Wardah Sinar dan Pijar, Paduan Elegan Tren Make Up dan Fashion

0
726
ETU by Restu Anggraini

Jakarta – Paduan elegan tren make up dan fashion bertema Wardah Sinar dan Pijar digelar di Indonesia Fashion Week (IFW) 2018 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Sabtu (31/3). Peragaan melibatkan 8 desainer Indonesia, yaitu Ria Miranda, Barli Asmara, ETU, Zaskia Sungkar, Norma Hauri, Rani Hatta, dan Malik Moestaram.

Peragaan dibuka dengan tampilnya koleksi Rani Hatta yang mengusung tema ‘Hero’. Rani ingin menyampaikan perempuan memiliki kebebasan berpendapat, berekspresi juga membela diri dan bangkit menjadi lebih kuat. Dalam koleksi ini Rani seolah ‘meneriakkan’ ini adalah sebuah gerakan dari perempuan untuk perempuan.

Dalam 12 set outlook, Rani mendandani para model bergaya militer, kasual, dan sporty, lengkap dengan penutup kepala. Warna yang ditampilkan hitam dan putih yang disematkan pada atasan, rok, celana panjang, juga coat dan jaket berbahan wol dan katun.

Melalui tema Gemintang, desainer Zaskia Sungkar menampilkan 12 busana yang menggambarkan bahwa di balik keanggunan dan kecantikan, perempuan juga memiliki jiwa yang kuat dan tegas. Hal ini diterjemahkan Zaskia dalam gaun-gaun feminin namun dengan siluet tegas dan berstruktur. Untuk menambah kesan kuat, ditambahkan detail beads dan aksesoris berbahan metal. Koleksi ini didominasi dengan warna hitam, merah dan perak.

Mengangkat tema Lullatone, Ria Miranda merilis koleksi yang terinspirasi dari seekor angsa, yang memiliki sifat anggun, cantik, dan loyal terhadap pasangannya, namun hewan ini juga memiliki sifat tegas dan agresif terhadap lawannya. Dua sifat tersebut digambarkan menjadi pertemuan dualisme yang menyatu menjadi sebuah komposisi kontras yang harmonis misalnya, terang dan gelap, pure dan kuat, feminine dan maskulin. Dengan kata lain, koleksi Ria berusaha menggambarkan sosok perempuan masa kini.

Kesuraman mendominasi suasana ketika Norma Hauri merilis koleksi bertema Noir yang berarti hitam dalam bahasa Perancis. Mayoritas koleksi serba hitam ini awalnya terinspirasi oleh dua hal yaitu, gambar para janda Italia menggunakan gaun berenda yang memesona di sebuah acara pemakaman dan perjalanan Norma ke Britania Raya musim dingin lalu.

Untuk menangkap  suramnya musim dingin, Norma melakukan perjalanan ke London untuk melihat renda beserta sejarah dan pengunaanya oleh bangsawan kerajaan Eropa. Dia juga tertarik dengan kisah hidup Ratu Victoria dengan gaun hitam simbol berkabungnya Sang Ratu atas kematian suaminya, Pangeran Albert. Sebagai tanda berkabung, Ratu Victoria mengenakan gaun tersebut selama lebih dari 40 tahun. Demi menggali inpirasi lebih dalam, Norma juga berkunjung ke Ediburgh untuk belajar tentang kehidupan Ratu Mary dari Skotlandia yang dahulu dikurung di kerajaannya sendiri.

Norma juga memberikan sentuhan desain yang tajam, terinsipirasi dari busana bangsawan pria serta jaket kulit untuk memperlihatkan sisi sang pemberontak. Disatukan dengan bahan yang tembus pandang dengan renda, memberikan kesan suram dan rentan, sulaman dan gaya baroque ditambah untuk memberikan sentuhan bangsawan.

ETU by Restu Anggraini mengangkat tema Poetic Breeze – bercerita tentang indahnya rasa dalam menyambut musim semi. Dalam koleksinya, busana modest wear dibesut dengan siluet klasik yang memadukan warna alam dan romantisme musim semi yang puitis.

ETU menghadirkan rangkaian rancangan berpakem modest yang terlahir atas hasil eksplorasi tren fashion lintas dekade yang mengedepankan siluet-siluet khas era ’50-an dan ’60-an; dua era dengan kekuatan estetika yang berbeda namun tetap selaras ketika dipadankan. Perbandingan antara siluet ala era ’50-an yang menekankan garis pinggang dipadukan dengan potongan lurus ala era ’60-an terbukti mampu menciptakan tampilan modest yang minimalis, klasik, dan elegan, dengan injeksi nuansa feminin yang bersahaja.

Untuk menunjang koleksinya, ETU menggunakan material maskulin seperti katun, wool-twill dan twill blend dengan motif dan palet bernuansa genderless kemudian memadukannya dengan embellishment yang sarat  kesan feminin sebagai aksen dekoratif yang menjadikan busana berpotongan klasik tampak lebih atraktif.

Desainer Dian Pelangi mempersembahkan  Andewi  yang memiliki makna tumbuh-tumbuhan (bahasa Sansekerta). Melambangkan keindahan floral Indonesia, Andewi terinspirasi dari pedalaman hutan Indonesia yang menyimpan sisi cantik, elegan namun misterius. Hutan Indonesia juga yang menjadi inspirasi palet warna dalam koleksi ini, yaitu hitam, hijau dan warna keemasan.

Potongan dan siluet sedikit mengambil sentuhan Spanyol yang inspirasinya diperoleh saat Dian Pelangi melakukan perjalanan ke negara tersebut. Bordir dan payet yang menjadi aksen pada koleksi ini, tidak terlepas dari inspirasi ukiran dinding di istana kerajaan Cordoba.

Dian menyematkan aksen ruffles yang mempertegas nuansa feminine dan elegansi perempuan Indonesia. Koleksi semi haute couture ini menggunakan kain songket Palembang untuk menunjukkan kultur Indonesia dan ciri khas Dian Pelangi.

Desainer Malik Moestaram melalui tema Peintures Anciennes  menampilkan gaun-gaun feminin yang memukau. Tema ini dilatarbelakangi cerita dan lukisan-lukisan Eropa yang diimplementasikan dalam busana dan detail. Desainer anggota APPMI ini memilih bahan lembut untuk memberikan kesan romantis ditambah dengan paduan pola floral dan permainan warna.

Sebagai penutup show, Barli Asmara menyuguhkan koleksi yang membawa elemen klasik, yaitu potongan gaun dengan renda yang dihiasi motif-motif, sebuah ilusi pakaian yang disertai lipatan berlekuk, diukir bukan diacak, yang terlihat berbeda arah di atas gaunnya.

Dalam koleksi Dazzling, busana-busana yang dihamparkan di runway dihiasi oleh pola jahitan bergaya quasi-ergonomics yang mengelilingi gaun horsehair transparan. Gaun-gaun itu ditampilkan berdasarkan sensualitas, romantisisme, keanggunan, dan detail yang mengejutkan.

Barli mengaku banyak terinspirasi dari era Renaissance, era yang popular dengan figur serta seni yang dramatis, sebuah periode yang terkenal dalam hal ‘memainkan’ bentuk tubuh, baik dalam volume dan kepadatan seorang wanita, dapat dilihat di dalam koleksi ini, mulai varian a-line hingga putri duyung.

Warna yang dipilih Barli memiliki tekstur seperti es, meliputi varian warna perak, lavender, abu-abu, dan biru. Pengunaan pernak pernik menambah kesan mewah serta penambahan renda dan kain tulle memberi dampak dramatis.(*)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here