapan di dunia.

Yang menarik, di antara bunga-bunga, merayap ular-ular cantik. Ada tanaman, ada bunga, ada binatang, tentu ada ular. Sebuah rantai makanan yang memperlihatkan bahwa harapan di dunia ini masih ada.Koleksi bunga-bunga ini menghampar mulai longdress, blus, kulot, celana, yang semuanya terbuat dari bahan ringan melayang. Seringan menyongsong dunia yang penuh harapan.

Ikut menampilkan koleksinya ini di IFW 2018, Monica mengaku sangat senang. “Saya senang sekali bekerjasama dengan tim dari Indonesia Fashion Week 2018. Ini kali pertama saya mengikuti Indonesia Fashion Week, saya sangat bersemangat,” kata dia.
Terkait dengan tema besar yang diusung IFW 2018, yaitu Cultural Identity, menurut Monica, sangat menarik. “Cultural Identity menurut saya ini menarik karena di Australia kami juga mempunyai begitu banyak kebudayaan. Cultural Identity menandakan asal Anda dan sejarah dari mana Anda berasal dan untuk maju anda harus tahu sejarah dan identitas negara anda,” tandas Monica.(*)

Karya Uis Gara dari Karo Menjadi Pemenang IYFDC 2018

0
Karya Uis Gara dari Karo

Jakarta – Identitas Kultur (Cultural Identity) menjadi tema besar yang diangkat dalam Indonesia Fashion Week 2018. Tema ini memberikan ciri dan kepribadian nasional melalui tren fashion Indonesia. IFW 2018 juga memiliki visi untuk mendekatkan generasi muda Indonesia kepada budaya Indonesia, melalui fashion. Salah satu program unggulan IFW bersama dengan Tokopedia – official e-commerce partner– adalah Indonesia Young Fashion Designer Competition (IYFDC), sebuah kompetisi desain fashion untuk anak muda.

Lomba desain IYFDC diselenggarakan dengan maksud untuk merangsang kreativitas anak muda dalam bidang fashion dan memberi kesempatan kepada mereka untuk menjadi seorang perancang mode. Setelah menjaring lebih dari 200 karya peserta, terpilih 21 finalis yang masing-masing membuat 3 set busana siap pakai. Ke-21 finalis tersebut mempresentasikan karyanya di panggung utama IFW 2018, pada Sabtu, 31 Maret 2018 di hadapan publik dan para dewan juri. 

Dewan Juri kali ini adalah Kepala BEKRAF RI Triawan Munaf,  Chief Operating Officer Tokopedia Melissa Siska,  Bianca Lim dari Koefia International Fashion Academy, Italy,  Shinta Djiwatampu Program Director Lasalle College Jakarta, Herlina Widjaja dari Galeries Lafayette, Harry dari Metro TV,  K Nina Adelia dari Trinaya Media, Vice President APPMI Musa Widyatmodjo, dan Ketua APPMI Jawa Barat Harry Ibrahim.

Tema IYFDC 2018 sejalan dengan tema besar IFW 2018, yaitu Cultural Identity. Tujuan pemilihan tema ini, adalah supaya generasi muda juga mengetahui beragam kekayaan budaya Indonesia, kemudian mempelajarinya dan berinovasi dengan unsur budaya tersebut.

Dan terpilih sebagai pemenang pertama, yaitu Mayenda Pebri Dita Purba dengan karyanya Uis Gara. Mayenda mengolah busana dengan kain Uis, yang berasal dari daerah Karo, dekat dengan Gunung Sinabung. Sebagai juara I, Mayenda berhak mendapatkan hadiah uang tunai Rp100 juta dan beasiswa dari Koefia International Fashion Academy, Italy selama 1 tahun.

Pemenang 2 adalah Yuli Puspita Sari dengan koleksi berjudul Tare Tare Sapu Iluh. Yuli mengangkat kain ulos berwarna biru indigo, yang menceritakan proses pemakaman suku Batak. Yuli mendapatkan hadiah uang tunai 75 juta rupiah dan beasiswa dari Lasalle College Jakarta.

Pemenang 3 adalah Katherine Sumanto dengan karyanya Samawa dan sebagai juara favorit adalah Ivan Rizky Pratama dengan karya berjudul We’ekuri. Pemenang 3 dan favorit berturut-turut mendapatkan hadiah uang tunai sebesar Rp50 juta dan Rp25 juta.  

Harry Ibrahim sebagai salah satu dewan juri, mengatakan bahwa kriteria penjurian dalam menentukan pemenang IYFDC adalah kreativitas, pemahaman terhadap identitas kultural yang digunakan dalam koleksi, berdaya pakai tinggi, dan presentasi karya di runway. “Berdasarkan kerjasama dengan Tokopedia, kita juga menambahkan kategori bahwa selain daya pakai, koleksi pemenang juga harus memiliki daya jual yang cukup tinggi. Dan keempat juara IFYDC kali ini semuanya memang sangat wearable dan siap jual”.

Melissa Siska dari Tokopedia juga mengatakan, “Tokopedia memiliki misi untuk mewujudkan pemerataan ekonomi secara digital. Di Tokopedia, kami ingin orang bisa menemukan apapun, mewujudkan apapun hobinya, sehingga Tokopedia selalu berupaya supaya semua ekosistem saling mendukung. Kolaborasi Tokopedia dengan IFW didasari dengan kesamaan visi untuk mendukung para kreator lokal bisa berkembang di Indonesia.”

Para pemenang dan finalis IYDFC juga diharapkan untuk tidak berhenti di sini. Seperti yang dipesankan oleh Triawan Munaf, “Yang ingin kami dorong dari BEKRAF, agar mereka tidak hanya menjadi desainer handal, tapi juga punya sense of business yang baik. Para desainer harus mau untuk scale up, mau, dan mampu melihat fashion sebagai bisnis yang berpotensi.  Jangan puas hanya mencipta dan mendesain busana, tapi berpikirlah untuk scale up dan memberikan kontribusi lebih untuk kesejahteraan Indonesia.”

Sementara, Miss Bianca dari Koefia mengucapkan kegembiraannya bisa terlibat dalam penyelenggaraan IYDFC ini. “Saya mengucapkan selamat kepada IFW dan para pemenang. IFW mempunyai level yang sangat tinggi karena kreativitas dan fungsionalitas yang bersinergi. Saya juga mengerti bahwa para finalis dan pemenang pasti menemukan berbagai kesulitan dalam mewujudkan hasil idenya. Karena ini merupakan sebuah seni, dan membutuhkan studi yang lebih untuk menciptakan kreasi seni yang complicated,” kata Bianca.

Bianca melanjutkan,” Saya kira Mayenda adalah calon desainer yang cocok untuk mendapatkan beasiswa dan menjalani studi fashion di Italia. Mudah-mudahan Mayenda bisa segera datang ke Italia, dan kita akan bisa saling membagi kultur Indonesia ke Italia, sehingga terjalin pertukaran kebudayaan. Dan terimakasih kepada Ibu Poppy Dharsono atas kesempatan yang diberikan,” tandas Bianca.(*)

 

Peaceful Dream, Padu Padan Batik dan Tenun yang Anggun

0
LIZA SUPRIYADI ON STAGE

Jakarta – Peragaan busana bertajuk Peaceful Dream digelar di hari keempat Indonesia Fashion Week (IFW) 2018 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Sabtu (31/3). Sebanyak 11 desainer, yaitu Nina Nugroho, Nieta Hidayani, Dwi Lestari Kartika, Ayou Mizzura by Wahyu Mukhtar, Ayasophia, Liza Supriyadi, Neetas by Neeta Sagar Vasandani, Motifhawa by Pipit Pramudia,  Lumina by Yanti Adeni, Lentera by Hj. Ratu Anita Soviah, dan Leny Rafael menampilkan beragam karya di perhelatan fashion akbar yang diselenggarakan oleh Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) bersama Rumah Kreatif BUMN (RKB).

Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah rancangan Liza Supriyadi yang mengangkat kekayaan wastra (kain) Nusantara. Kecintaan terhadap keindahan alam Indonesia, salah satunya Labuan Bajo, membuat Liza Supriyadi menonjolkan motif batik yang menceritakan alam dalam koleksi Sabda Alam. Desainer yang tergabung dalam APPMI Yogyakarta ini memadukan batik dan tenun dalam koleksi yang anggun.

Saat membuat pola batik, Liza berkolaborasi dengan perajin batik Yogyakarta. “Saya menggunakan batik yang saya desain sendiri. Coraknya dedaunan yang menggambarkan alam, seperti daun jati dan daun lainnya,” kata Liza.

Liza mengggunakan materi bahan sutera ATBM dan sifon. Warna dasar hitam dipilihnya agar warna dedaunan yang didominasi hijau dan oranye, terlihat kuat. Di tangannya, baju muslim tampil glamor dengan motif batik dipadu tenun yang kaya warna, seperti hitam, merah, hijau juga ungu.

 

Mengangkat kekayaan wastra Nusantara, Lentera oleh Hj. Ratu Anita Soviah mengusung tema Back to Nature yang mengeksplorasi kain-kain Palembang dengan pewarnaan alam yang lebih ramah lingkungan. Dalam koleksi modest wear kali ini, desainer ini terinsipirasi oleh pewarnaan alam yang memiliki kesan klasik dan alami. Rancangannya menggunakan kain jumputan dan songket dengan pewarnaan alam yang dipercantik dengan payet-payet etnik. Proses rancangan tersebut memakan waktu sekitar 3 bulan.

Desainer Yanti Adeni melalui label Lumina (artinya bercahaya terang), mengusung koleksi  yang memancarkan aura kecantikan, kebahagiaan, dan keanggunan setiap perempuan yang memakainya bak ending kisah-kisah puteri di negeri dongeng. Melalui proses pengumpulan ide dari gaun bernuansa Victorian, Yanti memberi sentuhan vintage dan klasik, desain cape ala baju adat pernikahan Bangka Belitung – yang merupakan tanah kelahirannya.

Yanti memilih warna-warna lembut yang sejalan dengan keanggunan dan kelembutan hati putri dari negeri dongeng. Menggunakan bahan satin bridal, tulle, chantily lace, organza, bordir, dan beadings, kemudian dihias dengan bordiran untuk menegaskan garis klasik dan hiasan kepala untuk menyempurnakan penampilan putri, Yanti menujukan rancangannya untuk setiap perempuan di acara pernikahan.

Ayashopia, menampilkan busana feminin mengusung warna-warna pastel. Melalui tema La Belle Nuages, desainer ini menonjolkan sisi feminin perempuan dalam gaun terusan dan busana two pieces yang cocok dikenakan di acara istimewa.

Menutup pergelaran, mengangkat tema The Adorable Sparkle, desainer Leny Rafael memilih warna-warna monokrom dan mencerminkan bintang-bintang di langit. Pada koleksi ini, Leny ingin menunjukkan bahwa hitam tidak selalu mengesankan gelap, karena selalu ada cahaya yang bersinar.

Terinspirasi dari fenomena alam senja ke malam, Leny mengaplikasikan brokat dengan manik-manik Swarovski untuk menambah kesan glamor, diperkaya organdi yang telah dibentuk pleats, serta aksesoris mutiara dan bulu-bulu. (*)

 

 

Wardah Sinar dan Pijar, Paduan Elegan Tren Make Up dan Fashion

0
ETU by Restu Anggraini

Jakarta – Paduan elegan tren make up dan fashion bertema Wardah Sinar dan Pijar digelar di Indonesia Fashion Week (IFW) 2018 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Sabtu (31/3). Peragaan melibatkan 8 desainer Indonesia, yaitu Ria Miranda, Barli Asmara, ETU, Zaskia Sungkar, Norma Hauri, Rani Hatta, dan Malik Moestaram.

Peragaan dibuka dengan tampilnya koleksi Rani Hatta yang mengusung tema ‘Hero’. Rani ingin menyampaikan perempuan memiliki kebebasan berpendapat, berekspresi juga membela diri dan bangkit menjadi lebih kuat. Dalam koleksi ini Rani seolah ‘meneriakkan’ ini adalah sebuah gerakan dari perempuan untuk perempuan.

Dalam 12 set outlook, Rani mendandani para model bergaya militer, kasual, dan sporty, lengkap dengan penutup kepala. Warna yang ditampilkan hitam dan putih yang disematkan pada atasan, rok, celana panjang, juga coat dan jaket berbahan wol dan katun.

Melalui tema Gemintang, desainer Zaskia Sungkar menampilkan 12 busana yang menggambarkan bahwa di balik keanggunan dan kecantikan, perempuan juga memiliki jiwa yang kuat dan tegas. Hal ini diterjemahkan Zaskia dalam gaun-gaun feminin namun dengan siluet tegas dan berstruktur. Untuk menambah kesan kuat, ditambahkan detail beads dan aksesoris berbahan metal. Koleksi ini didominasi dengan warna hitam, merah dan perak.

Mengangkat tema Lullatone, Ria Miranda merilis koleksi yang terinspirasi dari seekor angsa, yang memiliki sifat anggun, cantik, dan loyal terhadap pasangannya, namun hewan ini juga memiliki sifat tegas dan agresif terhadap lawannya. Dua sifat tersebut digambarkan menjadi pertemuan dualisme yang menyatu menjadi sebuah komposisi kontras yang harmonis misalnya, terang dan gelap, pure dan kuat, feminine dan maskulin. Dengan kata lain, koleksi Ria berusaha menggambarkan sosok perempuan masa kini.

Kesuraman mendominasi suasana ketika Norma Hauri merilis koleksi bertema Noir yang berarti hitam dalam bahasa Perancis. Mayoritas koleksi serba hitam ini awalnya terinspirasi oleh dua hal yaitu, gambar para janda Italia menggunakan gaun berenda yang memesona di sebuah acara pemakaman dan perjalanan Norma ke Britania Raya musim dingin lalu.

Untuk menangkap  suramnya musim dingin, Norma melakukan perjalanan ke London untuk melihat renda beserta sejarah dan pengunaanya oleh bangsawan kerajaan Eropa. Dia juga tertarik dengan kisah hidup Ratu Victoria dengan gaun hitam simbol berkabungnya Sang Ratu atas kematian suaminya, Pangeran Albert. Sebagai tanda berkabung, Ratu Victoria mengenakan gaun tersebut selama lebih dari 40 tahun. Demi menggali inpirasi lebih dalam, Norma juga berkunjung ke Ediburgh untuk belajar tentang kehidupan Ratu Mary dari Skotlandia yang dahulu dikurung di kerajaannya sendiri.

Norma juga memberikan sentuhan desain yang tajam, terinsipirasi dari busana bangsawan pria serta jaket kulit untuk memperlihatkan sisi sang pemberontak. Disatukan dengan bahan yang tembus pandang dengan renda, memberikan kesan suram dan rentan, sulaman dan gaya baroque ditambah untuk memberikan sentuhan bangsawan.

ETU by Restu Anggraini mengangkat tema Poetic Breeze – bercerita tentang indahnya rasa dalam menyambut musim semi. Dalam koleksinya, busana modest wear dibesut dengan siluet klasik yang memadukan warna alam dan romantisme musim semi yang puitis.

ETU menghadirkan rangkaian rancangan berpakem modest yang terlahir atas hasil eksplorasi tren fashion lintas dekade yang mengedepankan siluet-siluet khas era ’50-an dan ’60-an; dua era dengan kekuatan estetika yang berbeda namun tetap selaras ketika dipadankan. Perbandingan antara siluet ala era ’50-an yang menekankan garis pinggang dipadukan dengan potongan lurus ala era ’60-an terbukti mampu menciptakan tampilan modest yang minimalis, klasik, dan elegan, dengan injeksi nuansa feminin yang bersahaja.

Untuk menunjang koleksinya, ETU menggunakan material maskulin seperti katun, wool-twill dan twill blend dengan motif dan palet bernuansa genderless kemudian memadukannya dengan embellishment yang sarat  kesan feminin sebagai aksen dekoratif yang menjadikan busana berpotongan klasik tampak lebih atraktif.

Desainer Dian Pelangi mempersembahkan  Andewi  yang memiliki makna tumbuh-tumbuhan (bahasa Sansekerta). Melambangkan keindahan floral Indonesia, Andewi terinspirasi dari pedalaman hutan Indonesia yang menyimpan sisi cantik, elegan namun misterius. Hutan Indonesia juga yang menjadi inspirasi palet warna dalam koleksi ini, yaitu hitam, hijau dan warna keemasan.

Potongan dan siluet sedikit mengambil sentuhan Spanyol yang inspirasinya diperoleh saat Dian Pelangi melakukan perjalanan ke negara tersebut. Bordir dan payet yang menjadi aksen pada koleksi ini, tidak terlepas dari inspirasi ukiran dinding di istana kerajaan Cordoba.

Dian menyematkan aksen ruffles yang mempertegas nuansa feminine dan elegansi perempuan Indonesia. Koleksi semi haute couture ini menggunakan kain songket Palembang untuk menunjukkan kultur Indonesia dan ciri khas Dian Pelangi.

Desainer Malik Moestaram melalui tema Peintures Anciennes  menampilkan gaun-gaun feminin yang memukau. Tema ini dilatarbelakangi cerita dan lukisan-lukisan Eropa yang diimplementasikan dalam busana dan detail. Desainer anggota APPMI ini memilih bahan lembut untuk memberikan kesan romantis ditambah dengan paduan pola floral dan permainan warna.

Sebagai penutup show, Barli Asmara menyuguhkan koleksi yang membawa elemen klasik, yaitu potongan gaun dengan renda yang dihiasi motif-motif, sebuah ilusi pakaian yang disertai lipatan berlekuk, diukir bukan diacak, yang terlihat berbeda arah di atas gaunnya.

Dalam koleksi Dazzling, busana-busana yang dihamparkan di runway dihiasi oleh pola jahitan bergaya quasi-ergonomics yang mengelilingi gaun horsehair transparan. Gaun-gaun itu ditampilkan berdasarkan sensualitas, romantisisme, keanggunan, dan detail yang mengejutkan.

Barli mengaku banyak terinspirasi dari era Renaissance, era yang popular dengan figur serta seni yang dramatis, sebuah periode yang terkenal dalam hal ‘memainkan’ bentuk tubuh, baik dalam volume dan kepadatan seorang wanita, dapat dilihat di dalam koleksi ini, mulai varian a-line hingga putri duyung.

Warna yang dipilih Barli memiliki tekstur seperti es, meliputi varian warna perak, lavender, abu-abu, dan biru. Pengunaan pernak pernik menambah kesan mewah serta penambahan renda dan kain tulle memberi dampak dramatis.(*)

 

 

Wardah Sinar dan Pijar, Memadukan Kecantikan dan Keindahan di Panggung Indonesia Fashion Week 2018

0
WARDAH X RIA MIRANDA

Jakarta – Rasanya siapa saja sepakat jika dikatakan industri kecantikan tak bisa dipisahkan dari fashion. Hal ini juga diyakini oleh brand kosmetik Wardah. Melalui program ‘Wardah Fashion Journey’, merek kosmetik asli Indonesia ini memiliki komitmen kuat untuk mendukung industri mode di Tanah Air.

Salah satu cara yang dilakukan untuk mewujudkan komitmen itu adalah menjalin kolaborasi dengan 8 desainer Indonesia, yaitu Ria Miranda, Barli Asmara, ETU, Zaskia Sungkar, Norma Hauri, Rani Hatta, dan Malik Moestaram untuk tampil di ajang Indonesia Fashion Week 2018 di Jakarta Convention Center (JCC), Sabtu (31/3).

Delapan desainer tersebut menampilkan koleksi yang terinspirasi 4 look make-up terbaru, Wardah Sinar dan Pijar, dalam berbagai tema.

Public Relations Wardah Elsa Maharani mengatakan 4 look make-up terbaru yang diluncurkan Wardah tahun ini adalah Percik Jiwa, Emosi Murni, Semu Mimpi, dan Denting Bersemi. Keempat look make-up ini menjadi acuan bagi desainer dalam membuat karya. Masing-masing inspirasi make-up memiliki filosofi dan karakter yang berbeda.

Dalam Percik Jiwa, koleksi busana yang dipersembahkan oleh Rani Hatta berbicara mengenai keberanian wanita urban untuk mengungkapkan suara Hati. Sedangkan Zaskia Sungkar melalui koleksinya menggambarkan keberanian perempuan sebagai kekuatan feminitas.

Ria Miranda menuangkan ide untuk menerjemahkan make-up Emosi Murni melalui koleksi yang menggambarkan dualisme hati wanita yang elegan namun tetap memiliki kekuatan. Untuk inspirasi yang sama, Norma Hauri mencoba untuk mempresentasikan ketegaran hati perempuan.

Sedangkan pada make-up Semu Mimpi, desainer anggota Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Malik Moestaram, mencoba untuk menguak feminitas perempuan. Sementara Barli Asmara menerjemahkan inspirasi ke dalam koleksi yang menggambarkan modernisasi wanita masa kini.

Inspirasi make-up Denting Bersemi dihadirkan oleh Restu Anggraini melalui label ETU, dan Dian Pelangi melalui koleksinya bercerita mengenai langkah maju perempuan menuju masa depan dengan rasa optimistis.

Pergelaran busana kolaborasi Wardah dan 8 desainer ini juga memberikan kejutan dengan menghadirkan sejumlah selebritas berjalan di runway mengenakan busana koleksi para desainer, yaitu Raline Shah, Dewi Sandra, dan Olla Ramlan. (*)

               

Exotic Cultural, Mengulik Keindahan Buton dan Gorontalo

0
JULIETTEART - PESONA BINTANG

Jakarta – Sembilan belas desainer mengisi panggung Exotic Cultural di hari terakhir gelaran Indonesia Fashion Week (IFW) 2018, yang digelar oleh Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) bersama Rumah Kreatif BUMN (RKB) di Jakarta Convention Center (JCC), Minggu (1/4). Masing-masing membawa misi kultural dalam rancangan busananya. Kain-kain tradisi dari Gorontalo dan Buton terlihat mendominasi panggung kali ini.

Risza Novianti melalui brand SAO by Risza Novianty misalnya, memilih tema Tana Wolio yang berarti Tanah Buton, Sulawesi Tenggara, dalam 12 rancangannya. Keindahan dan pesona daratan serta laut pulau Buton menjadi inspirasinya.  Busana dibuat menggunakan material tenun dari Pulau Buton yang ia pilih langsung dari para penenun di pulau itu.

Motif tenun ditata sedemikian rupa sehingga menjadikan busana rancangannya terlihat begitu dinamis. Skirt, blouse, celana, dipadu dengan payet dan bordir yang mempermanis rancangan busana yang menggunakan pewarna alam khas pulau Buton. Desainnya sangat modern dan easy to wear. Risza memadukan rancangannya dengan anting flower modern dan topi rumbai etnik yang cocok dikenakan oleh wanita dewasa muda yang fashionable.   

Sementara Fahmi Hendrawan memilih tema IKIGAI: The Reason You Get Up Every Morning. Ikigai adalah konsep hidup dari Jepang yang menggambarkan keseimbangan dan tujuan hidup. Rancangan Fahmi terinspirasi dari budaya Jepang Golden Temple dengan sentuhan warna emas dan hijau, serta akulturasi budaya Indonesia dan Jepang yang dituangkan dalam bentuk desain, pola, serta potongan yang minimalis tapi tetap elegan. Proses pembuatan memerlukan waktu satu bulan dengan bahan batik tulis dan cap dari Garutan dan kain katun dari Jepang, serta aksesoris tangan dan kepala khas Garutan. Rancangan ini ditargetkan untuk pria urban modern yang elegan dan stylish.

Bukan hanya rancangan busana yang menghiasi panggung kali ini, Kalyana Leather Handbag, tampil dengan tema The Born of Batik Leather Engraved.  Terinspirasi dari budaya Tanah Jawa, tas didominasi warna hitam, marun dan biru navy. Perpaduan motif batik dengan teknik grafir ini membutuhkan waktu 10-15 hari untuk pengerjaan setiap tasnya. Koleksi ini menggunakan bahan kulit premium dari Jawa Timur yang diekspor ke Eropa, Kalyana leather handbag ditujukan untuk perempuan usia 24-45 tahun yang aktif, dinamis, berwawasan luas, dan cinta budaya Indonesia.

Agus Lahinta dengan tema rancangan Karawo Ethnicity JAGO atau Jawa Gorontalo, dilatarbelakangi oleh kain sulaman karawo Gorontalo yang ditampilkan modern dalam busana formil dan kasual untuk pria. Terinspirasi dari keindahan Candi Borobudur, Agus ingin menggabungkan Borobudur beserta stupa dan patung Budha, dipadukan dengan relief-relief dan dituangkan dalam motif sulaman khas Gorontalo, karawo. Ditujukan untuk pria dewasa yang berjiwa muda, Agus menggunakan materi kain sulaman serta kain linen dan benang pada sulaman.

Di peragaan ini, Sekolah Mode Imelda Sparks menampilkan tiga desainer, Rizki Maharani, Novi Gussanty Mattes, dan Sharrona Valenzka yang memilih Identik, Indonesia Denim Etnik. Koleksinya memadukan denim  dan kain tradisi Indonesia. Menjadi busana bergaya muda namun sarat dengan kesan etnik.

