Mengabadikan Pesona Labuan Bajo Melalui Wastra

0
1420
AI SYARIF 1965

Jakarta-Di ujung paling barat Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Labuan Bajo semula merupakan sebuah kota nelayan kecil. Kini, kota itu berkembang menjadi destinasi wisata unggulan Indonesia, yang segera saja menarik minat banyak wisatawan datang tak henti-henti. Kota ini juga merupakan pintu masuk menuju Taman Nasional Komodo, satu-satunya di dunia, dan juga gugusan kepulauan indah yang mencakup 80 pulau.

Selain karena keindahannya,   Labuan Bajo dan daerah sekitarnya pun memiliki potensi budaya, kain nusantara yang sangat eksotis, dan keunikannya memikat setiap mata. Kemasyhuran Labuan Bajo ini diangkat sebagai salah satu sorotan, dalam perhelatan Indonesia Fashion Week (IFW) 2018 yang digelar oleh Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) dan Rumah Kreatif BUMN (RKB) di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada 28 Maret-1 April 2018.  

Peragaan busana bertema The Heritage of Ancient Komodo menjadi wujud pengakuan keistimewaan Labuan Bajo. Sebanyak 9 desainer Indonesia mempresentasikan koleksi busananya di panggung utama IFW 2018 di hari ketiga.

Persembahan pembuka dari label utama Itang Yunasz, desainer senior yang berdedikasi terhadap wastra Indonesia. Bertema Tribalux-Sumba, Itang menyuguhkan deretan busana modest wear deluxe dengan material tenun ikat Nusa Tenggara dan helai kain chiffon yang di-print serupa motif khas Sumba. Corak tenun Sumba yang penuh pesona, ditambah dengan ornamentasi taburan beads menjadi kekuatan koleksi ini.

Kain tenun NTT bisa sangat wearable seperti yang diperlihatkan pada koleksi Coenrad by Kunce. Tenun NTT sebagai bawahan berupa celana slim-fit, dan rok dipadukan dengan material lace (brokat) berwarna putih yang dominan, menjadikan tampilan yang sangat ringan, simpel, dan kontemporer.

Kain ikat NTT yang dominan bermotif vertikal, sangat apik diolah oleh Vicky Soetono dengan siluet klasik, seperti sackdress dan bustier dress, yang memang menjadi karakter sang desainer. Paduannya? Detail bordir bunga, cukup membuat koleksi ini bisa menjadi pilihan bagi para penyuka gaya klasik dan timeless.

Koleksi selanjutnya berjudul Rona dari Timur karya desainer Naniek Rachmat. Koleksi modest wear ini menggambarkan nuansa beragam warna dan corak kain NTT, yang biasanya identik dengan warna gelap.

Dan sebagai penutup adalah koleksi dari desainer senior, Agnes Budisurya dalam Warisan. Agnes seolah ingin mengingatkan, bahwa unsur wastra yang bisa diangkat dari daerah NTT, tidak hanya dengan mengolah kain tenunnya menjadi busana. Corak khas Nusa Tenggara bisa pula diwujudkan melalui teknik bordir, batik, dan bahkan lukisan kain, ciri khas dan karakter yang telah ditekuninya selama bertahun-tahun.

Agnes ingin memberdayakan, memadupadankan berbagai karya anak bangsa untuk saling menguatkan dan maju bersama menjelajah dunia. Dalam proses pembuatannya, Agnes menyematkan padanan tusukan vertikal jarum mengikuti alur garis-garis tenun yang menampilkan bentukan dinamis tenun ikat, di atas bidang bercorak klasik dari batik Jawa, yang kemudian diselaraskan dengan sapuan cat dan kuas lukis.

Dengan perpaduan antara berbagai unsur hasil tangan karya budaya, rancangan Agnes terbuat dari materi tenun, batik, dan cat lukis, serta dipadukan dengan aksesoris yang dibuat dari potongan-potongan tenun dan batik. Rancangan ini ditujukan untuk para wanita yang percaya diri dan ingin melestarikan budaya bangsa.(*)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.