Peaceful Dream, Merajut Mimpi dalam Kreasi Menawan Wastra Nusantara

0
1417
NINA NUGROHO BY DEKRANASDA DELI SERDANG "Technoculture"

Jakarta – Bukan semata penutup tubuh, ada mimpi dan harapan dalam selembar kain (wastra) Nusantara. Mimpi dan harapan itu dirajut dalam peragaan busana bertajuk Peaceful Dream yang digelar di hari keempat Indonesia Fashion Week (IFW) 2018 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Sabtu (31/3).

Sebanyak 11 desainer, yaitu Nina Nugroho, Nieta Hidayani, Dwi Lestari Kartika, Ayou Mizzura by Wahyu Mukhtar, Ayasophia, Liza Supriyadi, Neetas by Neeta Sagar Vasandani, Motifhawa by Pipit Pramudia,  Lumina by Yanti Adeni, Lentera by Hj. Ratu Anita Soviah, dan Leny Rafael menampilkan beragam karya di perhelatan fashion akbar yang diselenggarakan oleh Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) bersama Rumah Kreatif BUMN (RKB).

Peragaan dibuka dengan penampilan karya Nina Nugroho by Dekranasda Deli Serdang. Kali ini, Nina menampilkan koleksi busana songket yang diterjemahkan dalam busana three pieces, berupa dalaman, outer, dan bawahan rok panjang atau celana panjang. Dengan berani, desainer yang mengusung tema Technoculture ini menggunakan unsur warna-warna bold seperti kuning, merah, hijau, biru, lengkap dengan penutup kepala yang dibentuk seperti pita. Nina mendandani model dengan tas-tas etnik yang juga terbuat dari materi songket.

Selanjutnya, Nieta Hidayani memilih warna dominan biru, juga hijau muda dalam koleksi busana yang mengusung tema Sense of Donggala. Desainer ini mengeksplorasi kain tenun Donggala, Sulawesi Tengah, menjadi busana muslim yang bisa dipakai di segala suasana.

Donggala memiliki tenun khas, yang telah ada sejak ratusan tahun silam. Kain yang dibuat dari mesin tenun sederhana itu memiliki motif beragam, antara lain motif bunga mawar, bunga anyelir, dan bunga subi. Di tangan Nieta, kain tenun itu dibuat celana panjang berserut, juga outer dengan ekor menjuntai yang cocok dikenakan saat acara formal.

Mengusung Peafowl, desainer Dwi Lestari Kartika menampilkan gaun muslim yang girly dengan hiasan manik dan payet yang mengesankan mewah.  Selain menambahkan bebatuan dan payet, Dwi memilih warna pastel dan memberikan aksen ruffle pada sejumlah gaun yang menguatkan kesan feminin.

Wahyu Mukhtar melalui label AyoU Mizzura mengusung tema Minang Etnik yang tampil mewah. Keberagaman kain Nusantara, serta keistimewaan dan keunikan Minangkabau yang indah, menjadi alasan untuk memilih tema tersebut. Melalui karyanya, Wahyu ingin khalayak  tahu bahwa Minang memiliki wastra yang indah. Bahan yang digunakan untuk rancangannya antara lain bahan beludru, batik, dan sutra yang dikombinasi dengan renda dan diperindah mote-mote serta batu-batu swarovski dan payet.

Warna-warna sunset yang begitu indah dan menyejukkan hati, membuat Neeta Sagar Vasandani memilih tema Romantic Sunset. Koleksi Neetas by Neeta Sagar terinspirasi dari pernikahan-pernikahan yang diadakan dengan latar tepi pantai dan mengambil momen saat matahari terbenam.

Sorotan dalam rancangan ini adalah seorang perempuan cantik yang menunggu sang kekasih pada sore yang indah di tepi pantai. Neeta menggunakan bahan organza, satin, sifon, dan tulle yang dipadukan dengan aksesoris mutiara, bunga aplikasi, juga batu kristal.

Melalui The Passionate of Black Marble, Motif Hawa by Pipit Pramudia, menampilkan koleksi terbaru yang terinspirasi oleh bongkahan batu marmer dan gaya di era Victorian. Pipit mengangkat dan mengeksplorasi motif marmer karena terpesona dengan kecantikan motif marmer yang cocok untuk karakter perempuan yang berwibawa dan berkarakter tegas namun tetap terlihat cantik dan elegan.

Proses pembuatan 12 koleksi yang terbuat dari satin silk dan kain tulle ini memakan waktu satu bulan dengan teknik cetak digital yang motifnya didesain sendiri. Koleksi tersebut makin menawan dipadukan dengan kristal untuk menambah kesan mewah dan elegan.(*)

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.