Desainer lain yang mengisi panggung Exotic Cultural adalah Julietteart, Yurita Puji yang juga menampilkan kain dari Gorontalo, Onetwoo by Herman Prasetyo, Nunu Datau juga dengan kain Gorontalo, Amir Malik, Universitas Kristen Maranatha menampilkan 6 desainer muda  Tia Erlinawati, Hana Agnes Melysa Sianturi, Lenny Andriani, Sonya Widianysfara Purba,  Cecilia Agata Purnama, dan Andriarni Putri Permana.  Amir Malik dengan kain-kain tenun Buton mengambil tema Keraton Buton, serta San Soko dengan Bidimensionnel.(*)

               

Kulturtama, Meramu Budaya Indonesia Menjadi Busana Pria

0
Jajaka x Ivan Gunawan

Jakarta – Kekayaan budaya Indonesia menjadi inspirasi yang tak akan pernah habis digali untuk sebuah koleksi fashion. Mengeksplorasi kekayaan budaya Indonesia, Indonesia Fashion Week (IFW) 2018 menggelar peragaan bertajuk Kulturtama di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Sabtu (31/3).

Peragaan ini menampilkan 6 perancang busana, di antaranya Ivan Gunawan, Abee x Ariy Arka, Danny Satriadi, dan Rani Hatta. Mereka menghadirkan koleksi busana pria dan busana unisex yang bisa dipakai oleh pria dan wanita.

Label Jajaka x Ivan Gunawan kental dengan nafas army look. Warna yang mendominasi koleksi Jajaka x Ivan Gunawan kali ini bernuansa hijau dan cokelat. Untuk motif, Ivan sengaja mendominasi dengan motif army. “Dengan penggunaan motif ini serta permainan warna dan kombinasi, busana batik menjadi terkesan lebih chic dan dapat dipakai sehari-hari,” beber Ivan yang tetap menggunakan sentuhan tradisional untuk label ini.

Koleksi ready-to-wear yang 90 persen dipersembahkan untuk pria ini terdiri dari jaket, sweater, celana, dan busana kasual lainnya. Untuk mengutamakan kenyamanan, bahan yang dipilih adalah katun.  Selain busana, Ivan juga mendandani model dengan aksesoris tas untuk menyempurnakan penampilan.

Label Abee x Ariy Arka memilih warna burgundi, hijau army, dan cokelat sebagai warna yang mendominasi koleksi ini. Inspirasi warna untuk koleksi ini diambil dari tanaman dan hewan yang hidup di bawah laut.

Koleksi ready to wear ini lebih fokus ke busana pria. “Saya tampilkan 12 set busana pria yang terinspirasi dari keindahan bawah laut Indonesia,” ujar Ariy.

Ia memilih tentakel, hewan tanpa tulang belakang yang menyimbolkan fleksibilitas. Busana bisa dikenakan dalam segala suasana. Untuk bahan, Ariy Arka menggunakan kombinasi wol dan linen. Koleksi ini terdiri dari jaket, long coat, harem pants, dan lain-lain. Semua busana bergaya street style ini terlihat sangat detail dengan penggunaan bordir dan sulam tangan dengan motif bawah laut.

Danny Satriadi melalui label Arkamaya menampilkan motif gajah. Motif ini sengaja dipilih karena menyimbolkan keberanian dan sesuatu yang kuat. “Untuk koleksi ready-to-wear ini, saya pilih bahan yang nyaman digunakan sehari-hari di Indonesia dengan cuaca yang cenderung panas, yaitu katun dan linen,” ujarnya.

Desainer ini menambahkan,  simbol gajah diadaptasikan ke dalam lurik Jawa yang diolah menjadi busana modern. “Gayanya padu-padan. Dalam satu look bisa terdiri dari dua hingga tiga potong pakaian agar terlihat sedikit heavy. Namun cukup membeli 1 potong busana saja, tidak perlu look keseluruhan untuk bisa tampil gaya karena konsepnya memang mix and match,” jelas Danny.

Koleksi ini menampilkan busana wanita dan  pria yang terdiri dari atasan, bawahan, dress, vest, dan outerwear lainnya. Padu padan yang pas membuat koleksi ini dapat dipilih untuk gaya busana kantor dan acara formal pada malam hari.

Sementara label Hattaco by Rani Hatta terinspirasi dari pakaian olahraga yang simpel, mudah dipadupadankan. “Dari 12 set busana yang ditampilkan, saya sengaja membuatnya unisex, bisa dipakai pria dan wanita. Dapat dikenakan di segala usia,” kata Rani.

Koleksi ini didominasi oleh warna hitam, putih, dan abu-abu yang mudah dipadupadankan. Sedangkan untuk bahan busana, desainer ini menunjukan kreativitasnya dengan penggunaan beragam pilihan bahan seperti cotton combed, french terry, fleece dan polyester. Melalui koleksinya, Rani ingin membuktikan bahwa brand lokal dengan produk yang terjangkau juga mampu bersaing secara kualitas dengan produk global.

Chief Operating Officer Tokopedia Melissa Siska Juminto mengatakan, kolaborasi dengan desainer fashion Indonesia merupakan salah satu upaya pemerataan ekonomi digital. “Tokopedia senang mendorong kreator lokal untuk berkembang dengan menciptakan ekosistem fashion agar bisnis mereka lebih maju,” ujar Melissa.

Dia menambahkan, keragaman budaya adalah salah satu elemen utama yang memberikan identitas unik pada industri fashion Indonesia. “Tokopedia percaya bahwa dengan ekosistem yang tepat, pengembangan industri fashion berbasis kebudayaan lokal berpotensi besar menjadi penggerak ekonomi nasional,” tandasnya.(*)

 

 

 

Kulturtama, Kolaborasi Memikat Desainer dan Tokopedia Majukan Fashion Indonesia

0
KULTURTAMA

Jakarta – Salah satu yang paling dinantikan dalam perhelatan Indonesia Fashion Week (IFW) 2018 adalah kolaborasi Tokopedia dengan 6 label desainer dalam koleksi eksklusif bertajuk Kulturtama. Koleksi diperagakan di hari keempat IFW 2018 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Sabtu (31/3).

Mengusung tema Kulturtama, para desainer dengan enam label fashion ini merefleksikan budaya Indonesia dalam karya terbaru mereka yang akan mewarnai perkembangan fashion Indonesia tahun ini. Enam desainer berbakat tersebut adalah  Amanda Rahardjo, Hattaco by Rani Hatta, Arkamaya by Danny Satriadi, Jajaka X Ivan Gunawan, dan Abee X Ariy Arka dan X-P label (karya kolaborasi dari Rudy Chandra, Nita Seno Adji, dan Yulia Fandy).

Pergelaran dibuka dengan tampilnya koleksi Amanda Rahardjo, desainer yang memiliki konsep unik dan tidak biasa dalam menciptakan rancangan. Amanda dikenal piawai dalam ‘menyulap’ tampilan mewah menjadi nyaman dikenakan di mana saja. Karya jebolan sekolah fashion RMIT University, Melbourne, Australia ini boleh dikata mendunia.

Koleksi Amanda kali ini terinspirasi dari latar batik Nusantara. ‘Ternyata ada bagian dari latar batik antik yang modern, misalnya bentuk heksagonal,” kata Amanda.

Nuansa warna hijau mendominasi karya Amanda yang menjadi bagian dari koleksi eksklusif Kulturtama. Dibandingkan dengan koleksi-koleksi sebelumnya yang memiliki potongan lebih tegas, untuk koleksi kali ini Amanda memilih potongan yang lebih fluid. Busana yang dapat dibeli melalui Tokopedia ini menawarkan beragam variasi, mulai dari atasan, bawahan, dress, hingga outerwear.

Hal lain yang menarik perhatian dari koleksi 12 set busana ini adalah penggunaan kain yang tidak biasa, yaitu kanvas untuk atasan dan bawahan. ‘Saya padukan dengan print berbentuk bunga tulip dan pisang-pisangan yang dibuat khusus untuk koleksi ini,” imbuhnya.

Tiga desainer Rudy Chandra, Yulia Fandy, dan Nita Seno Adjie berkolaborasi dalam X-P Label.  Dalam projek ini, tiga desainer berusaha keluar dari gaya yang sudah dikenal oleh publik selama ini. Sesuai dengan tema bertajuk Alter-Ego, malam ini Rudy, Yulia, dan Nita membuktikan bahwa mereka mampu menaklukkan ego masing-masing dan bermetamorfosis menjadi kreator yang dapat melebur dalam dinamika industri mode Indonesia.

Ketiganya  menampilkan karya yang lebih ringan kasual dan fashionable dengan dominasi hijau, putih, hitam, dan nude pada beberapa material, seperti katun dan gabardine.  “Ini semacam proyek percontohan untuk teman-teman APPMI untuk bisa gabung di Tokopedia,” kata Rudy.

Kolaborasi yang diciptakan tiga desainer ini mudah dipadupadankan. “Misalnya outer dari saya, tapi bawahan bisa dari Nita,” imbuhnya. Ketiganya sengaja menciptakan busana dengan warna modern yang cocok dikenakan oleh perempuan karir. “Busana ini berdaya pakai,” jelas Rudy.                                        

Chief Operating Officer Tokopedia Melissa Siska Juminto mengatakan, kolaborasi dengan desainer fashion Indonesia merupakan salah satu upaya pemerataan ekonomi digital. “Tokopedia senang mendorong kreator lokal untuk berkembang dengan menciptakan ekosistem fashion agar bisnis mereka lebih maju,” ujar Melissa.

Dia menambahkan, keragaman budaya adalah salah satu elemen utama yang memberikan identitas unik pada industri fashion Indonesia. “Tokopedia percaya bahwa dengan ekosistem yang tepat, pengembangan industri fashion berbasis kebudayaan lokal berpotensi besar menjadi penggerak ekonomi nasional,” tandasnya.(*)

 

Peaceful Dream, Merajut Mimpi dalam Kreasi Menawan Wastra Nusantara

0
NINA NUGROHO BY DEKRANASDA DELI SERDANG "Technoculture"

Jakarta – Bukan semata penutup tubuh, ada mimpi dan harapan dalam selembar kain (wastra) Nusantara. Mimpi dan harapan itu dirajut dalam peragaan busana bertajuk Peaceful Dream yang digelar di hari keempat Indonesia Fashion Week (IFW) 2018 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Sabtu (31/3).

Sebanyak 11 desainer, yaitu Nina Nugroho, Nieta Hidayani, Dwi Lestari Kartika, Ayou Mizzura by Wahyu Mukhtar, Ayasophia, Liza Supriyadi, Neetas by Neeta Sagar Vasandani, Motifhawa by Pipit Pramudia,  Lumina by Yanti Adeni, Lentera by Hj. Ratu Anita Soviah, dan Leny Rafael menampilkan beragam karya di perhelatan fashion akbar yang diselenggarakan oleh Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) bersama Rumah Kreatif BUMN (RKB).

Peragaan dibuka dengan penampilan karya Nina Nugroho by Dekranasda Deli Serdang. Kali ini, Nina menampilkan koleksi busana songket yang diterjemahkan dalam busana three pieces, berupa dalaman, outer, dan bawahan rok panjang atau celana panjang. Dengan berani, desainer yang mengusung tema Technoculture ini menggunakan unsur warna-warna bold seperti kuning, merah, hijau, biru, lengkap dengan penutup kepala yang dibentuk seperti pita. Nina mendandani model dengan tas-tas etnik yang juga terbuat dari materi songket.

Selanjutnya, Nieta Hidayani memilih warna dominan biru, juga hijau muda dalam koleksi busana yang mengusung tema Sense of Donggala. Desainer ini mengeksplorasi kain tenun Donggala, Sulawesi Tengah, menjadi busana muslim yang bisa dipakai di segala suasana.

Donggala memiliki tenun khas, yang telah ada sejak ratusan tahun silam. Kain yang dibuat dari mesin tenun sederhana itu memiliki motif beragam, antara lain motif bunga mawar, bunga anyelir, dan bunga subi. Di tangan Nieta, kain tenun itu dibuat celana panjang berserut, juga outer dengan ekor menjuntai yang cocok dikenakan saat acara formal.

Mengusung Peafowl, desainer Dwi Lestari Kartika menampilkan gaun muslim yang girly dengan hiasan manik dan payet yang mengesankan mewah.  Selain menambahkan bebatuan dan payet, Dwi memilih warna pastel dan memberikan aksen ruffle pada sejumlah gaun yang menguatkan kesan feminin.

Wahyu Mukhtar melalui label AyoU Mizzura mengusung tema Minang Etnik yang tampil mewah. Keberagaman kain Nusantara, serta keistimewaan dan keunikan Minangkabau yang indah, menjadi alasan untuk memilih tema tersebut. Melalui karyanya, Wahyu ingin khalayak  tahu bahwa Minang memiliki wastra yang indah. Bahan yang digunakan untuk rancangannya antara lain bahan beludru, batik, dan sutra yang dikombinasi dengan renda dan diperindah mote-mote serta batu-batu swarovski dan payet.

Warna-warna sunset yang begitu indah dan menyejukkan hati, membuat Neeta Sagar Vasandani memilih tema Romantic Sunset. Koleksi Neetas by Neeta Sagar terinspirasi dari pernikahan-pernikahan yang diadakan dengan latar tepi pantai dan mengambil momen saat matahari terbenam.

Sorotan dalam rancangan ini adalah seorang perempuan cantik yang menunggu sang kekasih pada sore yang indah di tepi pantai. Neeta menggunakan bahan organza, satin, sifon, dan tulle yang dipadukan dengan aksesoris mutiara, bunga aplikasi, juga batu kristal.

Melalui The Passionate of Black Marble, Motif Hawa by Pipit Pramudia, menampilkan koleksi terbaru yang terinspirasi oleh bongkahan batu marmer dan gaya di era Victorian. Pipit mengangkat dan mengeksplorasi motif marmer karena terpesona dengan kecantikan motif marmer yang cocok untuk karakter perempuan yang berwibawa dan berkarakter tegas namun tetap terlihat cantik dan elegan.

Proses pembuatan 12 koleksi yang terbuat dari satin silk dan kain tulle ini memakan waktu satu bulan dengan teknik cetak digital yang motifnya didesain sendiri. Koleksi tersebut makin menawan dipadukan dengan kristal untuk menambah kesan mewah dan elegan.(*)

 

 

 

 

 

Archipelago X Kopikkon, Kolaborasi Cantik Bekraf di IFW 2018

0
A JOURNEY BY NOLA MARTA X PERAJIN NEGERI KRATON

Jakarta – Indahnya hamparan kepulauan Indonesia bagaikan mutu manikam yang terserak. Masing-masing memancarkan warna dan kilaunya. Keindahan kepulauan itu terangkum dalam peragaan busana bertajuk Archipelago X Kopikkon yang dipersembahkan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Indonesia di Indonesia Fashion Week (IFW) 2018, di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Sabtu (31/3).

“Konsep Archipelago X berlatar belakang dari  ‘X’ berarti 10 wilayah binaan KOPIKKON (Koperasi Karya IKKON Bersama) dan ‘X’ berarti kolaborasi yang menjadi ruh dalam karya-karya yang dihasilkan oleh para pelaku kreatif anggota KOPIKKON,” kata Deputi Pemasaran Badan Ekonomi Kreatif (BekrafJoshua Puji Mulia Simandjuntak saat jumpa pers.

Pada peragaan ini, sebanyak 15 desainer fashion yang tergabung dalam KOPIKKON  menunjukkan hasil kolaborasinya dengan perajin-perajin di 10 Kabupaten/Kota di Indonesia yang menjadi binaan Bekraf dan KOPIKKON. Sepuluh kota tersebut yaitu Brebes, Rembang, Pesawaran, Sawahlunto, Ngada, Banyuwangi, Banjarmasin, Bojonegoro, Belu, dan Toraja Utara.

Daerah tersebut disebut daerah IKKON, yang terdiri atas koleksi kolaborasi fesyen yakni IKKON Belu: Makaas of Belu ( Lia Chandra), IKKON Ngada: Wae Ghole ( Savira Raswari & Sofia Sari Dewi), IKKON Toraja: Kurreka (Bunga Laras & Umu Khanifa), IKKON Banyuwangi: Di Balik Banyuwangi ( Amanda Rahmadhani & Angelita Nurhadi), IKKON Bojonegoro: Coklatan ( Putu Padmi & Anisa Fauziah), IKKON Banjarmasin: Halomasin ( Santika Syaravina & Yuri Alfa Centauri), IKKON Rembang: Sekar Nagari ( Alyza Bachmid), IKKON Brebes: The Sparkling of Nature ( Hanifa Ramadhanti), IKKON Pesawaran: Juluk Adok ( Gugus Riyono & Nola Marta), dan IKKON Sawahlunto: Basamo ( Alvinska Octaviana & Bunga Natasya).

Para desainer juga berkolaborasi dengan perajin di  lima daerah, yakni Ngada (NTT), Brebes (Jawa Tengah), Pesawaran (Lampung), Rembang (Jawa Tengah), dan Sawahlunto (Sumatera Barat).  

Seperti apa koleksi mereka? Simaklah, karya pertama hadir dari koleksi bertema Urban TransforMANU oleh Live in ManuManu by Sofia Sari yang berkolaborasi dengan perajin tenun Indigo Ikat Langa Ngada, NTT. Koleksi ini terinspirasi dari para sosialita dan pelaku kreatif dengan desain multifungsi untuk kegiatan day and night. Koleksi ini sangat eye catching karena memadukan tenun berwarna biru dari pewarna alam tanaman indigo dengan bahan polos kuning dan oranye terang.

 

Selanjutnya persembahan Rising Salem by Hanifa Ramadhanti x SylvieRomy ft. Mahestri yang berkolaborasi dengan perajin Salam Salem dari Brebes, Jawa Tengah. Koleksinya menghadirkan citra Salem yang indah, agamis, dan lekat dengan alam melalui koleksi modest fashion, Rising Salem. SylvieRomy MathArt+Design memperkenalkan Islamic geometric design kepada perajin batik Salam Salem, juga mengembangkan motif Salem Mahestri yang diangkat dari kearifan lokal dan inspirasi alam di Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

A Journey adalah karya persembahan Nola Marta yang berkolaborasi dengan perajin tenun tapis Negeri Katon di Kabupaten Pesawaran, Lampung. Karya yang tercipta merupakan gabungan ketidaksempurnaan buatan tangan manusia dan keindahan yang lahir dari ketidaksempurnaan tersebut. Koleksi yang mengaplikasikan tenunan tapis Lampung ini memiliki look modern. Tenunan tapis dari benang emas cukup diaplikasikan di ujung lengan, dada, atau garis zigzag di bagian punggung  sebuah dress.

Karya berikutnya hadir dari koleksi SĀN persembahanTalkinRhy by Rhy Surya yang berkolaborasi dengan Batik Pusaka Beruang. Koleksi ini terinspirasi oleh kemegahan batik khas Rembang, Jawa Tengah.

Side by Side merupakan persembahan karya kolaborasi anggota KOPIKKON Hanifa Ramadhanti, SylvieRomy, Mera Mera Studio by Amanda Rahmadhani, Sugeng Untung, Alvinska Octaviana dengan perajin-perajin di bawah binaan KOPINKRA Sawahlunto, Sumatera Barat. Koleksinya mengangkat keindahan tenun Silungkang yang terinspirasi oleh keindahan alam dan keuletan para perajin tenun di Sawahlunto, Sumatera Barat.(*)

 

 

Eloknya Tenun Nusa Tenggara pada Koleksi Busana Pria

0
busana pria yang terinspirasi dari keindahan alam, budaya, tenun, dan adat istiadat Labuan Bajo

Jakarta-Eloknya tenun tradisional daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT) serta keindahan Labuan Bajo, menjadi inspirasi kuat bagi desainer-desainer APPMI di perhelatan Indonesia Fashion Week (IFW) 2108 yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, pada 28 Maret-1 April 2018. Di hari ketiga IFW 2018 yang digelar pada Jumat (30/3), sejumlah desainer menggelar koleksi busana pria pada show bertema The Heritage of Ancient Komodo.

Sekitar 20-an set busana pria yang terinspirasi dari keindahan alam, budaya, tenun, dan adat istiadat Labuan Bajo, dipersembahkan oleh Ai Syarif melalui labelnya, Ai Syarif 1965. Ia memadukan sedikit unsur gaya busana Tibet dalam siluet koleksi, menghasilkan tampilan setelan semi formal yang fitted, minimalis, dengan kain tenun Manggarai sebagai aksen maupun corak utama tampilan. Melalui koleksi yang menggunakan bahan tenun Manggarai, linen, katun, dan wool, Ai Syarif ingin menunjukkan bahwa budaya asli Labuan Bajo bisa diaplikasikan menjadi busana modern.

Perancang dan konsultan desain Sonny Muchlison membuat koleksi busana pria dengan material yang merupakan perpaduan bahan tenun, tenun ikat NTT dari Sumba, Maumere, Manggarai, Flores, dan Langsa Timor. Sonny Muchlison mengangkat tema Cosmonic atau Cosmopolitan Etnic. Terinspirasi dari lanskap alam Labuan Bajo yang indah dan berwarna, Sonny juga memadukan wastra dari Indonesia Timur tersebut dengan aneka tenun dari daerah lainnya, seperti tenun gedog, linen, tenun kombinasi ikat, songket benang linen, dan katun twill don. Kain etnik yang diolah dengan tampilan gaya pria kosmopolitan dilengkapi pula dengan aksesoris kayu-kayuan.

Koleksi busana pria dengan gaya yang berbeda ditunjukkan oleh Dana melalui labelnya Priya by Dana. Busana berpotongan slouchy, relaxed fit, casual, dan lounge menjadi karakter Dana yang kali ini menggunakan bahan tenun NTT dengan kombinasi warna-warni yang sangat harmonis. Desain celana bergaya slouchy dan relaxed seperti jodhpur dan dropwaist menjadi salah satu elemen kuatnya. Dana dengan sempurna menangkap gaya resort atau leisure yang menjadi daya tarik Labuan Bajo.(*)

 

 

Mengabadikan Pesona Labuan Bajo Melalui Wastra

0
AI SYARIF 1965

Jakarta-Di ujung paling barat Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Labuan Bajo semula merupakan sebuah kota nelayan kecil. Kini, kota itu berkembang menjadi destinasi wisata unggulan Indonesia, yang segera saja menarik minat banyak wisatawan datang tak henti-henti. Kota ini juga merupakan pintu masuk menuju Taman Nasional Komodo, satu-satunya di dunia, dan juga gugusan kepulauan indah yang mencakup 80 pulau.

Selain karena keindahannya,   Labuan Bajo dan daerah sekitarnya pun memiliki potensi budaya, kain nusantara yang sangat eksotis, dan keunikannya memikat setiap mata. Kemasyhuran Labuan Bajo ini diangkat sebagai salah satu sorotan, dalam perhelatan Indonesia Fashion Week (IFW) 2018 yang digelar oleh Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) dan Rumah Kreatif BUMN (RKB) di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada 28 Maret-1 April 2018.  

Peragaan busana bertema The Heritage of Ancient Komodo menjadi wujud pengakuan keistimewaan Labuan Bajo. Sebanyak 9 desainer Indonesia mempresentasikan koleksi busananya di panggung utama IFW 2018 di hari ketiga.

Persembahan pembuka dari label utama Itang Yunasz, desainer senior yang berdedikasi terhadap wastra Indonesia. Bertema Tribalux-Sumba, Itang menyuguhkan deretan busana modest wear deluxe dengan material tenun ikat Nusa Tenggara dan helai kain chiffon yang di-print serupa motif khas Sumba. Corak tenun Sumba yang penuh pesona, ditambah dengan ornamentasi taburan beads menjadi kekuatan koleksi ini.

Kain tenun NTT bisa sangat wearable seperti yang diperlihatkan pada koleksi Coenrad by Kunce. Tenun NTT sebagai bawahan berupa celana slim-fit, dan rok dipadukan dengan material lace (brokat) berwarna putih yang dominan, menjadikan tampilan yang sangat ringan, simpel, dan kontemporer.

Kain ikat NTT yang dominan bermotif vertikal, sangat apik diolah oleh Vicky Soetono dengan siluet klasik, seperti sackdress dan bustier dress, yang memang menjadi karakter sang desainer. Paduannya? Detail bordir bunga, cukup membuat koleksi ini bisa menjadi pilihan bagi para penyuka gaya klasik dan timeless.

Koleksi selanjutnya berjudul Rona dari Timur karya desainer Naniek Rachmat. Koleksi modest wear ini menggambarkan nuansa beragam warna dan corak kain NTT, yang biasanya identik dengan warna gelap.

Dan sebagai penutup adalah koleksi dari desainer senior, Agnes Budisurya dalam Warisan. Agnes seolah ingin mengingatkan, bahwa unsur wastra yang bisa diangkat dari daerah NTT, tidak hanya dengan mengolah kain tenunnya menjadi busana. Corak khas Nusa Tenggara bisa pula diwujudkan melalui teknik bordir, batik, dan bahkan lukisan kain, ciri khas dan karakter yang telah ditekuninya selama bertahun-tahun.

