Exotic Cultural, Mengulik Keindahan Buton dan Gorontalo

0
736
JULIETTEART - PESONA BINTANG

Jakarta – Sembilan belas desainer mengisi panggung Exotic Cultural di hari terakhir gelaran Indonesia Fashion Week (IFW) 2018, yang digelar oleh Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) bersama Rumah Kreatif BUMN (RKB) di Jakarta Convention Center (JCC), Minggu (1/4). Masing-masing membawa misi kultural dalam rancangan busananya. Kain-kain tradisi dari Gorontalo dan Buton terlihat mendominasi panggung kali ini.

Risza Novianti melalui brand SAO by Risza Novianty misalnya, memilih tema Tana Wolio yang berarti Tanah Buton, Sulawesi Tenggara, dalam 12 rancangannya. Keindahan dan pesona daratan serta laut pulau Buton menjadi inspirasinya.  Busana dibuat menggunakan material tenun dari Pulau Buton yang ia pilih langsung dari para penenun di pulau itu.

Motif tenun ditata sedemikian rupa sehingga menjadikan busana rancangannya terlihat begitu dinamis. Skirt, blouse, celana, dipadu dengan payet dan bordir yang mempermanis rancangan busana yang menggunakan pewarna alam khas pulau Buton. Desainnya sangat modern dan easy to wear. Risza memadukan rancangannya dengan anting flower modern dan topi rumbai etnik yang cocok dikenakan oleh wanita dewasa muda yang fashionable.   

Sementara Fahmi Hendrawan memilih tema IKIGAI: The Reason You Get Up Every Morning. Ikigai adalah konsep hidup dari Jepang yang menggambarkan keseimbangan dan tujuan hidup. Rancangan Fahmi terinspirasi dari budaya Jepang Golden Temple dengan sentuhan warna emas dan hijau, serta akulturasi budaya Indonesia dan Jepang yang dituangkan dalam bentuk desain, pola, serta potongan yang minimalis tapi tetap elegan. Proses pembuatan memerlukan waktu satu bulan dengan bahan batik tulis dan cap dari Garutan dan kain katun dari Jepang, serta aksesoris tangan dan kepala khas Garutan. Rancangan ini ditargetkan untuk pria urban modern yang elegan dan stylish.

Bukan hanya rancangan busana yang menghiasi panggung kali ini, Kalyana Leather Handbag, tampil dengan tema The Born of Batik Leather Engraved.  Terinspirasi dari budaya Tanah Jawa, tas didominasi warna hitam, marun dan biru navy. Perpaduan motif batik dengan teknik grafir ini membutuhkan waktu 10-15 hari untuk pengerjaan setiap tasnya. Koleksi ini menggunakan bahan kulit premium dari Jawa Timur yang diekspor ke Eropa, Kalyana leather handbag ditujukan untuk perempuan usia 24-45 tahun yang aktif, dinamis, berwawasan luas, dan cinta budaya Indonesia.

Agus Lahinta dengan tema rancangan Karawo Ethnicity JAGO atau Jawa Gorontalo, dilatarbelakangi oleh kain sulaman karawo Gorontalo yang ditampilkan modern dalam busana formil dan kasual untuk pria. Terinspirasi dari keindahan Candi Borobudur, Agus ingin menggabungkan Borobudur beserta stupa dan patung Budha, dipadukan dengan relief-relief dan dituangkan dalam motif sulaman khas Gorontalo, karawo. Ditujukan untuk pria dewasa yang berjiwa muda, Agus menggunakan materi kain sulaman serta kain linen dan benang pada sulaman.

Di peragaan ini, Sekolah Mode Imelda Sparks menampilkan tiga desainer, Rizki Maharani, Novi Gussanty Mattes, dan Sharrona Valenzka yang memilih Identik, Indonesia Denim Etnik. Koleksinya memadukan denim  dan kain tradisi Indonesia. Menjadi busana bergaya muda namun sarat dengan kesan etnik.

Desainer lain yang mengisi panggung Exotic Cultural adalah Julietteart, Yurita Puji yang juga menampilkan kain dari Gorontalo, Onetwoo by Herman Prasetyo, Nunu Datau juga dengan kain Gorontalo, Amir Malik, Universitas Kristen Maranatha menampilkan 6 desainer muda  Tia Erlinawati, Hana Agnes Melysa Sianturi, Lenny Andriani, Sonya Widianysfara Purba,  Cecilia Agata Purnama, dan Andriarni Putri Permana.  Amir Malik dengan kain-kain tenun Buton mengambil tema Keraton Buton, serta San Soko dengan Bidimensionnel.(*)

               

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here