Mengolah Keragaman Budaya Menjadi Identitas Fashion Indonesia

0
1498
Parade Busana

 Jakarta – Puluhan penari  bergerak lincah di panggung Indonesia Fashion Week 2018. Lagu daerah Sumatera Utara, Siksik Batu Manikam, lagu Jawa, Janger Bali, hingga Kicir-kicir dari Betawi, mengiringi gerakan para penari berbusana putih dan berkain songket merah.  Atraksi mereka bergantian dengan para penampil yang memakai kostum karnaval berbasis budaya Indonesia, mulai sayap burung, hingga stupa Candi Borobudur. Sangat atraktif. Rabu, (28/03).

 Seperti inilah suasana pembukaan pekan mode Indonesia Fashion Week (IFW) 2018 yang digelar Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) bersama Rumah Kreatif BUMN (RKB) di Plenary Hall, Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Rabu (28/3).

 Meriah, atraktif, dan penuh warna. Tiga kalimat itu pas menggambarkan pembukaan IFW ke-7 ini. Sebanyak 40 desainer Indonesia dan 2 desainer luar negeri, yaitu dari Turki dan Myanmar, ikut meramaikan pembukaan dengan koleksinya. Desainer Indonesia, diantaranya adalah Musa Widiatmodjo, Ida Royani, Naniek Rachmat, Yogiswari Pradjanti, Ivan Gunawan, Sikie Purnomo, Corrie Kastubi, Anna Budiman, Misan Kopaka, Harry Ibrahim, Sonny Muchlison, Agnes Budhisurya, Nieta Hidayani, Rudy Chandra, dan masih banyak lagi.

Sesuai tema yang diangkat pada IFW 2018 ini, yaitu  Cultural Identity, koleksi yang ditampilkan mengangkat keragaman budaya Indonesia sebagai identitas fashion negeri ini. “Sebagai negeri yang kaya budaya, cultural menjadi sumberdaya, inspirasi,  sekaligus identitas kita untuk mengembangkan fashion Indonesia sehingga tumbuh dan mampu menggerakan ekonomi rakyat Indonesia,” kata Presiden Indonesia Fashion Week 2018, sekaligus Presiden APPMI  Poppy Dharsono dalam pidato sambutannya.

Dari tema besar tersebut, koleksi IFW 2018 mengerucut pada tiga destinasi wisata Indonesia sebagai inspirasi. Ketiganya adalah Danau Toba di Sumatera Barat, Borobudur di Jawa Tengah, dan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur.  “ Indonesia Fashion Week 2018 mengangkat budaya dari tiga kawasan sebagai sorotan utama yaitu Danau Toba di Tanah Batak, Borobodur di Jawa Tengah, dan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur. Ketiga daerah menyisakan budaya purba dan masih ada hingga sekarang,” papar Poppy.

Dan koleksi yang terinspirasi dari tiga daerah itu pun mewarnai panggung pembukaan. Peragaan dibuka dengan koleksi bertema Great Toba karya Ida Royani.  Ida mengolah kain tenun ulos dari Tanah Batak, Sumatera Utara. Ulos warna abu-abu berpadu merah muda menjadi pilihan desainer yang sudah lima tahun belakangan ini melirik ulos sebagai inspirasi rancangannya. Koleksi berupa dress dengan lengan bervolume itu tampak cantik dengan look moderen.

Dari Danau Toba, beralih ke Jawa Tengah dengan tema Magnificent Borobudur. Musa Widyatmodjo, sang perancang, tak serta merta memindahkan candi terbesar umat Budha tersebut ke dalam koleksi. “Saya mengambil filosofinya saja. Tema Romansa di Borobudur terinspirasi dari suasana senja di Borobudur,” jelas Musa saat jumpa pers.

Hasilnya, nuansa oranye mendominasi koleksi Musa. “Warna oranye juga terinspirasi oleh busana para bikshu yang berwarna oranye,” kata Musa.

Busana loose melayang oranye itu tidak dibuat sepi. Musa juga mengaplikasikan corak stupa Borobudur di sekeliling bagian bawah busana. Tak lupa, hiasan rambut menjulang bak stupa di kepala model, menambah sempurna rancangan Musa.

Tak kalah unik rancangan Naniek Rachmat bertema The Heritage of Ancient Komodo yang terinspirasi oleh Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur dengan hewan komodo sebagai ikonnya. “Saya mengolah kain tenun dari sejumlah kabupaten di Nusa Tenggara Timur. Namun kain tenun dari kabupaten Sumba paling mendominasi karena coraknya lebih besar sehingga eye catching di panggung,” kata Naniek yang menambahkan kepala komodo sebagai hiasan di kepala sang model.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.