Agnes ingin memberdayakan, memadupadankan berbagai karya anak bangsa untuk saling menguatkan dan maju bersama menjelajah dunia. Dalam proses pembuatannya, Agnes menyematkan padanan tusukan vertikal jarum mengikuti alur garis-garis tenun yang menampilkan bentukan dinamis tenun ikat, di atas bidang bercorak klasik dari batik Jawa, yang kemudian diselaraskan dengan sapuan cat dan kuas lukis.

Dengan perpaduan antara berbagai unsur hasil tangan karya budaya, rancangan Agnes terbuat dari materi tenun, batik, dan cat lukis, serta dipadukan dengan aksesoris yang dibuat dari potongan-potongan tenun dan batik. Rancangan ini ditujukan untuk para wanita yang percaya diri dan ingin melestarikan budaya bangsa.(*)

 

 

Indonesia Fashion Model Competition Mencari Model Profesional di IFW 2018

0
Indonesia Fashion Model Competition 2018

Jakarta- Model merupakan profesi yang sangat menjanjikan. Di Indonesia, khususnya Jakarta, hampir setiap minggu digelar peragaan busana oleh sejumlah perancang busana dan brand. Belum lagi perhelatan mode, macam Indonesia Fashion Week (IFW), Jakarta Fashion Week (JFW), dan beberapa lainnya.

Profesi ini menjadi perhatian bagi IFW, perhelatan pekan mode terbesar di Indonesia yang digelar oleh Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI).  Pada IFW 2018, APPMI berkolaborasi dengan Rumah Kreatif BUMN (RKB) untuk menggelar pekan mode ini. Hal ini lah yang melatarbelakangi digelarnya Indonesia Fashion Model Competition (IFMC) di IFW 2018.

Presiden IFW sekaligus Presiden APPMI, Poppy Dharsono menceritakan, kepedulian IFW pada profesi ini sudah berlangsung di tahun-tahun sebelumnya. Melalui kompetisi model yang digelar pihak lain, IFW memberikan slot tempat dan waktu. “Tahun-tahun sebelumnya, ada pihak lain yang menggelar kompetisi model. Sayang, tahun ini tidak ada kabar dari pihak tersebut. Akhirnya kami menggelar sendiri kompetisi model. Bukan karena kami ingin memiliki, tetapi kebutuhan model untuk IFW memang besar dan untuk regenerasi supaya model di IFW tidak dia lagi dia lagi,” kata Poppy.

Kompetisi IFMC 2018 didukung oleh Academy Koefia dan Fashion Legacy. Academy Koefia menyediakan juri sekaligus busana yang dikenakan para finalis IFMC pada sesi peragaan dan penjurian final di IFW 2018, Jumat (30/3). Sedangkan Fashion Legacy di bawah Lippo Mall Kemang, menyediakan tempat audisi model.

IFMC 2018 diikuti oleh 100 peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. “Dari 100 peserta, akhirnya kami pilih 24 finalis pria dan 24 finalis wanita. Semuanya sangat bagus, tetapi kami pilih tiga pemenang saja, yaitu kategori the best model untuk pria dan wanita, model paling fotogenik untuk pria dan wanita, dan model terfavorit untuk pria dan wanita,” kata Musa Widyatmodjo, juri IFMC 2018.

Akhirnya, dewan juri pun memilih Vebiantri Hananto dan Iqbal Muzaki sebagai the best model. “Saya datang dari Malang, saya tahu kompetisi ini dari agency saya. Saya harap dengan kemenangan ini dapat meningkatkan karir saya sebagai model profesional,” kata Iqbal.

Senada dengan Iqbal, Vebiantri Hananto asal Tangerang, sangat gembira dengan kemenangan ini. “Saya menapaki profesi ini dari bawah, step by step saya jalani. Ketika teman sesama model memberi tahu ada kompetisi ini, saya semangat mengikuti dan gak menyangka bisa menang,” kata Vebiantri.(*)

Kolaborasi IFW dan Academy Koefia Italia Berdiplomasi lewat Fashion

0
LA STRADA / A DENIM STORY

Jakarta – Lebih dari statement diri, Fashion juga bisa menjadi sebuah alat diplomasi bagi dua negara. Melalui fashion Indonesia dan Italia, kini sedang giat mengakrabkan diri. Kedua negara ini berkolaborasi dalam pekan mode terbesar di Indonesia, Indonesia Fashion Week (IFW) 2018, yang digelar oleh Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), pada 28 Maret-1 April 2018 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta.

Italia, diwakili oleh Academy Koefia, sudah lima tahun ini mendukung IFW dengan memberikan beasiswa belajar mendesain di Academy Koefia Italia bagi pemenang Indonesia Fashion Designer Competition. Pada IFW 2018, dukungan juga diberikan dalam bentuk koleksi busana rancangan profesor di Academy Koefia. Koleksi tersebut diperagakan oleh para finalis Indonesia Fashion Model Competition (IFMC) di acara final yang digelar IFW 2018 di JCC, Jumat (30/3). Sebanyak 24 koleksi berbahan denim, diperagakan dan menjadi salah satu pertimbangan para juri memilih pemenang. Salah satu juri kompetisi juga merupakan perwakilan dari Koefia.

“Fashion bisa menjadi alat diplomasi bagi dua negara. Sudah lima tahun ini, Academy Koefia dari Italia mendukung IFW dengan memberikan beasiswa bagi pemenang kompetisi desainer, dan tahun ini Koefia juga mendukung dengan koleksi rancangannya untuk diperagakan di kompetisi model Indonesia Fashion Model Competition,” kata Presiden IFW 2018 sekaligus Presiden APPMI, Poppy Dharsono saat jumpa pers, Jumat (30/3).

Bianca Lami, perwakilan dari Academy Koefia menjelaskan, Academy Koefia, yang merupakan sekolah mode tertua di Italia, sangat bangga bisa mendukung perhelatan mode terbesar ini. “Kami senang mendukung IFW. Selain IFW, kami juga mendukung acara fashion week dunia, seperti di Los Angeles, Beijing, India, dan Turki,” ungkap Bianca.

Lewat kolaborasi ini, lanjut Bianca, Koefia berbagi ilmu dan pengalaman dengan para desainer Indonesia. Seperti diketahui, sebagai akademi mode tertua di Italia, Koefia sudah mencetak sejumlah desainer terkenal dunia, seperti Dolce n Gabbana dan Ferragmo. “Akademi kami memiliki tiga program pendidikan yaitu Alta Moda yang mengkhususkan pada keahlian hand made, Pret e Portez untuk busana semi ekslusif, dan program CAD yang mengkhususkan pada busana industri,” jelas Bianca.

Menurut Bianca, potensi Indonesia di bidang mode sangatlah besar. “Indonesia punya latar belakang sejarah yang menarik dan beragam, ada banyak budaya dan tradisi, pilihan mode mulai klasik hingga muslim, keahlian di craft yang kini kembali menjadi tren dunia, dan para desainernya memiliki cara pandang yang jauh ke depan. Ini keunggulan yang dimiliki Indonesia sehingga saya yakin industri fashion di Indonesia bisa maju,” kata Bianca memuji.

Hanya saja, pesan Bianca, untuk bisa melangkah ke internasional, desianer Indonesia harus bersatu. “Harus ada yang mengorganisasi untuk bisa bersama-sama maju mempromosikan produk fashion Indonesia ke internasional,” tandas Bianca.(*)

 

Faith and Beauty Memaknai Keindahan dalam Ketakwaan

0
ALLEA BY ITANG YUNASZ

Jakarta- Keindahan dunia seyogyanya membuat manusia semakin takwa kepada Sang Pencipta. Setidaknya pesan itulah yang tersirat dalam peragaan busana bertema Faith & Beauty yang digelar di hari ketiga Indonesia Fashion Week (IFW) 2018 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Jumat (30/3). Sebanyak 12 desainer menampilkan koleksi dengan look cantik,  feminin, longgar, dan menutup tubuh, dalam peragaan berdurasi sekitar 1 jam.

Kedua belas desainer adalah Itang Yunasz, Sunita Asmara, Aripin Roni, Novita Sari,  Zura Zarine, Dini Fitriyah, Dian Hendra, Lily Mariasari, Titi Arief, dan Zasa. Peragaan dibuka dengan busana bergaya muda koleksi Allea by Itang Yunasz. Bagi Itang, koleksinya ini benar-benar fresh, dan beda dibanding brand sebelumnya, Kamilaa. Bila Kamilaa lebih mature, Allea berjiwa muda. Potongan celana, kulot, rok, dipadu dengan blus bergaya blazer dan coat.  Pilihan corak garis dan kotak dalam gradasi warna biru muda, abu, dan krem, membuat Allea terlihat sangat berjiwa muda.

Gaya maskulin menjadi pilihan Titi Arief. Titi memadukan celana dan kulot dengan atasan bergaya blazer, coat, dan jaket dalam gradasi warna-warna pastel, seperti abu, krem, dan salem. Juga ada overall. Semua koleksi dipadu topi hitam yang makin mengentalkan kesan maskulin.

Selain Itang dan Titi Arif, mayoritas  lainnya menghamparkan busana syar’i yang feminin. Zura Zarine mengusung tema Bloom Garden, kental dengan warna pastel yang lembut, mulai ungu muda, salem, coklat, putih, biru muda, dan hijau. Zura juga mengombinasikan bahan polos dengan corak bunga. Koleksinya berupa dress panjang dengan kerudung menjuntai membuat pemakainya terlihat cantik dan feminin. Lucunya, setiap model memeragakan gaun bersama model cilik yang mengenakan busana sama. Sangat manis.

Sedikit berbeda adalah koleksi Elemwe by Lily Mariasari. Lewat tema Flamboyan, Lily mengusung batik Betawi bercorak bunga flamboyan. “Flamboyan adalah salah satu floral khas Betawi yang kini sudah mulai langka. Padahal, manfaatnya untuk menyerap polusi dan melindungi dari terik matahari, bunganya pun sangat indah,” kata Lily menjelaskan usai peragaan.

Koleksinya berupa kulot, tunik, dan dress panjang, dibuat dari bahan polos warna hitam yang kemudian dibatik dengan corak flamboyan di beberapa sisi saja. “Saya pilh warna hitam untuk menegaskan warna bunga-bunga flamboyan yang didominasi warna merah dan kuning,” kata Lily.

Sunita Asmara, cukup berani memadukan warna. Koleksi busana syar’i-nya dibuat dengan paduan warna kuning dan hitam serta motif abstrak. Peragaan ditutup oleh koleksi bertema Royal Garden dari label Rumaisha by Zasa. Koleksi cantik bak princess itu bertabur bunga-bunga. Selain warna putih, Zasa juga memilih warna hitam untuk koleksinya.(*)

Batik, Lurik, dan Kemegahan Borobudur

0
HASIL RANCANGAN HARRY IBRAHIM DENGAN THEMA NIRVANA

Jakarta- Magnificent Borobudur. Tema ini diusung dalam pergelaran fashion parade di Indonesia Fashion Week (IFW) 2018 yang digelar oleh Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APMMI) berkolaborasi dengan Rumah Kreatif BUMN (RKB) di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada 28 Maret-1 April 2018.

Menerjemahkan Magnificent Borobudur yang digelar di hari kedua IFW 2018, Kamis (29/3), sembilan desainer terkemuka ambil bagian dalam slot prime ini, tiga di antaranya merupakan desainer internasional (Milo dari Italia, May Myat Waso dan Yone Yone dari Myanmar). Sedangkan desainer Tanah Air  adalah Musa Widyatmodjo, Misan Kopaka, Denny Djoewardi, Sugeng Waskito, Harry Ibrahim, dan Kursein Karzai (semuanya anggota APPMI), serta desainer senior Chossy Latu yang malam ini mendedikasikan karyanya untuk maestro batik Indonesia, Iwan Tirta.

Hampir semua desainer menerjemahkan kemegahan Borobudur dengan sentuhan batik dan lurik. Desainer asal Jawa Timur, Denny Djoewardi mengusung tema Java Herigate yang mengeksplorasi batik ke dalam busana terusan selutut serta two pieces dengan bawahan celana panjang 7/8. Yang unik, Ketua APPMI Jawa Timur ini mendandani para model dengan topi yang menyerupai stupa candi.

Sedangkan Sugeng Waskito, menampilkan gaun-gaun ringan melayang  bercorak candi Borobudur juga patung-patungnya. Proses rancangan dilakukan secara manual, mulai dari kain putih, pembatikan, pewarnaan hingga jahit. Rancangan untuk koleksi kali ini menggunakan sutera batik tulis dan dipadukan dengan aksesoris plat tembaga sepuh emas 18 karat untuk menghasilkan efek glamour dan elegan.

Desainer Harry Ibrahim tampil mencuri perhatian dengan menampilkan koleksi seksi, berupa gaun terusan menggunakan materi ringan yang terkesan loose, hingga baju atasan yang mengeksplor kaki jenjang pemakainya dilengkapi dengan hiasan kepala berupa kain menjuntai. Warna biru solid mendominasi koleksi desainer yang mengambil tema Nirvana.

Dalam kesempatan itu, Harry juga memamerkan busana yang terinspirasi budaya Jawa Tengah. Ia menampilkan busana pria berupa modifikasi beskap yang terbuka di bagian tengah. Detail kain lurik di bagian lengan menjadikan look koleksi ini terlihat muda dan segar.

 

Tampil sebagai penutup adalah Kursein Karzai.  Desainer kelahiran Cilacap ini menampilkan busana santun dalam tema Miracle. Anggota APPMI yang menekuni dunia fashion ini menampilkan batik modern dipadu dengan coat panjang. Uniknya, pemilik brand Kursien Karzai Prive ini mendandani modelnya dengan penutup kepala yang dilengkapi dengan materi semacam jala yang separuh menutup wajah. warna coklat, hitam juga putih mendominasi koleksi Kursien yang menunjukkan bahwa modest wear menggunakan unsur batik bisa tampil modern dan tidak membosankan.(*)

 

 

 

Magnificent Borobudur Menerjemahkan Kemegahan Borobudur

0
MAGNIFICENT BOROBUDUR ON STAGE

Jakarta-Kemegahan dan kebesaran Borobudur tak ada duanya. Tak salah bila candi terbesar umat Budha itu dinobatkan sebagai situs warisan dunia PBB pada 1991. Kemegahan ini menginspirasi perhelatan Indonesia Fashion Week (IFW) 2018 dengan menggelar fashion parade bertema Magnificent Borobudur di hari kedua penyelenggaraan, Kamis (29/3).

Candi yang terletak di Magelang, Jawa Tengah, memang dijadikan sebagai salah satu sorotan dalam perhelatan IFW 2018, sebuah kolaborasi solid antara Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) dengan Rumah Kreatif BUMN (RKB) yang berlangsung 28 Maret – 1 April 2018 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta.

Sembilan desainer terkemuka ambil bagian dalam slot prime ini, tiga diantaranya merupakan desainer internasional (Milo dari Italia, May Myat Waso dan Yone Yone dari Myanmar). Sedangkan desainer Tanah Air adalah Musa Widyatmodjo, Misan Kopaka, Denny Djoewardi, Sugeng Waskito, Harry Ibrahim, dan Kursein Karzai (semuanya anggota APPMI), serta desainer senior Chossy Latu yang malam ini mendedikasikan karyanya untuk maestro batik Indonesia, Iwan Tirta.

Pergelaran dibuka dengan tampilnya karya Misan Kopaka, desainer asal Bandung yang terkenal dengan desain yang membentuk tubuh dan kaya detail. Misan, dokter yang melepaskan profesinya di bidang medis dan memilih jalan hidup di jalur fashion designer ini mengangkat tema Cultural Influence A Day at Borobudur.

Misan dengan piawai memadupadankan batik menjadi busana siap pakai yang sangat feminin, berupa gaun tanpa lengan terusan selutut hingga gaun panjang dengan belahan yang menunjukkan feminitas pemakainya. Sebagai pelengkap, desainer yang telah berkiprah 30 tahun di jagat fashion Tanah Air ini menambahkan selendang yang mempermanis gaun-gaun cantik yang kaya detail. Di tangannya, batik tampil kontemporer dan sangat stylish.

Desainer senior, Musa Widyatmodjo, mengangkat keindahan Borobudur dalam tema Senja. Karya ini dia terjemahkan dalam gaun-gaun batik kontemporer. Musa menampilkan karya batik namun jauh dari kesan etnik. “Ini cara saya membawa Indonesia ke pasar global. Membawa nilai-nilai Indonesia ke kancah fashion dunia,” ujar Musa.

Desainer senior Indonesia ini menampilkan 14 set busana, 2 diantaranya busana pria. Melalui karya ini, Musa menerjemahkan romantisasi Borobudur di masa lalu dengan menampilkan suasana matahari terbenam di sekitar candi megah itu.

Koleksi yang dilansir Musa kali ini – antara lain menampilkan kebaya kutubaru yang tampil kekinian. “Kain yang saya pakai tradisional, tapi look-nya lebih kontemporer. Ini semacam kawin silang yang menghasilkan tampilan akhir modern,” ujarnya.

Musa menerjemahkan tema ‘Senja’ di Borobudur yang kaya nuansa warna. Busana yang ditampilkan terinspirasi dari gaya bikshu, juga bunga teratai yang kaya filosofi hidup. Nuansa oranye mendominasi koleksi Musa. “Warna oranye juga terinspirasi oleh busana para bikshu,” ujarnya.

Busana loose melayang oranye itu makin semarak karena Musa juga mengaplikasikan corak stupa Borobudur di sekeliling bagian bawah busana. Tak lupa, hiasan rambut menjulang bak stupa di kepala model, menambah keunikan karyanya. (*)

 

 

 

 

 

Sinar & Pijar, Tren Make up Terbaru Wardah

0
Wardah - Sinar Pijar

Jakarta – Fashion tak bisa dipisahkan dari make-up. Keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan penampilan. Di perhelatan Indonesia Fashion Week (IFW) 2018 yang digelar oleh Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) bersama Rumah Kreatif BUMN (RKB) pada 28 Maret-1 April 2018 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Wardah menjadi official make-up & hair do. Kesempatan ini sekaligus digunakan untuk meluncurkan tren make up terbaru, Wardah Sinar & Pijar: Eksplorasi Alam untuk Inspirasi Kecantikan. Peluncuran tren ini bertujuan untuk memperkenalkan konsep make-up terbaru dari Wardah yang berkolaborasi dengan 4 make-up artist (MUA) kenamaan Tanah Air dalam satu panggung. 

Shabrina Salsabila, brand executive Wardah menjelaskan, industri kecantikan sangat dinamis dan selalu berubah mengikuti perkembangan zaman. “Sebagai brand kosmetik, Wardah merespon kondisi ini dengan terus berinovasi dan menghadirkan tren make-up terkini setiap tahunnya. Tren make-up ini diharapkan dapat menjadi barometer bagi industri kecantikan dan tata rias,” kata Shabrina di Wardah Beauty Conference, yang digelar pada Kamis (29/3). 

Wardah Sinar & Pijar: Eksplorasi Kecantikan Tanpa Henti, tema tren ini diangkat karena terinspirasi dari kecantikan dan kekayaan alam lndonesia. Mulai dari gunung, garis pantai, khatulistiwa, hingga ekosistem flora dan fauna. Tren make-up ini  menghadirkan warna-warna alam yang dapat merepresentasikan kekuatan wanita lndonesia. 

Wardah Sinar & Pijar terdiri dari 4 inspirasi make-up look yaitu; Percik Jiwa, Emosi Murni, Semu Mimpi, dan Denting Bersemi. Keempat make-up look ini dapat digunakan dalam berbagai kesempatan. Untuk siang hari dapat menggunakan Wardah Exclusive Matte Lip Cream, sedangkan malam hari untuk tampilan yang lebih glamor dapat ditambahkan dengan sentuhan dari Wardah Wonder Shine. 

Untuk mempresentasikan keempat inspirasi make-up look ini, Wardah menggandeng 4 MUA yaitu Carolina Septerita, Slamwiyono, Adi Adrian, dan Hepi David. Melalui kolaborasi Wardah bersama 4 MUA tersebut, akan menjelaskan setiap inspirasi make-up dari Wardah Sinar & Pijar yang memiliki filosofi dan makna berbeda. 

  1. Semu Mimpi oleh Carolina Septerita

Semu Mimpi  menampilkan sebuah ekspresi dalam permainan warna pada mata. Warna-warna Semu Mimpi terinspirasi oleh matahari terbit maupun tenggelam. 

  1. Percik Jiwa oleh Adi Adrian

Sebuah tampilan make-up yang merepresentasikan kecantikan sejati. Make-up ini merepresentasikan sosok wanita yang berpegang teguh pada semangat yang ditampilkan lewat gradasi warna pada bagian bibir yang menggunakan wishing matte untuk tampil sederhana dan menawan maupun glossy.

  1. Emosi Murni oleh Hapi David

Emosi Murni mencerminkan bahwa wanita harus memiliki kejujuran dan keteguhan pada kecantikan yang dimilikinya sehingga dapat menjadi percaya diri, dan kekuatan ini digunakan untuk menebar inspirasi. Tampilan Emosi Murni dapat diaplikasikan dalam kompleksi wajah  flawless dalam mood matte maupun dewy. 

  1. Denting Bersemi oleh Slam Wiyono

Inspirasi make-up Denting Bersemi membawa sebuah perasaan yang bebas dan memancarkan kecantikan wanita lndonesia. Inspirasi ini didapat dengan memaksimalkan tampilan alis sempurna dan permainan warna simpel. 

“Kami berharap melalui peluncuran tren make-up ini, Wardah tidak hanya dikenal sebagai brand kosmetik yang mendukung pertumbuhan industri kecantikan di Indonesia. Lebih dari itu, Wardah memiliki tanggung jawab besar untuk menyebarkan inspirasi positif dalam berkarya bagi insan kreatif yang bekerja pada sektor kecantikan, komunitas, dan pecinta tata rias,” tutup Shabrina Salsabila.(*)

 

 

Mengintip Koleksi Desainer Internasional di IFW 2018

0
MAY MYAT WASO - MYANMAR

Jakarta – Pekan mode Indonesia Fashion Week (IFW) 2018 digelar oleh Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) berkolaborasi dengan Rumah Kreatif BUMN (RKB) di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, pada 28 Maret-1 April 2018. Tak hanya desainer dalam negeri, IFW 2018 juga menarik minat desainer luar negeri untuk ikut ambil bagian di pekan mode bergengsi ini. Ada tujuh desainer luar negeri yang unjuk gigi, mereka adalah Milo asal Italia, Koefia asal Italia, May Myat Waso asal Myanmar, Yone Yone asal Myanmar,  Ayse Denis Yegin asal Turki, Monica Lim (Fame Agenda) asal Australia, dan Datuk Sri Raja Rezza asal Malaysia.

“Sebenarnya kami juga mengundang desainer dari Australia dan Malaysia untuk jumpa pers, sayang mereka berhalangan hadir,” kata Presiden IFW 2018 sekaligus Presiden APPMI Poppy Dharsono saat jumpa pers di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Kamis (29/3).

May Myat Waso dan Ayse Denis Yegin menjadi yang pertama memamerkan koleksinya. Pada pembukaan IFW 2018, Rabu (28/3), May Myat menyuguhkan busana tradisional Myanmar yang dimodifikasi dengan unsur modern. Koleksinya sangat mewah, penuh bordir warna emas.

Sedangkan Ayse menyuguhkan busana santai yang cocok dikenakan saat berlibur di pantai. Koleksinya berupa celana super pendek, blus longgar, hingga bikini, didominasi warna biru dan putih.

Di hari kedua, Kamis (29/3), giliran Milo asal Italia dan Yone Yone asal Myanmar, serta May Myat Waso juga asal Myanmar, unjuk gigi di panggung IFW 2018 dalam peragaan bertema Magnificent Borobudur. Milo, pria asal Italia yang sudah lama tinggal di Indonesia itu menawarkan busana batik tulis dan digital printing lewat brand Milo’s. “Saya suka sekali dengan batik. Tetapi saya menawarkan batik yang berbeda, batik sesuai sudut pandang saya. Saya desain motif sendiri, motif kontemporer, karena menurut saya, batik harus terus berkembang. Motif yang dulu memang harus tetap ada, tetapi untuk ke depan, motif-motif baru harus terus dikembangkan,” kata Milo.

Koleksinya berupa kemeja pria hingga gaun panjang dan longgar. “Gaun ini di bagian lehernya ada tali yang bisa ditarik (diserut). Jadi, ini bisa dipakai menjadi busana muslim juga,” kata Milo yang sudah mengekspor koleksi Milo’s ke Kuala Lumpur dan Amerika Serikat.

Sebelumnya, Milo sudah mendesain dan memproduksi busana batik sejak 1998. “Saya memulai dengan batik Madura. Saat itu, belum ada yang melirik batik Madura. Saya pilih batik Madura karena batik tulisanya terlihat lebih kasar dibanding batik Yogya, tetapi justru orang Amerika sangat senang karena lebih terlihat hand made-nya,” jelas Milo.

Koleksi desainer Koefia asal Italia, akan diperagakan di hari ketiga, Jumat (30/3), pada acara final Indonesia Fashion Model Competition.  Koleksi Fame Agenda by Monica Lim akan digelar juga pada hari ketiga dalam peragaan gabungan bertema The Heritage of Ancient Komodo. Sedangkan koleksi Datuk Sri Raja Rezza akan digelar dalam acara penutupan IFW 2018 bersama koleksi Poppy Dharsono.

