Peaceful Dream, Padu Padan Batik dan Tenun yang Anggun

0
201
LIZA SUPRIYADI ON STAGE

Jakarta – Peragaan busana bertajuk Peaceful Dream digelar di hari keempat Indonesia Fashion Week (IFW) 2018 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Sabtu (31/3). Sebanyak 11 desainer, yaitu Nina Nugroho, Nieta Hidayani, Dwi Lestari Kartika, Ayou Mizzura by Wahyu Mukhtar, Ayasophia, Liza Supriyadi, Neetas by Neeta Sagar Vasandani, Motifhawa by Pipit Pramudia,  Lumina by Yanti Adeni, Lentera by Hj. Ratu Anita Soviah, dan Leny Rafael menampilkan beragam karya di perhelatan fashion akbar yang diselenggarakan oleh Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) bersama Rumah Kreatif BUMN (RKB).

Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah rancangan Liza Supriyadi yang mengangkat kekayaan wastra (kain) Nusantara. Kecintaan terhadap keindahan alam Indonesia, salah satunya Labuan Bajo, membuat Liza Supriyadi menonjolkan motif batik yang menceritakan alam dalam koleksi Sabda Alam. Desainer yang tergabung dalam APPMI Yogyakarta ini memadukan batik dan tenun dalam koleksi yang anggun.

Saat membuat pola batik, Liza berkolaborasi dengan perajin batik Yogyakarta. “Saya menggunakan batik yang saya desain sendiri. Coraknya dedaunan yang menggambarkan alam, seperti daun jati dan daun lainnya,” kata Liza.

Liza mengggunakan materi bahan sutera ATBM dan sifon. Warna dasar hitam dipilihnya agar warna dedaunan yang didominasi hijau dan oranye, terlihat kuat. Di tangannya, baju muslim tampil glamor dengan motif batik dipadu tenun yang kaya warna, seperti hitam, merah, hijau juga ungu.

 

Mengangkat kekayaan wastra Nusantara, Lentera oleh Hj. Ratu Anita Soviah mengusung tema Back to Nature yang mengeksplorasi kain-kain Palembang dengan pewarnaan alam yang lebih ramah lingkungan. Dalam koleksi modest wear kali ini, desainer ini terinsipirasi oleh pewarnaan alam yang memiliki kesan klasik dan alami. Rancangannya menggunakan kain jumputan dan songket dengan pewarnaan alam yang dipercantik dengan payet-payet etnik. Proses rancangan tersebut memakan waktu sekitar 3 bulan.

Desainer Yanti Adeni melalui label Lumina (artinya bercahaya terang), mengusung koleksi  yang memancarkan aura kecantikan, kebahagiaan, dan keanggunan setiap perempuan yang memakainya bak ending kisah-kisah puteri di negeri dongeng. Melalui proses pengumpulan ide dari gaun bernuansa Victorian, Yanti memberi sentuhan vintage dan klasik, desain cape ala baju adat pernikahan Bangka Belitung – yang merupakan tanah kelahirannya.

Yanti memilih warna-warna lembut yang sejalan dengan keanggunan dan kelembutan hati putri dari negeri dongeng. Menggunakan bahan satin bridal, tulle, chantily lace, organza, bordir, dan beadings, kemudian dihias dengan bordiran untuk menegaskan garis klasik dan hiasan kepala untuk menyempurnakan penampilan putri, Yanti menujukan rancangannya untuk setiap perempuan di acara pernikahan.

Ayashopia, menampilkan busana feminin mengusung warna-warna pastel. Melalui tema La Belle Nuages, desainer ini menonjolkan sisi feminin perempuan dalam gaun terusan dan busana two pieces yang cocok dikenakan di acara istimewa.

Menutup pergelaran, mengangkat tema The Adorable Sparkle, desainer Leny Rafael memilih warna-warna monokrom dan mencerminkan bintang-bintang di langit. Pada koleksi ini, Leny ingin menunjukkan bahwa hitam tidak selalu mengesankan gelap, karena selalu ada cahaya yang bersinar.

Terinspirasi dari fenomena alam senja ke malam, Leny mengaplikasikan brokat dengan manik-manik Swarovski untuk menambah kesan glamor, diperkaya organdi yang telah dibentuk pleats, serta aksesoris mutiara dan bulu-bulu. (*)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here