Kulturtama, Meramu Budaya Indonesia Menjadi Busana Pria

0
185
Jajaka x Ivan Gunawan

Jakarta – Kekayaan budaya Indonesia menjadi inspirasi yang tak akan pernah habis digali untuk sebuah koleksi fashion. Mengeksplorasi kekayaan budaya Indonesia, Indonesia Fashion Week (IFW) 2018 menggelar peragaan bertajuk Kulturtama di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Sabtu (31/3).

Peragaan ini menampilkan 6 perancang busana, di antaranya Ivan Gunawan, Abee x Ariy Arka, Danny Satriadi, dan Rani Hatta. Mereka menghadirkan koleksi busana pria dan busana unisex yang bisa dipakai oleh pria dan wanita.

Label Jajaka x Ivan Gunawan kental dengan nafas army look. Warna yang mendominasi koleksi Jajaka x Ivan Gunawan kali ini bernuansa hijau dan cokelat. Untuk motif, Ivan sengaja mendominasi dengan motif army. “Dengan penggunaan motif ini serta permainan warna dan kombinasi, busana batik menjadi terkesan lebih chic dan dapat dipakai sehari-hari,” beber Ivan yang tetap menggunakan sentuhan tradisional untuk label ini.

Koleksi ready-to-wear yang 90 persen dipersembahkan untuk pria ini terdiri dari jaket, sweater, celana, dan busana kasual lainnya. Untuk mengutamakan kenyamanan, bahan yang dipilih adalah katun.  Selain busana, Ivan juga mendandani model dengan aksesoris tas untuk menyempurnakan penampilan.

Label Abee x Ariy Arka memilih warna burgundi, hijau army, dan cokelat sebagai warna yang mendominasi koleksi ini. Inspirasi warna untuk koleksi ini diambil dari tanaman dan hewan yang hidup di bawah laut.

Koleksi ready to wear ini lebih fokus ke busana pria. “Saya tampilkan 12 set busana pria yang terinspirasi dari keindahan bawah laut Indonesia,” ujar Ariy.

Ia memilih tentakel, hewan tanpa tulang belakang yang menyimbolkan fleksibilitas. Busana bisa dikenakan dalam segala suasana. Untuk bahan, Ariy Arka menggunakan kombinasi wol dan linen. Koleksi ini terdiri dari jaket, long coat, harem pants, dan lain-lain. Semua busana bergaya street style ini terlihat sangat detail dengan penggunaan bordir dan sulam tangan dengan motif bawah laut.

Danny Satriadi melalui label Arkamaya menampilkan motif gajah. Motif ini sengaja dipilih karena menyimbolkan keberanian dan sesuatu yang kuat. “Untuk koleksi ready-to-wear ini, saya pilih bahan yang nyaman digunakan sehari-hari di Indonesia dengan cuaca yang cenderung panas, yaitu katun dan linen,” ujarnya.

Desainer ini menambahkan,  simbol gajah diadaptasikan ke dalam lurik Jawa yang diolah menjadi busana modern. “Gayanya padu-padan. Dalam satu look bisa terdiri dari dua hingga tiga potong pakaian agar terlihat sedikit heavy. Namun cukup membeli 1 potong busana saja, tidak perlu look keseluruhan untuk bisa tampil gaya karena konsepnya memang mix and match,” jelas Danny.

Koleksi ini menampilkan busana wanita dan  pria yang terdiri dari atasan, bawahan, dress, vest, dan outerwear lainnya. Padu padan yang pas membuat koleksi ini dapat dipilih untuk gaya busana kantor dan acara formal pada malam hari.

Sementara label Hattaco by Rani Hatta terinspirasi dari pakaian olahraga yang simpel, mudah dipadupadankan. “Dari 12 set busana yang ditampilkan, saya sengaja membuatnya unisex, bisa dipakai pria dan wanita. Dapat dikenakan di segala usia,” kata Rani.

Koleksi ini didominasi oleh warna hitam, putih, dan abu-abu yang mudah dipadupadankan. Sedangkan untuk bahan busana, desainer ini menunjukan kreativitasnya dengan penggunaan beragam pilihan bahan seperti cotton combed, french terry, fleece dan polyester. Melalui koleksinya, Rani ingin membuktikan bahwa brand lokal dengan produk yang terjangkau juga mampu bersaing secara kualitas dengan produk global.

Chief Operating Officer Tokopedia Melissa Siska Juminto mengatakan, kolaborasi dengan desainer fashion Indonesia merupakan salah satu upaya pemerataan ekonomi digital. “Tokopedia senang mendorong kreator lokal untuk berkembang dengan menciptakan ekosistem fashion agar bisnis mereka lebih maju,” ujar Melissa.

Dia menambahkan, keragaman budaya adalah salah satu elemen utama yang memberikan identitas unik pada industri fashion Indonesia. “Tokopedia percaya bahwa dengan ekosistem yang tepat, pengembangan industri fashion berbasis kebudayaan lokal berpotensi besar menjadi penggerak ekonomi nasional,” tandasnya.(*)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here