Kembali ke misi mereka, apa yang membuat mereka tertarik unjuk gigi di IFW? “IFW tempat terbaik untuk mengekspos koleksi dan tempat eksistensi para desainer,” kata Milo.

Alasan sama juga dikatakan May Myat. “Saya senang sekali ikut IFW. Ini kesempatan untuk mengeskpos karya-karya saya,” kata May Myat.

May Myat menjelaskan, geliat fashion semakin meningkat di negaranya, Myanmar, dan salah satu rujukan para desainer Myanmar adalah Indonesia Fashion Week. “Desainer-desainer muda berbakat banyak bermunculan di Myanmar dan salah satu keinginan mereka adalah bisa tampil di Indonesia Fashion Week, tetapi untuk itu, tentu mereka harus berprestasi lebih dulu di Myanmar,” ungkap May Myat.(*)

               

Meniti Pesona Syar’i di Indonesia Fashion Week 2018

0
YUNIA SYAR'I BY YUNIA YUYUN

Jakarta – Pesona busana syar’i tak pernah berhenti. Rasanya semua sepakat, busana  longgar dengan kerudung panjang bak rambut menjuntai itu membuat perempuan pemakainya terlihat cantik dan elegan. Pesona itu yang dipancarkan pada peragaan bertema Wonderful Syar’i  di hari kedua penyelenggaraan Indonesia Fashion Week 2018 yang digelar pada Kamis (29/3) di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta.

Sebanyak 10 perancang busana memamerkan koleksi terbaiknya. Koleksi tersebut adalah Zahwazee by Salty Jofimar, Ulya Hijab by Maia Andrean, Yunia Sar’i by Yunia Yuyun, Kamilaa by Itang Yunasz, Batik Riana by Riana Kesuma, Mustbe by Thatia, Darabira, Dian Risty, Mayesa Premium by Ida Andriansyah, dan Gita Orlin.

Sejak awal peragaan, penonton diajak meniti satu-persatu keindahan dan pesona koleksi para perancang tersebut. Warna-warna romantis, seperti baby pink, ungu muda, biru muda, hijau muda, coklat muda, abu muda, hingga salem, mendominasi peragaan ini. Gaya tumpuk dengan aplikasi ruffle, diramu menjadi gaun feminin.  Zahwazee by Salty Jofima, Darabira, dan Mayesa Premium by Ida Andriansyah, memilih warna busana seperti itu.

Berikutnya, Dian Risty, menampilkan busana syar’i yang tak biasa. Dengan tema Drama Queen, Dian menyajikan gaun-gaun hitam dramatis. Bahan hitam diselipkan bahan biru dan hijau metalik sehingga berkesan mewah. Kesan dramatis makin kental berkat bulu-bulu di bagian bawah gaun hingga jubah panjang transparan.

Sebagai pilihan, Wonderful Syar’i juga menyajikan busana muslim dari bahan batik dan jumputan yang didominasi warna oranye, coklat, hijau, dan marun. Menjemput Jumputan, menjadi fokus perancang Itang Yunasz. Motif jumputan merupakan hasil proses ikat dan celup warna pada sehelai kain. Koleksinya yang berupa gaun terusan, celana palazo, tunik, dan rok, diperkaya dengan ruffle, pleats, dan draperi di beberapa bagian.

Sementara itu, Riana Kesuma menawarkan batik elegan lewat tema Sogan Elegan.  Pada beberapa koleksi ia memaadukan batik coklat sogan dengan batik merah, sehingga terlihat lebih hidup. Dia juga memadukan rok kuning polos dengan blus batik sogan dan jubah panjang, sehingga terkesan lebih cerah.

Di ujung acara, peragaan ditutup oleh koleksi mewah karya Gita Orlin. Mengusung tema Sekar Jagad, Gita memadukan kemewahan warna salem dan biru serta batik berwarna senada. Celana palazo dan rok, berpadu manis dengan tunik hingga jaket. Aksen pita bergaya kimono mempermanis koleksinya. (*)

APPMI Gandeng Electrolux Adakan Seminar di IFW 2018

0
Poppy Darsono dalam Seminar bersama Electrolux Professional

JAKARTA  – Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI)  menggandeng PT.  ELS indonesia Prima atau biasa dikenal dengan Electrolux Professional mengadakan seminar dan dihadiri langsung oleh Presiden APPMI dan IFW Poppy Darsono di Jakarta Convention Center (JCC)  Senayan,  Jakarta.  Kamis, (29/3).

Seminar yang berthemakan “Lagoon Advanced Care: The Power of Water to Treat Your Garment” ini bertujuan untuk sosialisasi sekaligus memberi edukasi kepada para perancang dan pengusaha dunia mode Indonesia dalam merawat pakaian-pakaian hasil rancanganya.

Senada dengan tema yang diusung Indonesia Fashion Week (IFW) 2018 yang berthema “Cultural Identity” mengangkat tiga destinasi yaitu Danau Toba,  Borobudur dan Labuan Bajo tentunya memiliki tekstur bahan khusus dan butuh perawatan khusus agar tetap terjaga kualitasnya. 

Electrolux Professional memperkenalkan teknologi terbarunya yaitu Lagoon Advanced Care (LAC) yaitu mesin cuci dan pengering yang menggunakan media air sebagai sumber atau disebut sistem “Wet Cleaning”. Sistem Wet Cleaning merupakan metode terbaru yang bisa digunakan untuk mencuci pakaian berbahan khusus seperti kain sutra,  wool,  pakaian ber-payet dan lain – lain yang biasanya hanya menggunakan metode Dry Cleaning bahkan dengan mencuci tangan (manual).

Dalam seminar kali ini tak ketinggalan Suci Utami, salah satu Social Media Influencer turut membagikan pengalamanya merawat pakaian, hal lain yang menarik dari seminar ini yaitu diadakan pengundian door prize satu buah Travel Steam Ironer kepada salah seorang peserta yang hadir. 

 

 

 

 

Kebesaran Danau Toba dalam Balutan Budaya

0

 

GREAT TOBA

Jakarta – Pesona Danau Toba tidak saja dikagumi oleh masyarakat Indonesia, tetapi keindahan dan kebesarannya telah dikenal pula di seantero dunia. Selain menghamparkan lanskap keindahan alam yang luar biasa, keberadaan Danau Toba juga telah menjadi penghidupan bagi masyarakat di sekitarnya, dan menyimpan kekayaan budaya yang berkembang bersama penduduk suku Batak. Rabu, (28/3) kemarin. 

Kebesaran Toba inilah yang diangkat dan dijadikan salah satu sorotan dalam penyelenggaraan Indonesia Fashion Week 2018, yang diselenggarakan oleh Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) dan Rumah Kreatif BUMN (RKB) di Jakarta Convention Center, 28 Maret hingga 1 April 2018.

Satu slot parade peragaan busana khusus dipersembahkan bagi kebesaran Danau Toba, di hari pertama IFW 2018, dengan tema Great Toba. Sembilan desainer ternama mempersembahkan karya terbaik mereka, yang tentu saja bercerita dan terinspirasi dari Danau Toba dan segala yang menaunginya. Mereka adalah Merdi Sihombing, Ida Royani, Corrie Kastubi, Levico by Defrico Audy, Ivan Gunawan, Ariy Arka, Torang Sitorus, Ghea Panggabean, dan Sikie Purnomo. 

Merdi Sihombing membuka show dengan kesan yang kuat dan menggugah.  Desainer yang sangat identik dengan ulos dan songket khas Sumatera Utara ini menyuguhkan koleksi berbalut ulos pewarna alam, yang sangat lekat dengan ekosistem di Danau Toba.

Ida Royani  sudah lima tahun mendedikasikan dirinya untuk mengolah kain tradisional Batak, terutama ulos. Tahun lalu di event yang sama, ia mengolah ulos Pinucaan dan Sadum, kini sang desainer kembali mengangkat tenun Sadum, yang berasal dari Toba sebagai fokus desain. Ida Royani  dengan karakter busana muslim yang anggun, klasik dan berkelas, menampilkann koleksi yang bersiluet longgar dan menonjolkan kesan feminin sekaligus kuat. Motif Ulos yang dipakai dengan gradasi warna merah dan hitam, tampak menarik dengan penempatan dan cutting yang penuh perhitungan. Ia menambahkan aksesori berupa topi bergaya equestrian yang klasik sekaligus tomboi, untuk menambah statement yang unik dan tidak biasa.

Khasanah kekayaan kain tradisional Batak dan Toba makin ditonjolkan pada koleksi desainer Corrie Kastubi yang membawa tema Nusantara Etnik. Corrie memperkenalkan kain tenun Toba, Batak dan Karo, dengan styling yang lebih fleksibel dan memadupadankan kain tenun tanpa jahitan dengan elemen busana lainnya. Secara keseluruhan, desainnya bergaya kontemporer, dengan padupadan material serta aksesoris etnik dengan modern.

Sebuah koleksi yang agak berbeda ditampilkan oleh Defrico Audy melalui label JSL LeViCo. Koleksi berjiwa couture dengan tema Pusaka Nusa ini baru saja mendapat sorotan setelah tampil pada event bergengsi Paris Fashion Week Haute Couture Fall Winter 2018/2019. Menggunakan tenun NTT, koleksi bergaya cocktail modern ini mampu memukau penonton kali ini, sebagaimana ia memukau publik Paris.

Desainer Ivan Gunawan  kali ini kembali membawa labelnya Jajaka, dengan ulos yang diolah sedemikian rupa. Ia menggunakan kristal sehingga menyiratkan kemewahan dan sisi glamour wanita. 

Pendekatan berbeda dan lebih kekinian dilakukan oleh desainer muda Ariy Arka. Material ulos dari Dekranasda Tapanuli Utara, dengan warna-warna yang lebih muda dari warna ulos pada umumnya. Terinsipirasi dari keindahan alam Muara, yang merupakan salah satu tempat hilir mudik para masyarakat yang hendak menuju dan dari Pulau Sibandang tempat penghasil tenun di Danau Toba. Ariy Arka membuat koleksi busana kasual yang sangat bergaya muda, dan lebih wearable untuk dikenakan sehari-hari. 

Ghea dan Sikie Purnomo menjadi penutup show Great Toba, dengan koleksi yang megah, kental nuansa etnik dan tentu saja, menjadi gambaran sempurna bagi kebesaran Danau Toba.(*)

Busana Ragam Warna di IFW 2018

0
Yogiswari Pradjanti Model's

Jakarta, 28/03/2018 – Desainer Yogiswari Pradjanti kali ini menampilkan busana bergambar lucu berkarakter naif (hasil gambar seperti anak-anak, misalnya  kepala lebih besar tidak proporsional). Yogi, panggilan desainer yang pernah memamerkan karya di Mercedes Benz Style Asia Fashion Week, memang kuat dalam hal membuat ilustrasi gambar berkarakter naif, dan sudah menjadi ciri khasnya.

Untuk pergelaran kali ini, Yogi menuangkan karyanya dalam tema Colourful Journey yang diterjemahkan dalam busana santai berwarna cerah ceria. Teknik yang digunakan Yogi untuk koleksi bernuansa liburan ini menggunakan batik atau cetak digital.

Sesuai dengan temanya, koleksi Yogi didominasi warna cerah seperti biru, hijau, kuning, merah, dan pink. Siluetnya berupa terusan selutut dan busana two pieces, dengan atasan dilengkapi hoody (tutup kepala) dan celana selutut yang membuat mood liburan makin terasa.

Koleksi selanjutnya yang mencuri perhatian adalah Gee Batik by Sugeng Waskito. Mengangkat tema Borobudur, desainer asal Yogyakarta ini menampilkan koleksi yang terinspirasi dari kemegahan candi yang terletak di Magelang, Jawa Tengah.

Yang membuat koleksi ini istimewa menurut Sugeng  adalah, proses rancangan dilakukan secara manual, mulai dari kain putih, pembatikan, pewarnaan hingga jahit. “Rancangan untuk koleksi kali ini menggunakan sutera batik tulis dan dipadukan dengan aksesoris plat tembaga sepuh emas 18 karat untuk menghasilkan efek glamour dan elegan,” kata Sugeng.

Dengan cerdik, Sugeng menampilkan gaun-gaun feminin berbahan ringan yang pas dikenakan oleh perempuan yang suka tampil bergaya tanpa kesan berlebihan. Gaun terusan mengambil pola batik ini dengan manis memeluk tubuh pemakainya namun tidak ketat di badan. Melalui koleksinya, Sugeng ingin menunjukkan bahwa banyak inspirasi fashion yang bisa digali dari warisan budaya Indonesia.

Gee batik by Sugeng Waskito

Dari batik, koleksi busana yang melenggang di pergelaran Indonesia Fashion Week 2018 berikutnya adalah tenun Nambo. Kain tenun khas Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, ini belakangan makin dikenal. Bukan hanya di Indonesia, namun juga di mancanegara. Wastra ini bahkan sudah tampil di New York Fashion Week, Amerika Serikat, Februari silam.

Sebagai informasi, kawasan Nambo dikenal menjadi sentra pengembangan tenun dengan memberdayakan warga setempat. Motif tenun Nambo memiliki nuasa pesisir yang sangat kental. Hal ini dikarenakan wilayah Nambo merupakan daerah yang berada di pesisir pantai Banggai.

Tenun Nambo di tangan Ryani Utami kali ini tampil di ajang IFW 2018, dan membuat penikmat mode terpukau. Desainer asal Yogyakarta ini ‘menyulap’ kain tenun Nambo menjadi busana yang sangat kekinian dan playful. Mengusung tema Dealova, warna-warna bold seperti merah, biru, dan kuning diaplikasikan dalam koleksi ready to wear yang cocok dikenakan sehari-hari.

Para model melenggok dengan busana terusan di atas lutut yang dipotong asimetris dengan topi-topi cantik pelengkap penampilan. Di tangan Ryani, tenun Nambo tampil sangat kontemporer dan mengundang para perempuan muda yang sadar gaya untuk mengenakan rancangan ini.

Sebagai penutup pergelaran Artistic Identity, desainer asal Lampung, Ida Giriz, menampilkan koleksi bertajuk Gold Olaz. Pemilik nama asli Zuraida kali ini mengeksplorasi kain tapis yang dia terjemahkan dalam 12 gaun malam di perhelatan fashion bergengsi ini.

Tema Gold Olaz atau Kemilau Emas, bercerita tentang sosok puteri Lampung zaman dulu yang terkenal dengan kecantikannya, berkulit terang, gagah berani, dan bertekad kuat. Meski terkesan gagah, namun perempuan Lampung juga digambarkan berhati lembut dan nrimo.

Untuk menggambarkan karakter itu, Ida memilih warna-warna solid hitam dan biru yang diaplikasikan dalam gaun feminin dari tapis yang membentuk tubuh dan menonjolkan keindahan pemakainya.(*)

 

 

Wastra Nusantara dalam Garis Rancang yang Playful

0

Jakarta – Playful dan artistik, sebuah kalimat yang pas untuk menggambarkan koleksi bertema Artistic Identity. Koleksi tersebut  diperagakan di hari pertama Indonesia Fashion Week (IFW) 2018, yang digelar oleh Asosiasi Perancang  Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Rabu (28/3).

Artistic Identity merupakan bagian dari tema besar IFW 2018: Cultural Identity. Tema tersebut memiliki makna budaya sebagai sumberdaya, inspirasi, sekaligus identitas untuk mengembangkan fashion Indonesia sehingga bertumbuh dan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat.

Koleksi yang memikat mata tersebut dipersembahkan oleh 12 desainer Indonesia dan 5 diantaranya adalah anggota APPMI. Semua koleksi memiliki nafas sama, yaitu terinspirasi oleh tiga destinasi wisata, yang dipromosikan sebagai ‘3 Bali Baru’, yaitu Danau Toba di Sumatera Utara, Borobudur di Jawa Tengah, dan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Keduabelas desainer Tanah Air yang memamerkan karya mereka di fashion parade kali ini adalah Anna Budiman, Yogiswari Pradjanti, Gee Batik, Viena KD, D’Ranaya by Dewi Ranaya, Bordir by Tasikmalaya, Levico, Tenun Nambo by Ryani Utami, Adinda Moeda, Roemah Kebaya, Batik Tenun Vi Balikpapan, dan Ida Giriz.

Koleksi yang ditampilkan para perancang busana kental mengusung ciri khas masing-masing. Anna Budiman misalnya, mengusung  tema rancangan Les Femmes Samosir (bermakna Perempuan Samosir). Rancangan ini sangat segar. Menurut Anna, tema ini dilatarbelakangi oleh kisah dari Danau Toba di Pulau Sumatera yang mempunyai legenda cerita yang unik dan kaya budaya.

Tema Les Femmes Samosir tersebut diterjemahkan Anna dalam 12 set busana yang menonjolkan bordir warna-warni dan menggunakan desain kain khas Batak, yaitu ulos. Menurut desainer anggota APPMI itu, rancangan yang tampil di ajang runaway kali ini menggunakan kain ulos biasa yang ditenun dengan tangan. Benang yang dipakai menenun dipilih berwarna emas dan perak sehingga menghasilkan kain berkilau seperti sutera. Warna-warna biru gelap, hijau botol dan ultraviolet berpadu manis dalam koleksi busana yang sangat terlihat anak muda.

Yang menarik, Anna memodifikasi ulos menjadi busana kasual siap pakai, menanggalkan kesan resmi. “Ulos kita tahu kerap dipakai di upacara adat atau perhelatan resmi. Nah, menggunakan ulos, saya membuat inovasi dengan mengaplikasikannya pada busana santai yang bisa dipakai untuk acara sehari-hari hingga pesta cocktail,” kata Anna.

Koleksinya terlihat muda dan kekinian karena memadukan kain ulos dengan bahan denim warna warni, sehingga desain terlihat energetik, segar, dan kekinian. Yang unik, dia juga memadukan bordir bermotif animal untuk memberikan nuansa berbeda.”Saya memakai bordir gajah dan harimau sebagai aksen pelengkap. Alasannya sederhana, kedua hewan ini banyak ditemukan di Pulau Sumatera,” ujar Anna seraya menambahkan busana ini ditujukan untuk sosialita, perempuan muda yang berani tampil mengikuti tren dan berjiwa energetik.

Indonesia Fashion Week 2018 Mampu Gairahkan Perekonomian Indonesia

0
Parade Busana

 

great toba  model on stage

Jakarta , 28/03/2018 – Indonesia Fashion Week 2018 kali ini berkolaborasi dengan 200 perancang mode (lokal dan internasional), 460 peserta pameran merek fashion serta tekstil, workshop, kuliner, dan oleh-oleh panganan dari berbagai daerah di Nusantara.

Sebagai barometer fashion Indonesia, IFW 2018 menjadi jendela sejauh mana perkembangan fashion di negeri ini. Gati Wibawaningsih, Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian Republik Indonesia mengatakan pentingnya peran IFW. “IFW menjadi stimulus untuk kreativitas dan menjadikan fashion Indonesia bersaing dengan produk luar negeri,” kata Gati saat memberi sambutan di pembukaan IFW 2018.

Dia mengungkapkan, ekspor produk fashion Indonesia setiap tahun terus meningkat. “Tahun 2017 ekspor meningkat 8,7% dengan nilai US$13,29 miliar dan menyumbang PDB sebesar 3,76%. Ini menunjukkan industri fashion Indonesia memiliki daya saing di luar negeri,” ujar Gati.

Dibanding bidang lain, fashion cukup memberikan kontribusi besar pada ekonomi kreatif Indonesia. “Tahun 2016, ekonomi kreatif memberikan sumbangan sebesar Rp Rp 922,59 triliun pada PDB Indonesia dan 18,01%-nya disumbang oleh fashion,” kata Joshua Simanjuntak, Deputi pemasaran Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Lebih dari stimulus, Poppy Dharsono mengatakan, fashion merupakan katalisator bagi industri fashion dan juga industri lainnya. “IFW adalah katalisator bagi banyak industri. Ketika sebuah fashion menjadi industri, maka lainnya juga ikut berkembang, mulai dari benang, tekstil, pewarna, kancing, aksesori, dan lain-lainnya,” kata Poppy.

Fashion pun, lanjut Poppy, tak lepas dari industri pariwisata.”Tiga destinasi ini, yaitu Toba, Borobudur, dan Labuan Bajo, merupakan bagian dari 10 Bali Baru yang sedang gencar dipromosikan Kementerian pariwisata. Kita berharap, berkembangnya pariwisata tesebut juga ikut meningkatkan industri fashion dengan produk fashion sebagai oleh-oleh daerah wisata tersebut,” kata Poppy.

Seiring dengan itu, kualitas produk fesyen Indonesia, khususnya yang diproduksi para UKM, seharusnya terus ditingkatkan. Staf khusus II Kementerian BUMN Judith Jubilina Dipodiputro menambahkan, saat ini perusahaan di bawah BUMN berkolaborasi di dalam Rumah Kreatif BUMN (RBK) untuk melakukan pembinaan sekaligus membantu membuka akses pasar.

“Kami membina 202 Rumah Kreatif di seluruh Indonesia dengan 475 lebih UKM yang terdaftar dan 14 ribu produk yang sudah trading melalui Belanja.com. Saya harap melalui IFW dapat semakin mengenalkan produk mereka dan membuka pasar ,” kata Judith.(*)

Mengolah Keragaman Budaya Menjadi Identitas Fashion Indonesia

0
Parade Busana

 Jakarta – Puluhan penari  bergerak lincah di panggung Indonesia Fashion Week 2018. Lagu daerah Sumatera Utara, Siksik Batu Manikam, lagu Jawa, Janger Bali, hingga Kicir-kicir dari Betawi, mengiringi gerakan para penari berbusana putih dan berkain songket merah.  Atraksi mereka bergantian dengan para penampil yang memakai kostum karnaval berbasis budaya Indonesia, mulai sayap burung, hingga stupa Candi Borobudur. Sangat atraktif. Rabu, (28/03).

 Seperti inilah suasana pembukaan pekan mode Indonesia Fashion Week (IFW) 2018 yang digelar Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) bersama Rumah Kreatif BUMN (RKB) di Plenary Hall, Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Rabu (28/3).

 Meriah, atraktif, dan penuh warna. Tiga kalimat itu pas menggambarkan pembukaan IFW ke-7 ini. Sebanyak 40 desainer Indonesia dan 2 desainer luar negeri, yaitu dari Turki dan Myanmar, ikut meramaikan pembukaan dengan koleksinya. Desainer Indonesia, diantaranya adalah Musa Widiatmodjo, Ida Royani, Naniek Rachmat, Yogiswari Pradjanti, Ivan Gunawan, Sikie Purnomo, Corrie Kastubi, Anna Budiman, Misan Kopaka, Harry Ibrahim, Sonny Muchlison, Agnes Budhisurya, Nieta Hidayani, Rudy Chandra, dan masih banyak lagi.

Sesuai tema yang diangkat pada IFW 2018 ini, yaitu  Cultural Identity, koleksi yang ditampilkan mengangkat keragaman budaya Indonesia sebagai identitas fashion negeri ini. “Sebagai negeri yang kaya budaya, cultural menjadi sumberdaya, inspirasi,  sekaligus identitas kita untuk mengembangkan fashion Indonesia sehingga tumbuh dan mampu menggerakan ekonomi rakyat Indonesia,” kata Presiden Indonesia Fashion Week 2018, sekaligus Presiden APPMI  Poppy Dharsono dalam pidato sambutannya.

Dari tema besar tersebut, koleksi IFW 2018 mengerucut pada tiga destinasi wisata Indonesia sebagai inspirasi. Ketiganya adalah Danau Toba di Sumatera Barat, Borobudur di Jawa Tengah, dan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur.  “ Indonesia Fashion Week 2018 mengangkat budaya dari tiga kawasan sebagai sorotan utama yaitu Danau Toba di Tanah Batak, Borobodur di Jawa Tengah, dan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur. Ketiga daerah menyisakan budaya purba dan masih ada hingga sekarang,” papar Poppy.

Dan koleksi yang terinspirasi dari tiga daerah itu pun mewarnai panggung pembukaan. Peragaan dibuka dengan koleksi bertema Great Toba karya Ida Royani.  Ida mengolah kain tenun ulos dari Tanah Batak, Sumatera Utara. Ulos warna abu-abu berpadu merah muda menjadi pilihan desainer yang sudah lima tahun belakangan ini melirik ulos sebagai inspirasi rancangannya. Koleksi berupa dress dengan lengan bervolume itu tampak cantik dengan look moderen.

Dari Danau Toba, beralih ke Jawa Tengah dengan tema Magnificent Borobudur. Musa Widyatmodjo, sang perancang, tak serta merta memindahkan candi terbesar umat Budha tersebut ke dalam koleksi. “Saya mengambil filosofinya saja. Tema Romansa di Borobudur terinspirasi dari suasana senja di Borobudur,” jelas Musa saat jumpa pers.

Hasilnya, nuansa oranye mendominasi koleksi Musa. “Warna oranye juga terinspirasi oleh busana para bikshu yang berwarna oranye,” kata Musa.

