Magnificent Borobudur Menerjemahkan Kemegahan Borobudur

0
193
MAGNIFICENT BOROBUDUR ON STAGE

Jakarta-Kemegahan dan kebesaran Borobudur tak ada duanya. Tak salah bila candi terbesar umat Budha itu dinobatkan sebagai situs warisan dunia PBB pada 1991. Kemegahan ini menginspirasi perhelatan Indonesia Fashion Week (IFW) 2018 dengan menggelar fashion parade bertema Magnificent Borobudur di hari kedua penyelenggaraan, Kamis (29/3).

Candi yang terletak di Magelang, Jawa Tengah, memang dijadikan sebagai salah satu sorotan dalam perhelatan IFW 2018, sebuah kolaborasi solid antara Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) dengan Rumah Kreatif BUMN (RKB) yang berlangsung 28 Maret – 1 April 2018 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta.

Sembilan desainer terkemuka ambil bagian dalam slot prime ini, tiga diantaranya merupakan desainer internasional (Milo dari Italia, May Myat Waso dan Yone Yone dari Myanmar). Sedangkan desainer Tanah Air adalah Musa Widyatmodjo, Misan Kopaka, Denny Djoewardi, Sugeng Waskito, Harry Ibrahim, dan Kursein Karzai (semuanya anggota APPMI), serta desainer senior Chossy Latu yang malam ini mendedikasikan karyanya untuk maestro batik Indonesia, Iwan Tirta.

Pergelaran dibuka dengan tampilnya karya Misan Kopaka, desainer asal Bandung yang terkenal dengan desain yang membentuk tubuh dan kaya detail. Misan, dokter yang melepaskan profesinya di bidang medis dan memilih jalan hidup di jalur fashion designer ini mengangkat tema Cultural Influence A Day at Borobudur.

Misan dengan piawai memadupadankan batik menjadi busana siap pakai yang sangat feminin, berupa gaun tanpa lengan terusan selutut hingga gaun panjang dengan belahan yang menunjukkan feminitas pemakainya. Sebagai pelengkap, desainer yang telah berkiprah 30 tahun di jagat fashion Tanah Air ini menambahkan selendang yang mempermanis gaun-gaun cantik yang kaya detail. Di tangannya, batik tampil kontemporer dan sangat stylish.

Desainer senior, Musa Widyatmodjo, mengangkat keindahan Borobudur dalam tema Senja. Karya ini dia terjemahkan dalam gaun-gaun batik kontemporer. Musa menampilkan karya batik namun jauh dari kesan etnik. “Ini cara saya membawa Indonesia ke pasar global. Membawa nilai-nilai Indonesia ke kancah fashion dunia,” ujar Musa.

Desainer senior Indonesia ini menampilkan 14 set busana, 2 diantaranya busana pria. Melalui karya ini, Musa menerjemahkan romantisasi Borobudur di masa lalu dengan menampilkan suasana matahari terbenam di sekitar candi megah itu.

Koleksi yang dilansir Musa kali ini – antara lain menampilkan kebaya kutubaru yang tampil kekinian. “Kain yang saya pakai tradisional, tapi look-nya lebih kontemporer. Ini semacam kawin silang yang menghasilkan tampilan akhir modern,” ujarnya.

Musa menerjemahkan tema ‘Senja’ di Borobudur yang kaya nuansa warna. Busana yang ditampilkan terinspirasi dari gaya bikshu, juga bunga teratai yang kaya filosofi hidup. Nuansa oranye mendominasi koleksi Musa. “Warna oranye juga terinspirasi oleh busana para bikshu,” ujarnya.

Busana loose melayang oranye itu makin semarak karena Musa juga mengaplikasikan corak stupa Borobudur di sekeliling bagian bawah busana. Tak lupa, hiasan rambut menjulang bak stupa di kepala model, menambah keunikan karyanya. (*)

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here