Busana loose melayang oranye itu tidak dibuat sepi. Musa juga mengaplikasikan corak stupa Borobudur di sekeliling bagian bawah busana. Tak lupa, hiasan rambut menjulang bak stupa di kepala model, menambah sempurna rancangan Musa.

Tak kalah unik rancangan Naniek Rachmat bertema The Heritage of Ancient Komodo yang terinspirasi oleh Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur dengan hewan komodo sebagai ikonnya. “Saya mengolah kain tenun dari sejumlah kabupaten di Nusa Tenggara Timur. Namun kain tenun dari kabupaten Sumba paling mendominasi karena coraknya lebih besar sehingga eye catching di panggung,” kata Naniek yang menambahkan kepala komodo sebagai hiasan di kepala sang model.

Identitas Kultur Dalam Pembukaan Indonesia Fashion Week 2018

0

Jakarta,  28/03/2018 – Pembukaan Indonesia Fashion Week (IFW)  resmi dibuka di Plenary Hall Jakarta Convention Center (JCC)  Senayan, Rabu (28/3) acara berlangsung meriah.

Indonesia Fashion Week (IFW) adalah acara yang dipelopori oleh APPMI (Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia) menyajikan keindahan Indonesia dalam balutan busana dan dipimpin langsung oleh Poppy Darsono.

” Kami terus berupaya mendorong industri fesyen Indonesia dengan membawa ciri kepribadian nasional, membantu UMKM sebagai basis penggerak industri kreatif, dan mengarahkan produk rancangan sesuai yang sedang tren di pasar,” ujar Poppy Darsono, Presiden APPMI dan IFW di sela acara pembukaan.

Sebagai ciri khas IFW, tema kebudayaan yang akan diangkat tahun ini adalah keindahan tiga tempat wisata di Indonesia yaitu Danau Toba di Tanah Batak, Borobudur di Jawa Tengah dan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur. Acara ini berkolaborasi dengan 200 desainer dan 460 peserta pameran merek fashion dan tekstil.

Gati Wibawaningsih selaku Direktur Jendral Industri Kecil dan Menengah Kementrian Perindustrian Republik Indonesia mengatakan Indonesia Fashion Week adalah salah satu event pameran terbesar di Indonesia bagi pelaku usaha di bidang fesyen dan para konsumenya.

” Sejak IFW pertama di 2012 ini termasuk salah satu event pameran terbesar di Indonesia yang digandrungi pelaku usaha di bindang fashion dan para konsumenya,” tutur Gati.

Gati juga menambahkan ada yang menarik dari IFW tahun ini yaitu dengan diberikan satu hall khusus untuk fashion muslim dan berharap indonesia mampu menjadi kiblat fashion muslim dunia.

Hal yang jadi pembeda tahun ini adalah konsentrasi penjualan yang tak lagi konvensional. Di era digital ini sudah banyak kemudahan untuk para pebisnis fashion dalam memamerkan dan menjual karyanya. Untuk itu, IFW 2018 menggandeng Tokopedia sebagai market place yang mendukung penuh pergerakan industri kreatif melalui platform digital.

Indonesia Fashion Week berlangsung mulai 28 Maret sampai 1 April 2018 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta. Di tahun ini IFW menggandeng 200 perancang mode lokal dan internasional, tak ketinggalan ada 460 peserta pameran fesyen dan tekstil , workshop , kuliner dan oleh – oleh dari beberapa daerah di Indonesia.

Learn more and see how Indonesian fashion has developed in a global context

0

Meet the experts :

ALESSANDRA LOPEZ y ROYO, Research Associate of the School of Arts, SOAS, University of London

MUSA WIDYATMODJO, Fashion Designer

SAVE THE DATE!
Saturday, 31 March 2018
14.00 – 16.00
Merak Room 1, Lower Lobby, Jakarta Convention Center

Information & RSVP :

Syadza 087781664196

Want to know how to make your favorite outfit last longer? Join our seminar to enter new era for textile care

0

Meet the experts :

KHO TJIN HOK, Lagoon Specialist Asia Pacific

POPPY DHARSONO, Fashion Designer

SUCI UTAMI, Social Media Influencer

SAVE THE DATE!
Thursday, 29 March 2018
14.00 – 16.00
Merak Room 1, Lower Lobby, Jakarta Convention Center

Information & RSVP :
Syadza 087781664196

INDONESIA YOUNG FASHION DESIGNER COMPETITION OFFICIAL E-COMMERCE PARTNER TOKOPEDIA

0

Jakarta, 18 December 2017Indonesia Young Fashion Designer Competition (IYFDC), presented by Indonesia Fashion Week is a competition for young designers of Indonesia.The event aims to seek new talents who are not only creative and innovative but also creative in the business sense.

Tokopedia, one of the online shopping centers in Indonesia, with its marketplace business
model, allows any individual, small shop and brand to open and manage an online shop.
Offering millions of products, among which are fashion and accessories, Tokopedia is
constantly supporting the growth of the creative industry in Indonesia, one of which is
Indonesia Fashion Week (IFW) 2018.

The mission of Tokopedia is to bring about economic equality digitally. Tokopedia wants to empower any individual to start and develop a business without having to move to a bigger city, while at the same time ensuring that many can obtain products with the same quality as those sold in big cities.

This is in line with the vision of Indonesia Fashion Designers Association which is presented through one of its activities, the Indonesia Fashion Week, the event of which always synergizes and cooperates with the Small Medium and Micro Entrepreneurs through
Indonesian fashion designers to enable the industry to continuously grow and become
independent.

That is why Tokopedia hopes that the creations produced by the local designers can reach
more Indonesians through its digital platform and together, they can make their dreams
come true, starting from Tokopedia.

As many as 29 participants entering the semifinals have been chosen from a total of 205
participants who have registered for the IYFDC 2018 on 5 December 2017. They are
required to come to Jakarta to present their creations in the second phase of judging.

The panel of judges consisting of Harry Ibrahim, Misan Kopaka and Ai Syarief, is today making their selections by paying attention to the details and the criteria such as the concept used to create the ready to wear clothes, alignment to the Cultural Identity theme, innovative design, application of the cultural values and local heritage as well as the wearable and saleable qualities of their designs.

Road to Indonesia Fashion Week 2018 Presents Model Audition 2018

1

Road to Indonesia Fashion Week 2018 IFW model audition. Hundreds of beautiful young Indonesians attended the audition to be part of the most extravagance Indonesian fashion event. Around couple hundreds have been selected. Wait for more info on the audition! There will be another audition coming soon!

Open Booth Registration and Fashion Show Registration IFW 2018

0

Registration Booth Exhibitor and Fashion Show Indonesia Fashion Week 2018 (IFW 2018) to be held on March 28, 2018 – April 1, 2018 has been opened. A leading fashion event in this homeland will be held at JCC (Jakarta Convention Center). IFW 2018 will carry the theme Cultural Indentity. Each year IFW always presents different treats. This time the stage catwalk and lighting will be mixed different from before. Detailed clothing design will be more highlighted so it can feel thick touch of Indonesian cultural identity with stunning packaging. More than 50% Booth already filled.

2017 Sharia Trend at Indonesia Fashion Week

0
Salah satu designer di fashion show Tren Syar'i Indonesia Fashion Week 2017 / IFW
Salah satu designer di fashion show Tren Syar’i Indonesia Fashion Week 2017 / IFW

JAKARTA – Sharia Muslim-wear has found greater favor in society. There are now plenty of styles to choose from, they are fashionable without straying away from sharia tenets. Look at OSD, Yunia Syar’i, Mayra, Ulya Hijab, and Jawhara Syar’i that will present their collections at IFW 2017.
OSD’s Bhinneka of Syar’i collection will be presented on the third day of IFW 2017. Inspired by our country’s motto, Bhineka Tunggal Ika, or Unity in Diversity, OSD also tries to capture the same spirit through its collection. There are so many styles of hijab, but they exist for the same reason—so women can dress according to sharia tenets.

This tenet prescribes modesty by covering up the body with fabric that is neither too thin nor too tight. For 2017, @osd offers khimar syar’i in a variety of models and shades of pastel to cut through the monotony. OSD collection can be worn to all sorts of events, while maintaining a woman’s proud identity as a Muslimah.
Another sharia Muslim-wear designer is Yuyun Yuniati. Her fashion line, Yunia Syar’i presents its Voyage collection at IFW, presenting pieces created using ceruti chiffon fabric with brocade and appliques like Swarovski crystals, embroidery, and gold tones. The collection also includes menswear pieces.
The theme, voyage, is selected to represent the designer’s own life’s journey. Beginning with a small dot of desire, it grows into a polka dot pattern that becomes a long line, symbolizing her journey. Yunia Syar’i 2017 is replete in the color blue—representing a philosophical evolution from black to white, a symbol of purity, optimism, and passion.
Unlike any other, Mayra has chosen bright colors—yellows, creams, and olive green. Sixteen pieces makeup Mayra’s Ujala collection, meaning the light of the universe. These elegant sharia gowns are created using lightweight materials, such as crepe and ceruti, to make every piece airy and graceful.
There is also Jawhara with its beautiful, unique and innovative collection. All of these designers hope that sharia fashion will pique the public’s interest at home and abroad, while allowing Muslims to follow sharia tenets (kaffah) without sacrificing fashion.

Sekar Jagad Banyuwangi at IFW 2017

0
Fashion Show Irma Lumiga Sekar Jagad
Fashion Show Irma Lumiga Sekar Jagad

JAKARTA –Irma Lumiga is a formidable Indonesian designer who have been in the business for 17 years, so she is definitely very well-informed about fashion on a wider context.
Irma Luminga at Indonesia Fashion Week 2017, 1 to 5 February 2017 at Jakarta Convention Center, hopes to use the stage to promote the development of tourism and culture in Banyuwangi, especially its batik and fashion products.
It is a great honor for Irma Luminga to receive the support of the Regent of Banyuwangi Mr. Abdullah Azwar Anas, M.Si, to participate in Indonesia Fashion Week following her success at Banyuwangi Batik Festival in 2014 and 2015.

Fashion Show Irma Lumiga Sekar Jagad

This time, Irma Luminga presents the theme “Sekar Jagad Banyuwangi”. Sekar Jagadcomes from the Javanese words (Se=one; Kar=map; jagad=world) meaning a map of the world, and it refers to the diversity found in Banyuwangi and around the world. Sekar also means flower, thus reflecting the beauty and wonder that it exudes out to the world.
For the show, Irma Luminga has prepared 71 Batik-based pieces, consisting of ready-to-wear kebaya and haute couture. She has brought the best models from Banyuwangi to show off her designs and 30 gandrung dancers who will help make the event truly a celebration of culture.

Fashion Show Irma Lumiga Sekar Jagad

This fashion show will be held at Jakarta Convention Center, on 4 February 2017, 4 pm. For her show, Irma Lumiga has collaborated with Banyuwangi-based SMEs and batik craftsworkers, as well as the shoes and bags designer KOVS.
Irma Lumiga hopes that IFW will grow from strength to strength. To prepare her collection for IFW, Irma actually conducted thorough research and cost analysis regarding Banyuwangi batik and its development.
“Fashion is about eyes and transformation, and batik is about legend and heritage, if you put them together than you can make a beautiful masterpiece,” Irma said.

Toyota Sienta Joins the Festivities at Indonesia Fashion Week 2017

0
Fashion Show Ardistia New York di Panggung Indonesia Fashion Week 2017 / IFW

JAKARTA – The festivities of Indonesia Fashion Week (IFW) 2017 reaches new heights with Sienta Pop Up Playground, right in the middle of the largest Indonesian fashion event at the beginning of the year.
With the theme Sienta Unlock Your Playground, at IFW 2017, 1-5 February at Jakarta Convention Center (JCC), Senayan Jakarta, PT Toyota-Astra Motor (TAM) has collaborated with some of Indonesia’s foremost fashion talents to showcase their collections that reflect the stylish and modern characteristics of the Sienta, as Toyota’s latest Multi Activity Vehicle.

“Bringing the All New Toyota Sienta to Indonesia’s largest fashion event is consistent with Sienta’s flexible character, which can accommodate the consumer’s various activities without compromising style and modern designs, much like the clothes that have been designed by five of Indonesia’s best designers,” said Vice President Director PT Toyota-Astra Motor (TAM) Henry Tanoto, when interviewed at Indonesia Fashion Week 2017, Plenary Hall, JCC, Jakarta.

Koleksi Hartono Gan di Indonesia Fashion Week 2017 / IFW

Sienta Pop Up Playground at Indonesia Fashion Week 2017, does not only present collections from five of today’s brightest Indonesian fashion designers—Yosep Sinudarsono, Ardistia New York, Hartono Gan, Mety Choa and Rika Mulle—but also talk shows on lifestyle development with Hanifa Ambadar dan Merry Riana.
At the “Fashionable with Toyota Sienta” talkshow are two women will share their experience driving with Sienta, especially its comfort and full array of features. Visitors—especially women—can learn more about Sienta as an easy-to-use car that is suitable for various activities by urban women today.

Koleksi Mety Choa di Indonesia Fashion Week 2017 / IFW

“It is very suitable for active urban women. It is not only safe and comfortable, but also easy to use. Toyota’s new MAV has a modern design with innovative features to support urban activities. As it takes into account the latest trend, it really has a complete selling point,” Henry elaborated.
Toyota Sienta at this bona-fide fashion event is part of Toyota Let’s Go Beyond program that presents modern products to meet the needs and lifestyle of Indonesia’s consumers. As a Multi Activity Vehicle, it has a stylish exterior design with features that allow Sienta to fit into the increasingly-dynamic urban lifestyle.

Koleksi Rika Mulle di Indonesia Fashion Week 2017 / IFW
Koleksi Yosep Sinudarsono di Indonesia Fashion Week 2017 / IFW

“Similar to how local designers have imbued unique accents into their designs, we can tailor the Sienta to meet the needs of the Indonesian consumer market,” Said Henry.
As we know, Toyota Sienta’s ground clearance for the Indonesian market is 25 mm higher than for the Japanese market, so you can travel anywhere with a peace of mind.
Meanwhile, dive-in seat—foldable seat—gives ample space at the back of the car to bring all the items one might need to go about their daily activities.
“We wish to address the urban lifestyle and needs through Sienta Pop Up Playground, a program that TAM has run for a year now. Previously, we have previously done other Sienta Pop Up Playground events inspired by urban lifestyle choices like Zumba, Yoga, Fun Bike, Dog’s Day Out, and of course Fashion,” said Henry.

Galeri Indonesia Wow Presents Its Best Work at IFW 2017

0
Fashion Show Ratimaya Cita Nusantara Designer Nina Nugroho
Fashion Show Ratimaya Cita Nusantara Designer Nina Nugroho

JAKARTA – Galeri Indonesia WOW boldly show its unique side at Indonesia Fashion Week (IFW) 2017. At IFW 2017, Galeri Indonesia WOW showcases the latest and best clothes, bags, shoes, and accessories collections by designers who are partners of Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan UKM (LLP-KUKM).
These products fulfil the growing anxiety and need of Galeri Indonesia WOW’s target market—the youths, women, and netizens.
Through Galeri Indonesia WOW, located at SMESCO RumahKU Jakarta, LLP-KUKM encourages and supports Indonesian entrepreneurs to bring their best products to the global market.
At IFW 2017, on 4 February 2017 at Jakarta Convention Center, Galeri Indonesia WOW will present their best and competitive works, as selected by Galeri Indonesia WOW’s curator, Samuel Wattimena.
Products from Galeri Indonesia WOW have been selected to fit IFW 2017 theme, and are collected under the theme Ratimaya Cita Nusantara, or the Sense of Beauty in Indonesia’s Fabrics. Ratimaya is an Indonesian word derived from Sanskrit, meaning the sense/imagination of beauty. Its meaning can be found in Indonesia’s rich natural resources and creative products that embody true and eternal beauty.
In terms of clothing line, GIW presents 17 designers—6 Muslim-wear designers, 8 designers for women’s ready-to-wear, and 3 designers for men’s ready-to-wear. The six Muslim-wear designers are Oki Setiana Dewi, Tuty Adib, Nina Nugroho, Rumah Baju Ambu, Butik Lentera, and Kandi Batik. For women ready-to-wear, the designers are Tanda Mata, Lovely Zia, Batikoe, Rumah Sogan, Twin Stle, Rumah Ampiek, Erdan, and Handy Hartono. Meanwhile, men’s ready-to-wear designers are Ilham Bahari, Canting Hijau, and Taqqia MIB.
These outfits are complemented by shoes, bags and accessories designed and produced by some of the best entrepreneurs in Indonesia today. Accessories designers include:Istana Manik Kalimantan, Nahdi Jewellery, Fitri Designs, Almi Jewellery, Alex Papilaya Production, Poes Craft, and Semomondeezy.
Shoes are supplied by Bamboo studio by Parker, Delvino Shoes, Fargio Shoes, Melon Shoes, Pretty Calla Shoes, and Tegep Boots. While bags are from Erfa Handmade, Deluniq, Kleuren, Manggar Natural, Phi -tone, Sloopie Handmade, and Srengenge.
At IFW 2017 press conference, Ahmad Zabadi, President of LLP-KUKM of the Ministry of Cooperatives and SMEs said that Galeri Indonesia WOW enables LLP-KUKM to encourage and support small enterprises to step into the international market. Pre-curated, the products at IFW 2017 is sure to have a high level of creativity and competitiveness.

Fashion Show Ratimaya Cita Nusantara Designer Erdan

JAKARTA – Galeri Indonesia WOW boldly show its unique side at Indonesia Fashion Week (IFW) 2017. At IFW 2017, Galeri Indonesia WOW showcases the latest and best clothes, bags, shoes, and accessories collections by designers who are partners of Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan UKM (LLP-KUKM).
These products fulfil the growing anxiety and need of Galeri Indonesia WOW’s target market—the youths, women, and netizens.
Through Galeri Indonesia WOW, located at SMESCO RumahKU Jakarta, LLP-KUKM encourages and supports Indonesian entrepreneurs to bring their best products to the global market.
At IFW 2017, on 4 February 2017 at Jakarta Convention Center, Galeri Indonesia WOW will present their best and competitive works, as selected by Galeri Indonesia WOW’s curator, Samuel Wattimena.
Products from Galeri Indonesia WOW have been selected to fit IFW 2017 theme, and are collected under the theme Ratimaya Cita Nusantara, or the Sense of Beauty in Indonesia’s Fabrics. Ratimaya is an Indonesian word derived from Sanskrit, meaning the sense/imagination of beauty. Its meaning can be found in Indonesia’s rich natural resources and creative products that embody true and eternal beauty.
In terms of clothing line, GIW presents 17 designers—6 Muslim-wear designers, 8 designers for women’s ready-to-wear, and 3 designers for men’s ready-to-wear. The six Muslim-wear designers are Oki Setiana Dewi, Tuty Adib, Nina Nugroho, Rumah Baju Ambu, Butik Lentera, and Kandi Batik. For women ready-to-wear, the designers are Tanda Mata, Lovely Zia, Batikoe, Rumah Sogan, Twin Stle, Rumah Ampiek, Erdan, and Handy Hartono. Meanwhile, men’s ready-to-wear designers are Ilham Bahari, Canting Hijau, and Taqqia MIB.
These outfits are complemented by shoes, bags and accessories designed and produced by some of the best entrepreneurs in Indonesia today. Accessories designers include:Istana Manik Kalimantan, Nahdi Jewellery, Fitri Designs, Almi Jewellery, Alex Papilaya Production, Poes Craft, and Semomondeezy.
Shoes are supplied by Bamboo studio by Parker, Delvino Shoes, Fargio Shoes, Melon Shoes, Pretty Calla Shoes, and Tegep Boots. While bags are from Erfa Handmade, Deluniq, Kleuren, Manggar Natural, Phi -tone, Sloopie Handmade, and Srengenge.
At IFW 2017 press conference, Ahmad Zabadi, President of LLP-KUKM of the Ministry of Cooperatives and SMEs said that Galeri Indonesia WOW enables LLP-KUKM to encourage and support small enterprises to step into the international market. Pre-curated, the products at IFW 2017 is sure to have a high level of creativity and competitiveness.

JD by Jessica Iskandar walk in on the floor IFW 2017

0
Fashion Show JD by Jessica Iskandar di Indonesia Fashion Week 2017

JAKARTA – These days, people also look to Indonesia as one of the global fashion benchmarks. Indonesia is enjoying a boom in clothing line businesses and it has produced many top-notch international designers. Many Indonesian celebrities are also looking to expand into the fashion business, including Jessica Iskandar.

Jessica Iskandar first rose to fame with her starring role in Dealova, which she followed up with a successful career as a television presenter. Having cut her teeth in the entertainment industry, Jessica is now trying her hand in the fashion world, too. JD by Jessica Iskandar has good name brand recognition among the younger set.

Working with PT. Buana Lautan Mas, Jessica has complete control over design and material choices, production and distribution. Ramayana Department Store, one of the largest Department stores in Indonesia with 150 stores across 50 cities in Indonesia, is Jessica’s main distribution channel, allowing the brand to reach a wider audience. JD can be purchased at this department store chain. Ramayana, with its wide customer base, shares the same vision as PT. Buana Lautan Mas (as the company that develops JD by Jessica Iskandar), that is to provide affordable fashion products that are high quality, fashionable and up-to-date. JD by Jessica Iskandar can also be purchased online via instagram (@jedarindonesia) or through its website (jedar.co.id).

Jessica Iskandar is widely known as a fashionable, beautiful, and shrewd single mother with a great sense of mix-and-match fashion, which inspires her to start her JD brand. The line itself reflects Jessica Iskandar’s personality and character—simple, beautiful but still fashionable. She is a style role model for many young women in Indonesia—from teenagers to young mothers who care about their way of dressing.

Jessica Iskandar received the Hot Mama Tersilet Award 2016, further cementing JD as a competitive fashion brand in Indonesia.

At Indonesia Fashion Week 2017, the largest fashion event in Indonesia, JD has the opportunity take the runway alongside other fashion brands. It hopes to become even more recognized as a trendsetter in the Indonesian fashion industry.

Occupying one of IFW2017’s prime slots, Jessica Iskandar is not alone on the runway. She collaborates with her friends—A2T by Ayu Tingting, RA Jeans by Raffi Ahmad, and RA Hijab by Mamah Amy—to make IFW 2017 more festive.

Jessica Iskandar has great faith in her new fashion business. With her good public reputation, JD brand easily becomes well known in Indonesia, and a fashion inspiration for young women.

RA HIJAB, Celebrity Hijab Inspiration

0
RA Hijab di Indonesia Fashion Week 2017

FASHIONATIC BEAUTY IN GOLDEN FLOWER

JAKARTA – RA HIJAB or Rumah Amy Hijab is a fashion hijab brand by Amy Qanita, or Mamah Amy, mother of the famous Indonesian artist Raffi Ahmad.

RA HIJAB’s first Indonesia Fashion Week 2017 fashion runway is scheduled for Thursday, 2 February 2017, 8- pm WIB at the Plenary Hall Jakarta Convention Center.

This year’s collection, Fashionatic Beauty in Golden Flower, has been especially created for beautiful and fashionable fashion lovers. Fifteen design collections provide the freedom to mix-and-match, to choose between long dress, tunics, outerwear, skirts, pants, and an array of scarves, all embellished with beautiful handmade flower appliques. The color theme, golden flower, is inspired by beautiful flowers that blooms with a golden hue.

The fashion show will be attended by Mamah Amy, and RA HIJAB brand ambassadors such as Nagita Slavina, Syahnaz Sadiqah and Nisya Ahmad, and supported by Indonesia’s top models.

A Cultural Celebration at Indonesia Fashion Week 2017

0

TEMPO.CO, Jakarta: The annual fashion and culture event, Indonesia Fashion Week 2017, opens on 1 February 2017 at Jakarta Convention Center. The theme Celebration of Culture fits with the efforts of Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) to develop and promote Indonesia’s wealth of cultural heritage as a pillar of national economy.
Running from 1 February to 5 Febuary 2017, the event will see hundreds of fashion entrepreneurs and designers from all over Indonesia. By highlighting Indonesia’s rich cultural heritage, IFW 2017 hopes to be an opportunity for us to promote Indonesia’s culture and natural destinations to the world.
Video journalist: Dwi Oktaviane
Editor/Narrator : Dwi Oktaviane

TUNEECA, MY SIGNATURE

0

JAKARTA-Under PT Bina Fajar Estetika, Tuneeca is the first Muslim fashion company to widely market contemporary Muslim fashion. With the tagline “The First Contemporary Moslem Wear in Indonesia”, we offer an alternative way of dressing for women in Indonesia.

Since its establishment in 2008, Tuneeca has consistently presented original, unique, and contemporary designs, giving greater fashion options for those seeking sophisticated, modern, mature, and elegant Muslim-wear.

Each year, Tuneeca comes up with different themes that equally reflect beauty and modesty in fashion. By understanding the individual’s need to show off their unique fashion choices without sacrificing comfort, Tuneeca continuously explores modern styles that reflect elegance and maturity. Tuneeca highlights the wearer’s personality.

            Tuneeca began as an online shop, but has grown to reach all parts of Indonesia and even overseas. Today, we have around 100 distributor partners all across Indonesia, Malaysia, and Brunei Darussalam.

            Always confident and fashionable, always elegant and always the center of attention—these are testimonials from Tuneeca’s customers who have come to love our collections. Our customer’s loyalty is reflected in the activities of Tuneeca Lovers Community, established in 2013. Today, the community has more than 7000 members from Indonesia and abroad.

            The camaraderie between Tuneeca lovers are not limited to virtual interactions, but they have also organized gatherings in their home locations. Through Tuneeca Lovers Community, customers are able to make new friends in the area where they live.

            With Tuneeca, customers can step out more confidently, and set themselves apart from the rest. We fully believe that, with our concept, we will be able to penetrate the fashion market both in Indonesia and abroad, setting global Muslim-wear trends.

 

The Chronicle of Style by Tuneeca

At Indonesia Fashion Week 2017, Tuneeca’s theme is Chronicle of Style, to represent the journey of Tuneeca’s collections. ​The Chronicle of Style describes various fashion choices offered by Tuneeca through each of its collections. At the fashion show, held on 3 February 2017 at Jakarta Convention Center (JCC), the sense of history and journey through fashion is palpable.

            The Chronicle of Style is an example of Tuneeca’s consistency in putting forward a unique theme for its collections. Tuneeca’s customers always have wide range of styles to choose from, so they will always find something that suits their character and personality.

In 2017, Tuneeca is bolder than ever, with a collection that reflects unbounded creativity. Design innovations are Tuneeca’s focus to create high quality products. With these innovations, Tuneeca provides all women with trendsetting experiences.

The Chronicle of Style is one of the first steps in Tuneeca’s journey of innovation to create new trends.

Wardah Indonesia Fashion Week 2017 “YOUniverse: Celebration of Colors”

1

Four make-up looks by Wardah, eight fashion designers, and a line-up of musicians, help make “YOUniverse: Celebration of Colors” fashion show a spectacle to remember.
Jakarta, 3 February 2017 – Based on the premise that fashion and beauty are two intertwined industries, Wardah once again supports Indonesia Fashion Week as its Official Makeup and Hair Do Partner. Tonight, Wardah has prepared four of its latest makeup looks to complement the collections by Indonesian fashion designers on the “YOUniverse: Celebration of Colors” runway.
“Wardah is once again Official Makeup and Hair Do Partner at Indonesia Fashion Week 2017. This is one of Wardah’s commitments to support the Indonesian Fashion Industry. We are pleased to present four of Wardah’s newest makeup looks on the theme YOUniverse, to complement collections by eight Indonesian fashion designers, both for modest wear and modern wear,” said Salman Subakat, Sales Director at Wardah.
Following the theme, “YOUniverse: Celebration of Colors”, Wardah’s four makeup looks are: Genuine, Faithful, Brave, dan Serene. Focusing on the eyes and lips, these makeup looks represent the Indonesian woman in all her uniqueness. Indonesian women are invited to play with and explore makeup colors and to express their individuality without boundaries.

Collections by Eight Indonesian Fashion Designers
Wardah further contributes to the Indonesian fashion world by fully supporting Indonesian fashion designers on all fronts. For IFW 2017, Wardah has invited eight Indonesian designers to show their collections on the “YOUniverse: Celebration of Colors” runway.
These designers are Zaskia Sungkar, Barli Asmara, Dian Pelangi, Ria Miranda, Mel Ahyar for HAPPA, Malik Moestaram, Norma Hauri, and Kursien Karzai. Each of them has chosen one Wardah makeup look to complement their respective collections.
● Zaskia Sungkar and her ‘Kilau’ collection, with Brave makeup look.
● Barli Asmara and ‘Black Orchid Fervor’, with Faithful makeup look.
● Dian Pelangi with ‘Originality is a by Product of Sincerity’ and Genuine makeup look.
● Ria Miranda and ‘Principia’ with Serene makeup look.
● Mel Ahyar for HAPPA and the ‘PataRuna’ collection with Genuine.
● Malik Moestaram with ‘Flor de la Vida’ with Faithful.
● Norma Hauri with the collection ‘Integrated’ and Brave makeup look.
● Kursien Karzai with ‘The Glory of Victorian’ collection and Serene makeup look.

“On behalf of my fashion designer colleagues, I wish to convey our appreciation for Wardah’s support of the Indonesian fashion industry, which helps us to continue creating inspirational and original works. We hope that Wardah will continue to support the fashion world for years to come,” said Barli Asmara.

Positive Collaboration of Beauty, Fashion, and Celebrity
To Wardah, beauty and fashion are industries that support and complement one another. This collaboration becomes even more complete with the support of celebrities. It’s true that celebrity has always been closely related to these two industries, and this closeness has benefited the industries through, for instance, introducing works by makeup artists and fashion designer to a wider audience, which in turn helps the development of the beauty and fashion industry.
At IFW 2017, ‘When Beauty & Fashion Meets Music’ is a concept that puts together a fashion show and music concert by Vidi Aldiano and Maliq & d’Essentials. Support from these artists will hopefully allow IFW2017, and especially, Wardah’s fashion show “YOUniverse: Celebration of Colors” to attract a wider audience.
“This is my first time working with Wardah, and I’m grateful to Wardah for the opportunity to be at IFW 2017. Especially, in addition to fashion, Wardah is also known for its support of the Indonesian music industry. We hope that the performances can help to attract audience’s attention and make the atmosphere here more festive,” said Vidi Aldiano.

24 Years of APPMI

0

Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia celebrates its 24th anniversary this year. In its 24th year, APPMI is proud to play an even bigger role on the international fashion stage.
APPMI, founded on 22 July 1993, hosts its anniversary party at PLATARAN Jl. Darmawangsa Raya No.6 Kebayoran Baru, Jakarta. Mrs Poppy Darsono opens the occasion which sees many old and new faces, members of APPMI, such as Rudy Chandra, Jenny Ang, Nita Seno Adji, Kunce, Julie Artanty, Ervina Ahmad and Yudha Pratomo from warnatasku, etc.

INTERNATIONAL RELATIONS
In its 24th year, APPMI hopes to intensify its connection to the international fashion scene, by building good relationships with designer associations in other countries, participating in fashion week events in Europe (such as Italy and France), as it has done over these past few years. In this way, APPMI hopes that its 170-strong membership can foster relationships and business connections with fashion industries in other countries as well.

HUBUNGAN INTERNASIONAL

Dengan cara ini, APPMI berharap anggotanya yang sudah berjumlah 170 orang bisa membangun bisnis dengan pelaku mode di negara lain.

RA Hijab, Inspirasi Hijab Selebriti

0
Fashion Show RA Hijab di Indonesia Fashion Week

 

Fashion Show RA Hijab di Indonesia Fashion Week

FASHIONATIC BEAUTY IN GOLDEN FLOWER

JAKARTA – RA HIJAB atau Rumah Amy Hijab adalah brand fashion hijab karya dari Amy Qanita atau lebih di kenal dengan Mamah Amy, ibunda dari artis terkenal Indonesia Raffi Ahmad.

RA HIJAB pertama kali akan diluncurkan pada event  INDONESIA FASHION WEEK 2017 melalui  pagelaran fashion show pada hari Kamis, 2 Februari 2017, Pkl. 20.00 – 21.00 WIB di Plenary Hall Jakarta Convention Center.

Tema koleksi tahun ini adalah FASHIONATIC BEAUTY IN GOLDEN FLOWER, dipersembahkan untuk fashion lover yang selalu tampil cantik & fashionable setiap saat. Ditampilkan dalam 15 koleksi desain dengan konsep padu padan long dress, tunic, outer, skirt, pants & aneka scarf dengan detail handmade aplikasi bunga-bunga cantik. Adapun tema koleksi warna adalah Golden Flower, yang terinspirasi dari bunga-bunga cantik yang sedang bermekaran keemasan.

Fashion show akan dimeriahkan oleh Mamah Amy dan juga para brand ambassador RA HIJAB antara lain Nagita Slavina, Syahnaz Sadiqah & Nisya Ahmad serta di dukung oleh penampilan para top model Indonesia.

Informasi lebih lanjut mengenai RA HIJAB dapat menghubungi Telp.  0877.2211.2128 / 0811.1133.128, website: www.rahijab.com, Instagram: @rumahamy & @rumahamy.hijab, Facebook: rumahamy.hijab.

WARNATASKU Mengangkat Tema Pesona Mutiara Maumere

0

Jakarta 2 Februari 2017 – WARNATASKU adalah merk tas fashion premium yang dirintis sejak tahun 2011 yang saat ini berkantor pusat di daerah Jatibening, Bekasi.
Sejak awal dirintis, WARNATASKU selalu berkembang dalam sisi desain maupun kualitas, hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memajukan kerajinan tas lokal hasil karya Indonesia untuk bersaing dengan produk tas internasional. Aktifitas produksi sejak awal desain sampai dengan produk jadi dikerjakan seluruhnya oleh WARNATASKU. Bahan atau material kain yang dipakai adalah kain tradisional yang berasal dari daerah-daerah di Indonesia, melalui dunia fashion alasan penggunaan bahan ini dilakukan agar budaya Indonesia dapat tetap diwariskan dan dilestarikan kepada generasi selanjutnya. Selain pelestarian budaya kain tradisional, misi selanjutnya yang dibawa oleh WARNATASKU adalah meningkatkan taraf hidup pengrajin kain tradisional melalui pemilihan dan penggunaan bahan pada produk tas. Kain-kain tradisional hasil dari pengrajin lokal Indonesia memiliki banyak sekali keunggulan untuk bersaing dan memiliki segmentasi pasar dengan prospek yang sangat baik.
Tahun 2017 Konsistensi desain model yang dibuat tetap membawa kesan simple atau sederhana nan elegan. Kenyamanan kualitas dapat dilihat dari pemakaian bahan pada bagian dalam dan luar tas. Kami yakin sepenuhnya bahwa segmentasi pasar profesional muda sampai dewasa mampu menjadi trendsetter bagi perkembangan potensi kain tradisional Indonesia. Sudah saatnya masyarakat Indonesia sadar bahwa budaya Indonesia yang diterjemahkan melalui kain-kain tradisional lokal memiliki banyak sekali potensi dan keunggulan.

WRNATASKU Mengangkat tema Pesona Mutiara Maumere Pagelaran fashion pada tanggal 2 Februari 2017, Ervina Ahmad, desainer WARNATASKU menampilkan desain dan koleksi terbaru dengan kain tenun ikat Maumere. Pemilihan Maumere secara khusus ditampilkan karena memiliki potensi kekayaan, keindahan dan kekuatan budaya untuk dijadikan salah satu lokasi tujuan wisata di Indonesia. Selain itu, budaya tenun ikat yang dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat pengrajin memiliki filosofi sejarah dan makna yang luas untuk diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada pagelaran kali ini, WARNATASKU berkolaborasi dengan 6 (enam) desainer Indonesia dari APPMI DKI Jakarta antara lain Irwansyah Mec’s, Kunce Manduapessy, Verlita Evelyn, Dana Duryatna, Nita Seno Adji dan Yoyo Prasetyo.
Harapan Desainer Para desainer yang berperan serta pada pagelaran ini memiliki harapan besar kepada masyarakat Indonesia untuk dapat menghargai dan menjaga budaya Indonesia serta mampu mewariskan kepada generasi berikutnya untuk kejayaan Indonesia. Pagelaran kali ini pun ditujukan kepada pemerintah pusat dan daerah bahwa setiap daerah di Indonesia mampu memakmurkan Indonesia melalui potensi keberagaman budaya yang dimiliki.


Warnatasku adalah Indonesia. Dari Indonesia, oleh Indonesia dan untuk Indonesia.

RA Jeans Mengusung tajuk, The Sun, The Moon and The Stars

0

Jakarta, 31 Januari 2017 – Sebagai bentuk apresiasi di dunia fashion Indonesia, RA Jeans untuk kedua kalinya sejak di launching pada Oktober 2015 ikut bergabung dan memeriahkan acara Indonesia Fashion Week 2017. Setelah sukses di IFW tahun sebelumnya, kali ini RA Jeans kembali hadir di panggung IFW yang bertabur desainer – desainer ternama di Indonesia dengan koleksi terbaru dari RA Jeans.

Mengusung tajuk, The Sun, The Moon and The Stars, RA Jeans menampilkan fashion show di satu panggung dengan brand clothing line dari artis – artis papan atas Indonesia. Dengan menghadirkan fashion show yang lebih dari sekedar peragaan busana, yaitu peragaan busana dengan konsep Sporty dan Masculine, dimana RA Jeans akan memberikan kejutan Parkour dan Body Builder di atas panggung.

Sejalan dengan konsep IFW yaitu “Celebration of Culture”, RA Jeans menampilkan koleksi koleksi RA Jeans yang terinspirasi dari fashion dunia yang digabungkan dengan kultur budaya bangsa Indonesia. Fashion show RA Jeans sendiri akan dibawakan oleh pemilik brand clothing line ini sendiri, yaitu Raffi Ahmad. Raffi Ahmad akan hadir dalam panggung besar IFW sebagai icon dari RA Jeans itu sendiri.

Fashion Show RA Jeans akan dimulai Kamis, 2 Februari 2017 dan akan dimulai pada pukul 20.00 WIB. Kehadiran RA Jeans yang telah dibalut konsep yang berbeda dengan sebelumnya di IFW 2017 ini diharapkan menjadi sebuah inspirasi bagi dunia fashion Indonesia untuk terus berkarya dan berani berpikir serta bertindak out of the box.

Tentang RA Jeans

RA Jeans adalah brand clothing line milik Raffi Ahmad yang resmi dirilis Oktober 2015 yang berada di bawah PT. Buana Lautan Mas Garmindo. Mengusung gaya street wear yang disesuaikan dengan style terkini dari selera fashion di dunia menjadikan RA Jeans sangat cocok digunakan semua kalangan dalam setiap kegiatan sehari hari.

Menyasar target pasar dari anak – anak dengan lini RA Junior dan remaja hingga dewasa dengan lini RA Jeans yang mengeluarkan koleksi pakaian mulai dari baju, kemeja, jaket, sweater, hingga celana dengan harga yang relatif terjangkau namun dengan bahan yang berkualitas maka RA Jeans menempatkan diri mudah didapatkan di mana saja, mulai dari online store, retail hingga departemen store terkemuka yang ada di seluruh Nusantara.

RA Jeans lahir dari keinginan Raffi untuk bergelut di dunia bisnis fashion dengan brand sendiri. Setelah menjadi brand ambassador berbagai brand clothing line dan memberikan efek positif terhadap penjualan dan brand image untuk brand tersebut, maka Raffi optimis efek yang sama akan terjadi pada brand sendiri. Oleh Karena itu, dalam persiapan yang relative singkat yaitu selama 3 bulan, RA Jeans resmi di-launching pada Oktober 2015 di gerai RA Jeans di Senopati.

RA Jeans telah diekspor ke berbagai negara seperti Taiwan, Hong Kong, Singapura melalui reseller hingga pada bulan Oktober 2016, RA Jeans resmi mendirikan gerai di Malaysia, dengan cabang pertama di Anggerik Mall, Shah Alam.

Website RA Jeans dapat diakses melalui www.rajeans.co.id.

Pop Up Playground Toyota Sienta Meriahkan Indonesia Fashion Week 2017

0

Jakarta – Kemeriahan Indonesia Fashion Week (IFW) 2017 terasa berbeda dengan ditampilkannya Sienta Pop Up Playground dalam pagelaran busana internasional terbesar di awal tahun ini. Mengusung tema Sienta Unlock Your Playground, PT Toyota-Astra Motor (TAM) pada IFW 2017 yang berlangsung 1-5 Februari di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta ini berkolaborasi dengan lima desainer Indonesia ternama untuk menampilkan karya-karya busana yang mencerminkan karateristik dan desain stylish serta modern dari Sienta sebagai Multi Activity Vehicle (MAV) terbaru Toyota.

“Kehadiran All New Toyota Sienta di ajang fashion show terbesar Indonesia ini sejalan dengan karakter Sienta yang mampu mengakomodasi berbagai kegiatan konsumen serta desain stylish dan modern yang juga ditampilkan oleh pakaian yang dirancang dan ditampilkan oleh lima desainer terkemuka Indonesia,” kata Vice President Director PT Toyota-Astra Motor (TAM) Henry Tanoto, di sela-sela penyelenggaraan Indonesia Fashion Week 2017,  di Plenary Hall, JCC, Jakarta.

Dengan kehadiran Sienta Pop Up Playground, selama penyelenggaraan Indonesian Fashion Week 2017 pengunjung tidak hanya disuguhkan hasil karya-karya lima desainer ternama Indonesia, seperti Yosep Sinudarsono, Ardistia New York, Hartono Gan, Mety Choa dan Rika Mulle, tetapi juga dapat mengikuti berbagai kegiatan yang didukung TAM seperti talk show tentang perkembangan lifestyle bersama Hanifa Ambadar dan Merry Riana.

“Seperti desainer-desainer lokal yang memberikan aksen unik pada desainnya, Sienta pun hadir menyesuaikan kebutuhan konsumen Indonesia,” kata Henry.

Seperti diketahui, ground clearance Toyota Sienta untuk pasar Indonesia didesain lebih tinggi 25 mm dibandingkan di pasar Jepang, sehingga tidak perlu khawatir untuk menjelajah berbagai sudut kota.

Sementara fitur dive-in seat, membuat bangku ketiga mudah dilipat dan membuat ruang belakang menjadi lebih luas untuk menyimpan barang-barang di dibawah bangku kedua. Bagasi akan memudahkan untuk membawa berbagai barang dan perlengkapan untuk kepentingan aktivitas sehari-hari.

“Kebutuhan dan gaya hidup masyarakat perkotaan inilah kami ingin gambarkan melalui Sienta Pop Up Playground yang telah TAM selenggarakan semenjak tahun lalu. Sebelumnya, kami juga telah menggelar 5 aktifitas Sienta Pop Up Playground dengan berbagai tema lifestyle activity, seperti Weekend Healthy Living melalui aktivitas Zumba, Yoga, Fun Bike, Dog’s Day Out, serta Fashion,”  ucap Henry.

 

 

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

Dimas/Suci/Agung

Media Relation

PT Toyota-Astra Motor

dimas.aska@toyota.astra.co.id;

suci.rahmadhany@toyota.astra.co.id;

agung.widiatmoko@toyota.astra.co.id

 

TENOEN ETNIK 6 DESAINER BERSAMA BADAN EKONOMI KREATIF

0

JAKARTA − Disponsori oleh BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif), enam desainer ternama menampilkan karya terbaik mereka pada pagelaran Indonesia Fashion Week 2017 bertajuk Tenoen Etnik. Adalah Ida Royani, Jenahara, Torang Sitorus, Jeny Tjahyawati, Anne Rufaidah, dan Nieta Handayani yang akan mempertunjukkan karyanya pada pagelaran ini. Empat di antaranya (Ida Royani, Jenahara, Jeny Tjahyawati, dan Torang Sitorus) akan berkolaborasi menampilkan kreasi dari Ulos, kain khas adat Batak.

Hampir 15 tahun mempromosikan kain khas NTT, tahun ini Ida Royani membuat terobosan baru pada rancangan busana muslimnya dengan menggunakan kain khas Sumatera Utara, Ulos. Agar tidak monoton, Ida Royani membagi tema untuk pagelaran busananya kali ini ke dalam dua jenis kain Ulos yang berbeda, yaitu Pinuncaan dan Sadum. Dibandingkan Ulos lainnya, Ulos Pinuncaan memiliki harga jual paling tinggi, karena Ulos ini dibuat dari 5 kain tenun yang telah disatukan.

Ida mengolah Ulos Pinuncaan ini dengan pilihan warna hitam dan putih. Aturan pemakaian Ulos ini demikian ketat hingga ada golongan tertentu di Tapanuli Selatan dilarang menggunakannya. Dengan pilihan warna hitam, ungu, dan pink tua, Ida mengolah kain Ulos ini tidak hanya menjadi baju, tetapi juga menjadi sepatu dan tas. Seluruh Ulos ciptaannnya ini dapat digunakan baik untuk acara formal maupun informal.

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Jenahara dengan lini Jenahara Black Label menampilkan pula rancangan Ulos yang tak kalah menarik seperti sang ibunda, Ida Royani. Menamakan koleksinya Hinauli, Jenahara Black Label mengolah kain khas Batak dengan sentuhan edgy yang minimalis.

Hinauli merupakan bahasa batak yang memiliki arti keindahan. Motif dari kain ulos sendiri memiliki kesan ketegasan yang kemudian dipadukan oleh Jenahara dengan warna monotone yang selama ini telah menjadi ciri khasnya, kali ini didominasi hitam dan merah maroon. Potongan pada koleksi Hinauli ini sangat edgy, simple, asimetris, serta menggunakan teknik drapping pada beberapa looks sebagai fabric treatment pada koleksi Hinauli.

Masih menggunakan kain Ulos khas Sumatra Utara, Jeny Tjahyawati membuat rancangan yang bertajuk Rarigami Reconstruction. Terinspirasi dari Origami  dan Ulos Radigub, ia menggabungkan keduanya dan menciptakan rancangan bergaya feminin elegan dengan siluet H-Line. Ulos Ragidub merupakan salah satu jenis ulos dari Batak Toba yang memiliki derajat paling tinggi dalam tradisi Batak Toba. Origami sendiri merupakan sebuah seni lipat yang berasal dari Jepang dimulai sejak pertengahan 1900-an.

“Saya menggabungkan dua budaya yang bertolak belakang ini menjadi satu dan menciptakan jenis etnik baru yang tetap khas Indonesia,” ujar Jeny pada konferensi pers, Rabu (01/02). Melalui kemahiran tangannya, origami ini digunakan sebagai detail hiasan yang memberikan efek 3D pada koleksinya, sehingga memberi kesan hidup. Warna-warna yang digunakan untuk ditampilkan di Indonesia Fashion Week 2017 adalah putih gading, hitam, dan merah.

 

Koleksi bertema “The Passamot” adalah bentuk tribut Torang Sitorus lainnya pada kesederhanaan dan kesakralan yang mengakar begitu dalam bagi kekayaan budaya, warna, dan tekstil Batak. Terinspirasi dari cerita haru nan bahagia dalam ritus perkawinan adat batak,  momen disaat orang tua pengantin perempuan memberikan Ulos Passamot kepada orang tua pengantin laki-laki sebagai wujud terima kasih telah merelakan anaknya untuk hidup berdampingan bersama putri kesayangannya, mengganti tugasnya untuk membimbing putrinya, Borhat ma dainang!! Pergilah kau, hai putriku!! Puncak keharuan yang hanya tergambar oleh derai air mata kebahagiaan. Ulos Passamot adalah wujud berkat dan doa dalam suasana suka.

Koleksi “The Passamot” bermotif artistik dan didominasi oleh warna-warna lembut dan tegas: beige, burgundy, dark grey dan maroon yang diaplikasikan dalam sentuhan urban lifestyle berbahan katun. Cerita Passamot, warna dan pilihan cutting menyatu dalam sebuah tampilan dramatis koleksi The Passamot dengan tetap bertahan pada prinsip kesederhanaan dan kesakralan Ulos.

Masih sesuai dengan tema, Nieta Tjahyawati dan Anne Rufaidah juga turut meramaikan pagelaran ini dengan koleksi yang tak kalah menarik.

Tahun ini, Anne Rufaidah akan menampilkan 16 pakaian bertema etnik yang mengangkat kecantikan dan kekayaan alam dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Pakaian yang bertajuk Tenoen Etik ini nantinya akan dikombinasikan dengan tenun dari Tana Toraja, hal ini karena banyaknya kecocokan warna dari dua kain tersebut.

Dia mengatakan, pemilihan tenun dari Indonesia Timur karena ingin mendukung pariwisata nasional yang saat ini sedang gencar dipromosikan yang ingin mengenalkan 10 destinasi wisata antara lain Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Borobudur, Bromo-Tengger-Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi, dan Morotai.

Menggunakan tenun khas Sulawesi Tengah, Nieta Handayani mengusung Nagaya Donggala sebagai tema pakaian yang akan ditampilkan di Indonesia Fashion Week 2017. Nagaya merupakan bahasa Donggala yang berarti cantik.

Tenun Donggala yang digunakan adalah tenun bomba yang akan memberikan motif bunga-bunga untuk outfit rancangan Nieta. Dia mengaku ingin mempromosikan kain khas Sulawesi Tengah yang saat ini masih jarang dikenal oleh masyarakat.

Baik tenun Sumatera, NTT, hingga Sulawesi akan meramaikan pagelaran busana ini. Keenam desainer tersebut berharap, tenun Indonesia dapat semakin dekat dengan masyarakat dan dapat terkenal hingga ke mancanegara.

Indonesia Fashion Week 2017 Resmi Dibuka

0

 

JAKARTA – Poppy Dharsono, Presiden Indonesia Fashion Week 2017 meresmikan pembukaan pekan mode terbesar di Indonesia pada Rabu pagi (01/02).

Ajang fashion bertema “Celebrations of Culture” ini akan digelar sejak 1 hingga 5 Februari 2017. Poppy mengungkapkan, IFW merupakan upaya berkesinambungan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) yang berkomitmen untuk terus mengembangkan dan mempromosikan kekayaan budaya Indonesia sebagai salah satu benteng ekonomi nasional.

Opening ceremony Indonesia Fashion Week 2017 berlangsung meriah dengan penampilan fashion show dari puluhan desainer yang akan turut berkolaborasi selama lima hari ke depan.

Indonesia Fashion Week 2017 sebagai ajang yang menjujung tinggi nilai kebudayaan dan kewirausahaan ini sangat mendapat apresiasi dari berbagai pihak di Indonesia, ditandai dengan hadirnya perwakilan dari Kementerian pada acara Opening Ceremony, Rabu (01/02).

Di antaranya adalah Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pariwisata, Kementerian Ekonomi dan UKM, Badan Ekonomi Kreatif dan Duta Besar negara sahabat. Banyak pula tamu dari luar negeri yang turut hadir untuk menyaksikan pekan busana ini.

Indonesia Fashion Week 2017 semakin menarik dan mendapat perhatian dunia internasional karena tidak hanya mencakup ranah budaya, tetapi juga pariwisata. Menitikberatkan budaya dari berbagai destinasi wisata yang tengah digalakkan oleh pemerintah Indonesia; di antaranya; Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Borobudur, Bromo-Tengger Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi, dan Morotai, yang menjadi inspirasi perayaan budaya pada pergelaran IFW 2017. Melalui penggunaan bahan baku seperti tenun, songket, dan batik dari berbagai daerah di Indonesia maupun motif yang menginspirasi detail pada busana seperti bordir.

Selama lima hari ke depan, Indonesia Fashion Week 2017 akan dimeriahkan oleh ratusan pelaku bisnis fashion dan perancang dari berbagai penjuru nusantara. Perhelatan ini akan menempati area Jakarta Convention Center (JCC) seluas lebih dari 24.000 meter persegi. Dengan menampilkan 20 peragaan busana, 10 seminar, kompetisi dan lokakarya, 10 talk shows serta memamerkan ratusan merek lokal.

Sesuai dengan tema “Celebrations of Culture”, keseluruhan rangkaian acara akan dikemas sedemikian rupa hingga dapat mewakili kekayaan khasanah budaya Indonesia, mulai dari tata panggung dan keseluruhan ruang, arena pameran dan kompetisi akan diarahkan ke seluruh aspek yang menguatkan identitas Indonesia, hingga model pada pagelaran busana semuanya merupakan asli Indonesia.
Dengan mengusung khasanah kekayaan Indonesia, baik budaya, wisata alam, maupun sumber daya manusianya, Indonesia Fashion Week 2017 diharapkan dapat semakin mengharumkan nama Indonesia di mata internasional melalui industri fashion. 

Desainer asal Australia, Jaimie Sortino juga turut hadir di IFW 2017. Ini merupakan kali pertama Sortino mengikuti ajang fashion di Indonesia. Dia mengaku merasa terhormat bisa menampilkan busana rancangannya di IFW kali ini.

“Kami mulai menunjukkan koleksi di mata internasional pada November lalu di New York, kemudian kami ke Indonesia. Saya merasa terhormat bisa berpartisipasi di IFW dan bekerja sama dengan desainer luar biasa asal Indonesia,” ujar Sortino.

Dalam rancangannya, Sortino memiliki visi untuk meningkatkan daya tarik couture. Di fashion show ini, Sortino akan menampilkan gaun bertema romantic fairytale. Sortino juga membawa koleksi terbarunya yang berjudul Hymn ini berkonsep to To The Flora yang merupakan penghargaan untuk Flora dan keindahan hydrangea. Rancangannya ini akan menggunakan warna biru dan ungu yang terinspirasi dari hydrangea.

 

 

Dukung Industri Kreatif, Mandiri Hadirkan Indonesia Fashion Week

0

Press Release
CEO.CSC/PR.09/2017

Jakarta, 1 Februari 2017 – Bank Mandiri terus merealisasikan komitmennya dalam memakmurkan negeri melalui dukungan kepada industri kreatif. Kali ini Bank Mandiri bersinergi bersama Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) menyelenggarakan perhelatan tahunan Indonesia Fashion Week (IFW) 2017. Sekitar 200 perancang busana dan 400 peserta pameran akan unjuk kemampuan dalam menampilkan koleksi busana dan produk-produk kreatif bernuansa etnik kontemporer di ajang ini.

Menurut Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas, keterlibatan perseroan yang dilakukan melalui unit Mandiri Art pada event ini menjadi bukti komitmen kuat perseroan dalam mendorong penciptaan ekosistem industri kreatif berbasis fesyen untuk dapat menopang perekonomian nasional.

“Sebagai implementasi komitmen pada industri kreatif, kami juga menghadirkan beberapa pelaku fesyen alumni program Wirausaha Muda Mandiri (WMM) untuk menampilkan produk kreasi mereka. Harapannya, mereka dapat menunjukkan hasil konkrit dari pembinaan dan dukungan yang telah mereka dapatkan selama ini,” kata Rohan.

Ditambahkannya, Bank Mandiri telah membina lebih dari 1.500 pelaku industri kreatif melalui program WMM dan berbagai program pembinaan wirausaha kreatif lainnya, dimana sebagian besar peserta program tersebut merupakan generasi muda potensial yang mampu menciptakan lapangan kerja untuk masyarakat sekitar. Atas jumlah tersebut, penyelenggaraan program pelatihan, dukungan pemasaran maupun kontribusi finansial lain yang telah diberikan mencapai Rp100 miliar sejak pertama kali penyelenggaraan WMM pada 2007.

Dia mencontohkan beberapa alumni WMM di bidang fesyen telah memiliki pasar yang luas seperti, Dea Valencia Budiarto pemiliki merk Batik Kultur yang merupakan alumi WMM tahun 2013, Yasa Paramita Singgih founder Men’s Republic yang merupakan alumni WMM tahun 2015 dan Yuka helanda founder Brodo Shoes merupakan alumni program pembinaan UKM Bank Mandiri.

“Kami percaya banyak generasi muda Indonesia adalah intan yang belum terasah. Mereka memiliki potensi, bakat dan kreativitas yang bisa dipupuk dan dikembangkan. Untuk itu, kami akan terus mengembangkan program Wirausaha Muda Mandiri agar bisa mengasah intan-intan muda Indonesia,” kata Rohan

Layanan Pembayaran

Dalam kesempatan itu, Bank Mandiri juga menyiapkan sistem pembayaran non tunai untuk membantu keamanan dan kenyamanan para pengunjung saat bertransaksi, baik untuk fesyen maupun kuliner di ajang tahunan tersebut.

“Seluruh transaksi di ajang ini akan difasilitasi mesin elektronic data capture (EDC) Bank Mandiri. Seluruh pengunjung juga akan dapat memanfaatkan Kartu Debit, Kartu prabayar e-money dan Kartu Kredit Mandiri. Bahkan pengunjung dapat menikmati program bunga 0% selama maksimal 12 bulan untuk setiap transaksi dengan Kartu Kredit Mandiri,” jelas Rohan.

Rohan menambahkan, pihaknya berharap dapat memfasilitasi transaksi hingga mencapai Rp120 miliar dalam perhelatan yang akan digelar selama 1-5 Februari 2017 tersebut.

Tentang PT Bank Mandiri (Persero), Tbk.

Bank Mandiri adalah salah satu bank terkemuka di Indonesia dengan layanan finansial kepada nasabah yang meliputi segmen usaha Corporate, Commercial, Micro & Business, Consumer Banking serta Treasury. Bank Mandiri pada saat ini memiliki anak-anak perusahaan untuk mendukung bisnis utamanya yaitu: Mandiri Sekuritas (jasa dan layanan pasar modal), Bank Syariah Mandiri (perbankan syariah), Bank Mandiri Taspen Pos/Mantap (UMKM), AXA-Mandiri Financial Services (asuransi jiwa), Mandiri InHealth (asuransi kesehatan), Mandiri AXA General Insurance (asuransi umum), Mandiri Tunas Finance (jasa pembiayaan), Mandiri Utama Finance (jasa pembiayaan), Mandiri International Remittance (remitansi), Mandiri Europe (treasury & financial institution) dan Mandiri Capital Indonesia (Pembiayaan modal ventura).

Hingga September 2016, jaringan Bank Mandiri telah tersebar di seluruh Indonesia yang meliputi 2.505 kantor cabang dan 7 kantorcabang/perwakilan/perusahaan anak di luar negeri. Layanan distribusi Bank Mandiri juga dilengkapi dengan 17.461 unit ATM yang terhubung dalam jaringan ATM Link, ATM Bersama, ATM Prima dan Visa/Plus, lebih dari 269.300 Electronic Data Capture (EDC) serta jaringan elektronik yang meliputi Internet Banking, Mandiri Mobile, SMS Banking dan Call Center 14.000.

Keterangan lebih lanjut:

Rohan Hafas
Corporate Secretary
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
Telp 021-5245740 Fax 021-5268246
rohan.hafas@bankmandiri.co.id

Indonesia Fashion Week 2017 Celebrates Indonesian Culture

0

Jakarta. Indonesia Fashion Week is annually presented by the Indonesia Fashion Designers and Fashion Entrepreneurs Association, or Appmi, since 2012 and will be held at the Jakarta Convention Center in Senayan, South Jakarta on Feb. 1.

For the first time, the event will be spread over five days and Appmi will present 25 fashion shows, 10 seminars, 10 talk shows and an exhibition featuring more than 520 local fashion brands.

Themed “Celebration of Culture,” this year’s event will highlight the various aspects of Indonesian culture.

“In a globalized era, we should identify ourselves and express ourselves more with our own culture,” Poppy Dharsono, co-founder of Appmi and president of IFW 2017, said during a press conference in Jakarta on Tuesday (17/01).

Standing Out

Celebrity fashion designer and new member of Appmi, Ivan Gunawan, was appointed as the event’s creative director this year and explained how this year’s event will be different.

“We will present Indonesian culture in a fresh, modern way,” Ivan said adding that the main entrance of the event has been adorned with giant LED screens showcasing the intricate process involved in making traditional fabric in Indonesia.

There will also be art installations featuring handwoven fabrics from East Nusa Tenggara, as well as embroidery by traditional artisans from Kudus, Central Java, at the heart of the exhibition area.

“The installations will also serve as great spots for visitors to take pictures,” Ivan said.

The exhibition area will be divided into two main areas, which are dedicated to conventional ready-to-wear and modest wear lines.

“Fashion enthusiasts will enjoy the exhibition, which includes accessories, shoes, handbags, textiles and much more,” Ivan said.

“It’s a one-stop destination for all fashion lovers,” the creative director explained.

“We’ve created a special 30-meter-long runway for the event,” Ivan said.

Additionally, Appmi has decided to hire only Indonesian models for the event this year.

“We want to support, highlight and promote Indonesian models through our event,” Ivan said.

A new addition to the event this year is the culinary section that will showcase traditional Indonesian cuisine from all over the country.

“With the new culinary section, visitors don’t have to exit the exhibition area to replenish themselves,” Poppy Dharsono, the president of IFW 2017, said. “Patrons can also sample some of the best dishes that Indonesia has to offer.”

Boosting the Economy

“IFW is an important national event, as well as a platform for Indonesian fashion legends,” Edy Putra Irawady, Indonesia’s deputy chief economic minister.

Edy also believes the event will help boost Indonesia’s economy.

“IFW encourages consumption, investments and exports. With the success of this event, Indonesia can easily achieve 5.2 – 5.4 percent gross domestic product growth.”

Appmi expects 157,500 visitors to attend the event and Rp 120 billion ($1.49 million) worth of transactions to be made, which is a 20 percent increase in transactions from last year.

Jakarta Globe,  2:14 PM January 19, 2017

Dalam Hitungan Hari, Indonesia Fashion Week 2017 Siap Digelar

0

JAKARTA – Ajang Indonesia Fashion Week 2017 siap digelar. Dalam hitungan hari ajang fesyen yang mengusung tema Celebrations of Culture ini akan mengangkat dan memperkenalkan warisan budaya bangsa Indonesia melalui fesyen.

Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) berkomitmen untuk mendukung dan mempromosikan budaya Indonesia dengan cara mentransformasikan fesyen lokal yang dikemas modern agar bisa diterima di kancah internasional.

Berbeda dari tahun sebelumnya, IFW kali ini akan digelar selama lima hari berturut-turut yakni mulai tanggal 1 hingga 5 Februari 2017 di Jakarta Convention Center (JCC). Pekan mode tahunan ini akan diramaikan oleh lebih dari 400 peserta pameran dan menampilkan 25 peragaan busana dari sekitar 200 perancang busana, kompetisi, seminar, talk show dan workshop.

Presiden Indonesia Fashion Week 2017, Poppy Dharsono mengungkapkan, ajang ini bertujuan untuk memahami kekuatan yang dimiliki oleh penggiat mode Indonesia untuk mendukung pemerintah dalam mempromosikan 10 destinasi wisata unggulan, salah satunya Nusa Tenggara Timur (NTT).

Poppy menambahkan, melalui APPMI, IFW diharapkan dapat menjadi jembatan bagi pengrajin, fashion craft, dan designer untuk melindungi budaya dan sejarah Indonesia. “Fashion tak lagi hanya sekedar tampil apik di kemasan luarnya saja, namun juga memiliki kearifan dan kepedulian terhadap sosial, budaya, dan lingkungan,” kata Poppy saat acara IFW Pre-event Gathering di Jakarta, Selasa (17/1).

“Kali ini, kami mengolah tenun lokal yang diambil dari 22 kabupaten di NTT untuk menjadi sebuah rancangan yang bisa diterima pasar lokal maupun internasional,” ujar Poppy. Selain tenun NTT, IFW 2017 juga akan diwarnai dengan bordir dan sulaman hasil pengrajin dari Kudus, Jawa Tengah. Kemudian, pengrajin dari Banyuwangi dan Gianyar juga turut memeriahkan ajang fesyen terbesar se-Indonesia ini.

Poppy menambahkan, untuk terus mengembangkan industri fesyen para desainer dan pihak terkait harus menggencarkan kegiatan pemasaran dan menciptakan produk berkualitas baik. Hal ini karena industri mode di Indonesia masih memiliki ruang untuk terus tumbuh.

Geliat industri fesyen dalam negeri bisa tercermin dari kelas menengah yang masih akan terus tumbuh. “Kelas menengah dan kelas atas terus naik, biasanya mereka dalam satu bulan membeli pakaian di luar negeri. Sekarang satu dari dalam dan satu dari luar negeri, ini sudah lebih baik,” kata Poppy.

Menurut Poppy, industri fesyen ini cukup kuat karena ditopang oleh industri-industri kecil yang lebih giat untuk bangkit. “Harapan kami, IFW dapat memfasilitasi kesenjangan itu,” tambah Poppy. Ajang fesyen tahunan yang digagas oleh APPMI ini menargetkan 150 ribu pengunjung untuk gelaran tahun ini.

 

APPMI Raih Penghargaan Internasional

Rutin terselenggaranya ajang fesyen bergengsi, Indonesia Fashion Week setiap tahun adalah salah satu alasan yang membawa APPMI meraih penghargaan International Star Award for Quality in the Gold Category di Geneva. Presiden Business Initiative Directions (BID), Jose E Prieto mengungkapkan penghargaan tersebut patut diberikan karena APPMI memiliki Total Quality Management (TQM) yang baik.

“APPMI sudah menjadi contoh yang baik untuk kualitas kepemimpinan, teknologi, dan inovasi dalam meningkatkan keunggulan,” ujar Prieto dalam keterangan resminya.

Ketua umum APPMI Poppy Dharsono bersyukur APPMI bisa mendapatkan penghargaan yang diberikan oleh lembaga internasional tersebut. “Penghargaan ini adalah sebuah kehormatan untuk APPMI yang selama ini memiliki kegiatan konkret dalam bidang fashion di tanah air,” kata Poppy.​​

 

—selesai—

Indonesia Fashion Week 2017 to Spearhead Indonesia’s Creative Industry

0

Jakarta. Fashion, part of Indonesia’s creative industries, is undoubtedly an important facet of the country’s economy.

“Overall, the creative industries contributed 7 percent to our [2015] GDP, or around Rp 805 trillion [$60 billion],” said Poppy Dharsono, president of the Indonesia Fashion Designers and Fashion Entrepreneurs Association (APPMI), in a press conference in Gran Mahakam Jakarta, on Thursday (10/11).

“And the fashion industry alone contributed 2% of our GDP, or around Rp 241.5 trillion.”

The industry is also labor-intensive. According to the data of the Ministry of Cooperatives and Small-to-Medium Enterprises, the industry currently employs around 3.8 million people.

Indonesia’s fashion industry is still growing and more events and promotions are needed to boost that growth.

APPMI has been presenting the Indonesia Fashion Week (IFW) annually since 2012. And they plan to hold an even bigger IFW early next year.

The “Celebrations of Culture” event is planned to feature more than 500 local brands at the Jakarta Convention Center Feb. 1 to 5.

“[The theme] represents our continuous efforts to establish local cultures as one of the bastions of national economy,” said Poppy.

It will also be the first time that IFW is going to be held for five days. In the previous years, the event was held for three days only.

As in the previous years, the event will mainly consist of fashion shows, fashion and accessories exhibitions, talkshows, seminars and fashion design competitions.

Modest wear is going to be a special highlight of the event.

“Modest wear is universal,” said APPMI’s president. “It can be worn by Muslims and non-Muslims alike.”

In IFW 2017, premium modest wear label Shafira, which is also a main sponsor of the event, is going to launch latest collection “Shafira Carnival” in a solo fashion show.

“The collection will feature beautiful motifs of traditional textiles and embroideries from West Sumatra,” said Shelvy Arifin, vice president of Shafira.

This year, the organizer will add a new section to IFW, featuring culinary delights from all over the archipelago.

“With the culinary section, visitors don’t have to exit the exhibition area to replenish themselves and they can sample the best that Indonesia has to offer,” Poppy said.

The organizer expects around 157,500 visitors during five days of the event.

The event is supported by a number of government ministries, including the Coordinating Ministry of Economy, the Ministry of Cooperatives and Small-to-Medium Enterprises, Ministry of Tourism and Ministry of Industries.

“IFW can be a selling point of Indonesia’s economy,” said Edy Putra Irawady, deputy to the coordinating minister of economy. “Like Java Jazz, it can attract a lot of people to come to Indonesia and contribute to the local economy.”

The ministry of tourism promises to promote the fashion event aggressively to attract local and international visitors.

“[IFW] is a national event that’s in line with the government’s spirit of [developing] Indonesia Incorporated,” said Tazbir, assistant deputy minister of tourism. “We fully support this event and are going to promote it through social media and banners in hotels, airports and shopping malls.”

jakartaglobe.id

APPMI Siap Gelar Ajang Fashion Akbar Indonesia Fashion Week 2017

0

Berita Pers

APPMI Siap Gelar Ajang Fashion Akbar;
Indonesia Fashion Week 2017

Jakarta, 10th November 2016 – Ajang fashion dan budaya Indonesia tahunan siap digelar awal tahun depan dengan mengusung tema; “Celebration of Culture” Tema yang diambil sejalan dengan upaya berkesinambungan dari APPMI (Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia) yang berkomitmen untuk terus mengembangkan dan mempromosikan kekayaan budaya Indonesia sebagai salah satu benteng ekonomi nasional. Dalam era globalisasi ekonomi, upaya untuk mengangkat warisan budaya nasional menjadi tanggung jawab semua pihak, termasuk pelaku industri fashion.

Acara yang digelar pada 1 hingga 5 Februari 2017 akan dimeriahkan oleh ratusan pelaku bisnis fashion dan perancang dari berbagai penjuru Nusantara. Gelaran ini akan menempati area Jakarta Convention Center (JCC) seluas lebih dari 24.000 meter persegi. Ajang akbar ini akan menampilkan 20 peragaan busana, 10 seminar, kompetisi dan lokakarya, 10 talk shows serta memamerkan ratusan merek lokal.

“IFW 2017 akan menampilkan konsep Celebrations of Culture. Keseluruhan rangkaian acara akan dikemas sedemikian rupa hingga dapat mewakili kekayaan khasanah budaya Indonesia,” papar Poppy Dharsono, President APPMI. “Tata panggung dan keseluruhan ruang, arena pameran dan kompetisi akan diarahkan ke seluruh aspek yang menguatkan identitas Indonesia. Penyelenggara sudah mulai menjalani proses kurasi sehingga seluruh produk yang ditampilkan selama ajang Indonesia Fashion Week 2017 dapat sesuai dengan nilai-nilai yang berkaitan dengan tema acara,” tambah Poppy.

Ragam kekayaan budaya Indonesia telah menjadi salah satu kontributor kunci bagi perkembangan pesat industri fashion Indonesia. Dengan mengusung khasanah warisan budaya Indonesia, The Indonesia Fashion Week 2017 diharapkan dapat menjadi salah satu peluang untuk mempromosikan kekayaan budaya dan wisata alam Indonesia kepada dunia.

Ajang Indonesia Fashion Week 2017 mendatang akan menitikberatkan budaya dari berbagai destinasi wisata yang tengah digalakkan oleh pemerintah Indonesia; diantaranya; Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Borobudur, Bromo-Tengger-Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi, dan Morotai, yang nantinya akan menjadi inspirasi perayaan budaya pada pergelaran IFW 2017. Dengan mengusung program yang telah dicanangkan oleh pemerintah ini, IFW 2017 diharapkan dapat menjadi sarana promosi wisata melalui industri fashion.

–selesai–

Tentang IFW
Indonesia Fashion Week merupakan ajang fashion Indonesia akbar yang bertujuan mendukung industri fashion di Indonesia. Ajang ini juga menjadi sarana untuk mendukung para perancang serta pelaku industri fashion dari seluruh penjuru Nusantara hingga internasional.

Tentang APPMI
APPMI memiliki sekitar 200 anggota aktif yang terdiri dari perancang senior dan perancang muda berbakat yang tersebar di 11 Provinsi di Indonesia. Seluruh anggota APPMI mengoperasikan butik atau gerai ritel di kota besar perwakilan. Masing-masing perancang memiliki kekhasan dan pangsa pasar masing-masing. Mulai dari busana musim, busana siap pakai, busana malam dan busana pengantin. Selain itu, juga ada desainer khusus sepatu, tas dan aksesoris.

Untuk keterangan lebih lanjut, mohon hubungi;
Cylke Atwir
Media Relations
cylke@indonesiafashionweek.id

Kementerian Perindustrian terus berupaya menekan laju impor produk fashion di pasar dalam negeri

0

JAKARTA, KOMPAS.com – Kementerian Perindustrian terus berupaya menekan laju impor produk fashion di pasar dalam negeri.

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah Gati Wibawaningsih pun mempersiapkan langkah-langkah strategis guna meningkatkan daya saing produk fashion nasional.

“Pemerintah berkomitmen mengamankan industri fashion, di antaranya melalui pembatasan pelabuhan impor, safeguard bagi industri fashion serta pemberlakuan SNI,” ujar Gati Wibawaningsih pada acara Soft Opening Indonesia Fashion Week (IFW) 2017 di Jakarta, Kamis (10/11/2016).

Di samping itu, Gati mengimbau kepada para desainer dan pelaku industri fashion nasional agar makin meningkatkan penggunaan bahan baku dan aksesoris produk dalam negeri.

“Akan dibuat material center yang bekerja sama dengan asosiasi sehingga IKM mendapatkan bahan baku dan bahan penolong dengan harga lebih murah,” tuturnya.

Dalam pengembangan daya saing industri fashion nasional, Kemenperin juga menjalankan berbagai kegiatan seperti bimbingan teknis, pendampingan tenaga ahli, restrukturisasi mesin dan peralatan, penumbuhan wirausaha baru serta fasilitasi promosi melalui berbagai pameran dalam dan luar negeri.

“Terkait upaya perluasan pasar, kami akan memfasilitasi melalui e-smart IKM dengan memanfaatkan marketplace yang ada sehingga pasar online dalam negeri tidak dibanjiri oleh produk impor,” papar Gati.

Penyelenggaraan IFW diharapkan menjadi sarana untuk menampilkan produk-produk unggulan fashion dalam negeri.

Bahkan, kegiatan ini juga menjadi stimulus bagi pelaku IKM untuk meningkatkan kreativitas agar mampu bersaing dan mengembangkan usahanya.

Kemenperin mencatat, industri fashion merupakan salah satu dari 16 kelompok industri kreatif yang berperan penting dalam perekonomian nasional.

Berdasarkan data BPS, nilai ekspor produk fashion pada tahun 2015 mencapai 12,11 miliar dollar AS atau naik 2,75 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pasar utama ekspor produk fashion Indonesia antara lain Amerika Serikat, Eropa dan Jepang. Jumlah tenaga kerja yang terserap oleh industri fashion nasional sebanyak 1,1 juta orang.

Penulis : Pramdia Arhando Julianto
Editor : M Fajar Marta

16 Perancang Busana Jatim Tampilkan Inovasi Trend Center Batik 2016

1

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA – Peringatan tahun ketujuh Batik Fashion Festival 2016 dihelat di Atrium ITC Surabaya, Jawa Timur.

Peragaan busana tahunan yang diprakarsai Asosiasi Perancang Pengusaha Model Indonesia DPP Jawa Timur ini menghadirkan 16 model pakaian trend batik 2016 dari 16 perancang busana berbeda.

Mengangkat tema ‘Reflection of Culture,’ para perancang busana kawakan ini memberikan inovasi model batik melalui berbagai jenis dan warna batik yang beragam dari seluruh indonesia.

Ratusan pengunjung ITC Surabaya menikmati lenggak-lenggok model dan pakaian yang dikenakannya. Bahkan pengunjung di lantai tiga tetap tertuju kepada para model yang berada di lantai satu.

Peragaan diawali parade busana dari masing-masing desainer. Selanjutnya, setiap desainer menghadirkan empat sampai lima model yang memakai rancangan mereka.

Desainer yang turut di acara ini, yakni Denny Djoewardi, Djoko Sasongko, Ayok Dwipancara, Lia Afif, Melia Wijaya, Lita Berlianti, Sheila Andina, Astrid Estrelita, Elok Re Napio, Wiwied Mayasari, Chindra Kirana, Stephani Zhang, Natalia Soetjipto, Anna Budiman, Melaty Tengker, dan Dyan Nugra.

Acara yang dimulai sejak 24 hingga 27 Maret ini turut menampilkan sejumlah acara lain di antaranya lomba drapping dan workshop, show talent, lomba desain ilustrasi, dan show trend batik 2016.

Penulis: Monica Felicitas
Editor: Y Gustaman
Sumber: Surya

Pemenang Indonesia Young Fashion Designer Competition (IYDC) Finale IFW 2016

0

Indonesia Young Fashion Designer Competition (IYFDC) adalah kompetisi fashion designer muda yang berupaya menetaskan generasi penerus untuk membuat rancangan yang dapat diserap oleh pasar lokal dan internasional.

_MG_7264 Juara 1

Kriteria penilaiannya mencakup Konsep Ready to Wear yang bertema Reflections of Culture dengan inovasi design kekayaan lokal yang berdaya pakai dan berdaya jual tinggi.

_MG_7156 Juara 2

Telah terpilih 15 finalis Indonesia Young Fashion Designer Competition 2016 yaitu Jennar Losario, Fransisca Irene, Immanuel Jessica, Bhamini Moorjani, Andini Wijendaru, Muhammad Kasih Selian, Ika Ayu Safitri, Salma Fadillah, Prasetyo Nugroho, Ardina G., Nandini Sasmaya, Adhindha Firdausa R., Sunita Sumawi, Florencia Irena, Angela Lowhur._MG_7268 Juara 3

Pada hari ketiga pagelaran Indonesia Fashion Week 2016 pada jam 19.00-20.00 pemenang Indonesia Young Fashion Designer Competition (IYFDC) mempesembahkan fashion show dari seluruh finalis. Kemudian dipilih lah empat orang pemenang. Berikut adalah pemenang dari IYFDC yaitu : Juara Pertama Angela Lowhur dengan tema Ulos Suri Suri Karo, juara kedua yaitu Prasetio Nugroho dengan tema Fantasy Temple, juara ketiga diraih oleh Janner Losario dan terdapat pula juara favorit yaitu Adindha Firdausa dengan tema Baliem Papua.

_MG_7265 Juara Favorit

Pemenang pertama mendapat kan trophy, uang tunai senilai 15 juta rupiah dan beasiswa selama satu tahun belajar di akademi fashion Italia yaitu Koefia International Fashion Academy , juara kedua mendapatkan hadiah trophy beserta uang tunai senilai 10 juta rupiah, juara ketiga mendapatkan hadiah trophy dan uang tunai senilai 8 juta rupiah, dan juara favorit mendapatkan hadiah trophy dan uang tunai senilai 5 juta rupiah.

Selamat kepada para pemenang IYFDC (indonesia Young Fashion Designer Competition). Aku Cinta Indonesia Fashion Week.

Singapore Airlines mengusung tema fashion show “Cola4Ation”

0

Singapore Airlines, penerbangan yang melayani pariwisata pemasaran dan family trip ini, sebagai Official Airlines yang menerbangkan para desainer, buyers, dan media internasional untuk menghadiri Indonesia Fashion Week 2016. Singapore Airlines mengusung tema fashion show “Cola4Ation” ysng akan menyuguhkan peragaan busana dari designer Ivan Gunawan, Rizman Ruzaini, Soko Wiyanto dan Dato Sri Raja Rezza dari Malaysia.

DSC_9832 _DSC7429 DSC_9640 _DSC7458

Elhijab Goes to London, Koleksi yang Terinspirasi Street Fashion

1

Vemale.com – Untuk mewujudkan tujuan negara Indonesia menjadi kiblat fashion muslim dunia di tahun 2020 mendatang, berbagai event besar pagelaran busana seperti Indonesia Fashion Week (IFW) digelar. Semua desainer muslim dan pemilik brand busana muslim berlomba-lomba merancang modest wear yang inovatif, tak terkecuali Elhijab.

Elhijab telah melebarkan sayapnya dengan langkah membuka store pertama di Inggris, tepatnya di London. Label ini terdiri dari Elzatta, Dauky, Aira dan Hassana. Ina Binandari, Head of Brand Strategy Elhijab, mengungkapkan bahwa London dipilih sebagai langkah pertama melebarkan sayap bisnis busana muslim Elhijab karena saat ini, populasi muslim di London, sangat meningkat.

 

“London merupakan salah satu kota fashion di dunia, dan saat ini populasi muslim di London juga mengalami peningkatan. Karenanya,  Elhijab berusaha untuk menjemput bola dengan membuka jaringan penjualan secara global melalui retail konvesional dan jalur e-commerce,” ucap Ina saat ditemui Vemale di Indonesia Fashion Week 2016, di JCC Senayan Jakarta, Sabtu, 12 Maret 2016.
Pada bulan Mei 2016 mendatang, Elhijab menunjukkan beberapa koleksi yang akan dijual secara eksklusif di London. Semua koleksi ini, diakuinya, terinspirasi dari gaya street fashion London yang modern. “Potongan-potongan yang simpel, elegan dan minimalis, koleksi Elhijab goes to London ini juga hadir dengan sentuhan print geometrik dan garis struktural,” jelasnya.

Sentuhan warna yang ditampilkan pada koleksi ini adalah warna-warna soft dan warna tanah, seperti biru, abu-abu, dan kombinasi warna coklat. Bahan materialnya sendiri dipilih yang nyaman disesuaikan dengan kondisi cuaca di London, antara lain katun, sifon dan taffetta.

“Tentu kita pilih bahan yang kualitasnya bagus, materialnya baik, kualitas jahitannya pun kita sudah pilih manufactur yang berpengalaman menjahit bahan-bahan untuk diekspor ke luar negeri,” tutup Ina.

dukungan dari Wardah sebagai official make up dan Hair do Indonesia Fashion Week 2016

0

Sebagai event mode yang besar, Indonesia Fashion Week 2016 mendapatkan dukungan dari Wardah sebagai official make up dan Hair do Indonesia Fashion Week 2016 yang akan merias dan menata rambut seluruh model yang terlibat dalam event ini. Wardah juga mempersembahkan fashion show karya designer-designer seperti, Ria Miranda, Zaskia Sungkar, Barly Asmara, Dian Pelangi dan Mel Ahyar

_AFG9438

_AFG9446

_AFG9463

 

DSC_6881

DSC_6931

DSC_6948

IMG_7373

IMG_7405

Warnatasku menampilkan peragaan busana

1


Warnatasku
menampilkan peragaan busana karya desainer Erin Uggaru, Jenahara, Melia Wijaya, Rasyid Salim, Khuzain Kazai, Susan Zhwang, Rudi Chandra, Defrico Audi, Riabaraba, Nita Seno Adji, Jenny Tjahyawati, Malik Moestaram. Yang terbagi dalam dua slot fashion show yaitu dihari pertama mengusung tema “Eksistensi Warisan Leluhur” dan hari ketiga mempersembahkan fashion show dengan tema “Panutan Ragam Budaya Nusantara.”

IMG_5610IMG_6074

IMG_6280

IMG_5776

IMG_6171

IMG_6586

Indonesia Fashion Week 2016 Resmi Dibuka

0

Event tahunan yang paling bergengsi yang diselenggarakan lagi oleh Assosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) dan Kerabat Dyan Utama ini yang bertemakan Reflection of Culture Budaya lokal menjadi inspirasi pada perhelatan fashion ini. Hal ini dilakukan sebagai langkah menjadikan fashion Indonesia dikenal dunia dengan ciri khas kebudayaannya yang kaya.
akan menghadirkan rangkaian acara untuk para pecinta fashion di tanah air, mulai dari pameran dagang bertaraf internasional dan fashion show serta ditunjang dengan beragam program berupa talkshow, workshop dan kompetisi desain.

Indonesia Fashion Week pertama kali digelar pada tahun 2012, dan selalu diadakan kembali setiap tahunnya dengan tujuan untuk memberikan arah dan gambaran terhadap industri fashion di Indonesia.
Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki kekuatan unik dalam fashion yang dipengaruhi oleh kekayaan budaya indonesia yang beragam dan tak berujung disertai dengan pengetahuan lokal yang berlimpah dari masyarakatnya yang kreatif. Karena itulah, fashion Indonesia dipersiapkan untuk menjadi pusat fashion craft dan muslimah secara regional dan global.

Fashion adalah ekspresi dari identitas budaya. Di era manapun, fashion adalah refleksi waktu dari apa yang terjadi saat itu, Karena itulah Pada tahun ke lima nya Indonesia Fashion week (IFW) mengangkat tema “Reflection of Culture”. Harapannya, melalui Indonesia Fashion Week 2016, budaya dan tradisi lokal akan menjadi fondasi dan referensi dari setiap desain. Dengan demikian, pada akhirnya, kita sebagai bangsa Indonesia akan mampu mengukir identitas kita di dunia fashion dalam refleksi orisinalitas kita sendiri.

 

_AFG5956

 

Indonesia Young Fashion Designer Competition (IYFDC)

0

Indonesia Young Fashion Designer Competition (IYFDC) adalah kompetisi fashion designer muda yang berupaya menetaskan generasi penerus untuk membuat rancangan yang dapat diserap oleh pasar lokal dan internasional.

Adapun kriteria penilaiannya mencakup Konsep Ready to Wear yang bertema Reflection of Culture dengan inovasi design kekayaan lokal yang berdaya pakai dan berdaya jual tinggi.

Telah terpilih 15 finalis Indonesia Young Fashion Designer Competition 2016 yaitu Jennar Losario, Fransisca Irene, Immanuel Jessica, Bhamini Moorjani, Andini Wijendaru, Muhammad Kasih Selian, Ika Ayu Safitri, Salma Fadillah, Prasetyo Nugroho, Ardina G., Nandini Sasmaya, Adhindha Firdausa R., Sunita Sumawi, Florencia Irena, Angela Lowhur.

Para Pemenang Indonesia Young Fashion Designer Competition akan mempersembahkan karya para pemenangnya pada fashion show di hari ketiga pada jam 19.00-20.00.

 

Pesan Musa Widyatmodjo untuk Desainer Muda IFW 2016

0

INDONESIA Fashion Week (IFW) 2016 akan kembali dihelat pada 10-13 Maret 2016. Dalam penyelenggaraan untuk kelima kalinya tersebut, IFW 2016 membuka kesempatan bagi para pelaku organisasi fesyen untuk bergabung.

Tidak terkecuali dengan para desainer muda. Namun, desainer Musa Widyatmodjo menyarankan, sebaiknya para desainer muda tidak perlu melakukan fashion showterlebih dulu.

“Keikutsertaan desainer muda saya sarankan sebaiknya ambil pameran dulu. Dengan pameran, mereka jadi belajar bahwa fashion show tidak hanya soal tepuk tangan atau foto. Tetapi, apakah barang tersebut laku atau tidak,” tutur Musa Widyatmodjo, yang ditemui di kawasan Empirica, SCBD, Selasa (12/1/2016).

Melalui introspeksi tersebut, desainer muda akan membangun sebuah jejaring, sehingga akan memperbaiki koleksinya untuk diteruskan menjadi fashion show.

IFW 2016 akan diselenggarakan pada 10-13 Maret 2016 di Jakarta Convention Center. Dalam penyelenggaraannya, setiap tahun IFW 2016 akan memberikan suguhan fashion show, pameran, hingga talkshow edukasi. Musa Widyatmodjo menambahkan bahwa tim penyelenggara akan memberikan sesuatu yang luar biasa pada hari pertama penyelenggaraan IFW 2016.

“Sesuatu baru yang akan hadir adalah kita akan membawa fesyen lebih realita, bukan sekadar mimpi. Ini akan menjadi kejutan yang luar biasa,” tutup Musa Widyatmodjo.

(tty) 

Annisa Amalia Ikhsania

Jurnalis

REFLECTIONS OF CULTURE

2

REFLECTIONS OF CULTURE

Fashion is an expression of cultural identity. In any era, fashion is a reflection of times and what is going on in the culture, socially and economically. Fashion enables us to make statements about our identities and ourselves.

Through Indonesia Fashion Week, local cultures and traditions will be the foundation and reference of the designs, in the hope that ultimately, we, as Indonesians, will be able to carve our identity in the world of fashion, reflecting our own originality.

“INDONESIA FASHION WEEK 2016 SEBAGAI BUKTI ASOSIASI PERANCANG TETAP EKSIS DAN TERUS BERKARYA UNTUK INDONESIA” PENGUSAHA MODE INDONESIA

3

Press Release APPMI

Jakarta, 9 Desember 2015

“INDONESIA FASHION WEEK 2016 SEBAGAI BUKTI ASOSIASI PERANCANG

Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), yang telah berdiri sejak tanggal 20 Juli 1993, merupakan wadah bagi para perancang dan pengusaha mode yang memiliki kesamaan visi dan misi untuk mengembangkan industri tata busana (fashion), serta mempromosikan acara fashion Indonesia ke skala internasional. Perkumpulan ini telah memiliki anggota dan kepengurusan di beberapa daerah, serta induk penyelenggara pagelaran busana Indonesia Fashion Week sejak tahun 2012.

Beberapa minggu yang lalu, diberitakan pengunduran diri Saudara Ali Charisma dari jabatannya sebagai Ketua Umum APPMI Periode 2015 – 2020, sehingga timbulnya spekulasi bahwa telah terjadi kisruh dalam internal APPMI di tingkat pusat, bahkan terdapat anggapan bahwa asosiasi tersebut telah bubar. Selain itu, tidak sedikit pihak yang mempertanyakan apakah Indonesia Fashion Week 2016 akan tetap berjalan atau tidak.

IMG_9109

Sehubungan dengan penyelenggaraan Indonesia Fashion Week 2016, Pengurus Pusat Sementara APPMI secara nyata sedang berkonsentrasi untuk menyiapkan salah satu pagelaran terbesar dalam dunia fashion Indonesia yang akan berlangsung pada bulan Maret 2016 di Jakarta Convention Center. Demi kelancaran penyelenggaraan tersebut, perlu diketahui bahwa perjanjian APPMI dengan PT. Kerabat Dyan Utama (“PT. Radyatama”) tetap berlangsung meskipun terjadi pengunduran diri Ali Charisma dan jajaran pengurus pusat lainnya.

IMG_9176

Hal ini dikarenakan dalam penyelenggaraan Indonesia Fashion Week, pihak PT. Radyatama bekerja sama dengan APPMI sebagai suatu organisasi bukan dengan individu-individu anggota atau mantan anggota APPMI. Pengurus Pusat Sementara APPMI sendiri sudah menyiapkan tim kepanitiaan untuk pagelaran tersebut. Kami berharap pagelaran Indonesia Fashion Week 2016 akan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Pengurus Pusat Sementara meminta dukungan dan doa restu dari teman-teman anggota dan Badan Pengurus Daerah APPMI seluruh Indonesia, pemerintah, serta masyarakat Indonesia untuk kemajuan industri fashion Indonesia erkait dengan isu kekisruhan di dalam APPMI, Pengurus Pusat APPMI menegaskan bahwa tidak ada kekisruhan dalam internal APPMI apalagi niat untuk membubarkan asosiasi yang telah dididirikan sejak tahun 1993. APPMI tingkat pusat sendiri untuk sementara telah memiliki kepengurusan baru yang terdiri dari:

a) POPPY DHARSONO sebagai Ketua Umum

b) ANNE RUFAEDAH sebagai Ketua Harian

c) NIETA HANDAYANI sebagai Sekretaris Umum; dan

d) JEANNY ANG sebagai Bendahara Umum.

Jajaran kepengurusan tingkat pusat di atas telah mendapat dukungan dari sebagian besar Badan Pengurus Daerah, dan berlaku hingga berlangsungnya Musyawarah Nasional atau Musyawarah Nasional Luar Biasa pada tahun 2016. Dengan demikian, asosiasi ini tetap eksis dan dapat menjalankan fungsinya menurut visi dan misi APPMI yang terdapat di dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.

_MG_3976

Pengurus Pusat Sementara APPMI meminta teman-teman perancang serta pengusaha perancang di daerah untuk tetap bersatu (tidak termakan isu-isu yang disampaikan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab) demi keutuhan APPMI dan kemajuan industri fashion di Indonesia. Keputusan Saudara Ali Charisma dkk. untuk mengundurkan diri dari kepengurusan pusat APPMI merupakan keputusan Beliau sendiri, dan tidak ada intervensi dari pihak manapun. Pengurus Pusat Sementara APPMI menghargai keputusan Beliau, dan mendoakan kesuksesan Beliau.

Namun pengunduran diri Ali Charisma dan jajaran Pengurus Pusat tidak serta merta menghilangkan tanggung jawab para mantan pengurus. Pengurus Pusat Sementara, Para Pendiri, anggota Pengurus Pusat, dan anggota Pengurus Daerah meminta pertanggungjawaban keuangan penyelenggaran Indonesia Fashion Week, pengembalian aset-aset milik APPMI, baik aset bergerak maupun tidak bergerak, kepada Pengurus Pusat Sementara dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama.

Pengurus Pusat Sementara akan tetap memberikan dukungan moril dan sponsorship kepada teman-teman Badan Pengurus Daerah jika mengadakan suatu acara di daerahnya masing-masing.

Bersama ini juga, kami memberikan peringatan keras kepada oknum-oknum yang telah mengadu domba sesama anggota APPMI, memutarbalikan fakta, menyebarkan fitnah dan / atau melakukan pencemaran nama baik terhadap APPMI! Jika ditemukan adanya hal-hal tersebut di atas di kemudian hari, kami tidak akan segan-segan mengambil langkah hukum untuk menyelesaikan sengketa terhadap oknum tersebut.

Akhir kata, kami selaku Pengurus Pusat Sementara APPMI menyatakan bahwa APPMI akan tetap solid dan terus berkarya memajukan industri Fashion Indonesia di tanah air dan luar negeri!

Salam APPMI!

Indonesia Fashion Week 2016 Siap Digelar Maret

0

Kepengurusan APPMI sementara diketuai oleh Poppy Dharsono.

VIVA.co.id – Indonesia Fashion Week (IFW) 2016 tidak lama lagi segera diselenggarakan. Itu artinya semua desainer dan pengusaha dalam bidang fesyen juga sedang sibuk untuk mempersiapkannya.

Indonesia Fashion Week merupakan bagian dari Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) yang telah diselenggarakan sejak 2012. Meski saat ini sedang terganjal dalam kasus kepengurusan APPMI, secara nyata Indonesia Fashion Week 2016 akan terus berjalan.
Untuk kepengurusan sementara akan diketuai oleh Poppy Dharsono sebagai ketua umum APPMI selama enam bulan ke depan. Rencananya, Indonesia Fashion Week 2016 akan berlangsung pada Maret 2016.
“Saat ini, kami sedang berkonsentrasi untuk menyiapkan salah satu pagelaran terbesar dalam dunia fesyen. Meski ada beberapa kendala hal itu tidak akan mengganggu kelancaran IFW 2016,” ujar Ketua Bidang Event Indonesia Fashion Week, Musa Widyatmodjo, saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Rabu, 9 Desember 2015.
Dia menambahkan bahwa saat ini timnya sedang merapikan dan mengembalikan porsi IFW seperti semula. Selain itu, hadirnya pagelaran ini diharapkan dapat mengangkat desainer Tanah Air.
“Mengingat, saat ini banyak desainer internasional yang memanfaatkan pasar lokal, sangat perlu adanya wadah seperti IFW ini untuk mendorong bisnis para pengusaha fesyen agar dikenal di mata dunia,” ujar Musa.
Selain itu, nantinya acara IFW 2016 akan dimeriahkan oleh para desainer dengan ritel ready to wear, custom made, dan desainer Muslim.

Poppy Dharsono di Indonesia Fashion Week

0

Apa yang ditampilkan desainer dalam sebuah fashion week – apalagi yang berskala nasional – bukan hanya mengenai produk-produk apa yang bisa dibeli darinya. Jika cuma soal jualan, akan lebih efektif bagi seorang desainer untuk membuat trunk show yang cukup dihadiri oleh klien-kliennya. Tak menampik bahwa koleksi desainer dalam pekan mode juga terkait perihal bisnis, namun ada visi lain yang harusnya bisa ditemukan di sana.

Ketika seorang desainer menampilkan rancangan-rancangannya di perhelatan sekelas Indonesia Fashion Week, ketika itulah dirinya harus siap untuk koleksinya dilihat dalam berbagai perspektif. Perspektif yang memang akan banyak melibatkan personal taste – sebagaimana karya-karya estetika lain – namun bukan sekadar penilaian suka atau tak suka tanpa ditempatkannya suatu konteks dalam membahas sebuah koleksi. Ini tentang bagaimana berbagai aspek diri desainer dalam hal fesyen diamati.

Hari pertama Indonesia Fashion Week 2015 jatuh pada Kamis, 26 Februari 2015. Kembali mengambil tempat di Jakarta Convention Center, namun pada area yang berbeda dari tahun lalu, stage 2 yang letaknya cukup terpencil dan sulit dijangkau karena padatnya susunan booth menjadi tempat berlangsungnya peragaan busana 3 desainer senior pada hari itu. Sekitar pukul 17.30, Poppy Dharsono, Wignyo Rahadi, dan Agnes Budhisurya yang tergabung dalam APPMI DKI Jakarta menampilkan koleksinya masing-masing.

Judul yang diberikan Poppy Dharsono untuk koleksinya kali ini adalah `Redefining Bali Heritage`. Produk kebudayaan Bali yang coba ia tempatkan dalam satu proses interpretasi baru adalah tenun Endek dan songket Bali. Bagaimana Poppy mengolah kain tradisional itu memang membawa kain Endek pada satu desain yang tak lagi setradisional kain itu digunakan dulunya.

059199300_1425025407-Indonesia_Fashion_Week_2015_-_Poppy_Dharsono_1

Jumpsuit dengan potongan flare di bagian lutu ke bawah yang dipasangkan dengan high neck bolero emas menjadi satu contoh paling kuat untuk melihat bagaimana koleksi ini memiliki identitas masa lampau. Inspirasi fesyen memang bisa berasal dari berbagai kondisi mode satu zaman. Pertanyaannya tinggal bagaimana hal itu menjadi bahan olahan dari kreativitas seorang desainer. Suntikan ide segar apa yang bisa diberikan seorang perancang busana bagi tema retro itu agar koleksinya menjadi suatu kreasi eksploratif baru?

Alih-alih mengekplorasi kelampauan dengan perspektif baru yang lebih fresh, mindscapedesain dari Poppy tampaknya masih diam dalam kelampauan itu sendiri, tak bergerak. Masalah gerak kreatif juga menjadi isu pada koleksi `Golden Royal` rancangan Wignyo Rahadi di hari pertama Indonesia Fashion 2015 ini. Merujuk pada kata `Gold`, koleksi ini tidak cukup emas. Bila dikaitkan dengan kata `Royal`, busana-busana itupun tak membawa karakter regal.

082918000_1425025414-Indonesia_Fashion_Week_2015_-_Wignyo_Rahadi_2

Anggota aristokrat mana yang akan memakai peplum dress kuning pucat dengan area dada atasnya berbahan sheer dan butterfly sleeves sebagai model lengannya? Desain-desain busana Wignyo ini berkesan standard dan bahkan lack of taste, seperti terlihat pada sebuah mermaid dress polos, dengan pemilihan warna dan bahan yang justru memperlemah looks secara keseluruhan. Kasus serupa juga terjadi pada rancangan-rancangan Agnes Budhisurya. `Dongeng Makhluk Surgawi` demikian judul koleksi Agnes.

069481700_1425025407-Indonesia_Fashion_Week_2015_-_Agnes_Budhisurya_2

Jika diibaratkan sebagai sebuah makhluk, busana-busana karya Agnes ini memang punya palet warna yang cantik, hasil teknik lukis yang diterapkannya pada kain. Contohnya adalah gradasi kuning metalik atau biru dalam yang menjadi latar motif bulu merak. Akan tetapi, makhluk-makhluk berwarna cantik itu sayangnya tak memiliki bentuk yang indah. Alam surgawi yang berisi gaun ungu bermodel belahan lebar hingga ke paha dan bagian atasnya seperti gelungan kain berhias aksen bagai rupa daun terasa tak menarik.

(Fotografer: Panji Diksana – Liputan6.com)