Indonesia Fashion Week 2018 Mampu Gairahkan Perekonomian Indonesia

0
223
Parade Busana

 

great toba  model on stage

Jakarta , 28/03/2018 – Indonesia Fashion Week 2018 kali ini berkolaborasi dengan 200 perancang mode (lokal dan internasional), 460 peserta pameran merek fashion serta tekstil, workshop, kuliner, dan oleh-oleh panganan dari berbagai daerah di Nusantara.

Sebagai barometer fashion Indonesia, IFW 2018 menjadi jendela sejauh mana perkembangan fashion di negeri ini. Gati Wibawaningsih, Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian Republik Indonesia mengatakan pentingnya peran IFW. “IFW menjadi stimulus untuk kreativitas dan menjadikan fashion Indonesia bersaing dengan produk luar negeri,” kata Gati saat memberi sambutan di pembukaan IFW 2018.

Dia mengungkapkan, ekspor produk fashion Indonesia setiap tahun terus meningkat. “Tahun 2017 ekspor meningkat 8,7% dengan nilai US$13,29 miliar dan menyumbang PDB sebesar 3,76%. Ini menunjukkan industri fashion Indonesia memiliki daya saing di luar negeri,” ujar Gati.

Dibanding bidang lain, fashion cukup memberikan kontribusi besar pada ekonomi kreatif Indonesia. “Tahun 2016, ekonomi kreatif memberikan sumbangan sebesar Rp Rp 922,59 triliun pada PDB Indonesia dan 18,01%-nya disumbang oleh fashion,” kata Joshua Simanjuntak, Deputi pemasaran Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Lebih dari stimulus, Poppy Dharsono mengatakan, fashion merupakan katalisator bagi industri fashion dan juga industri lainnya. “IFW adalah katalisator bagi banyak industri. Ketika sebuah fashion menjadi industri, maka lainnya juga ikut berkembang, mulai dari benang, tekstil, pewarna, kancing, aksesori, dan lain-lainnya,” kata Poppy.

Fashion pun, lanjut Poppy, tak lepas dari industri pariwisata.”Tiga destinasi ini, yaitu Toba, Borobudur, dan Labuan Bajo, merupakan bagian dari 10 Bali Baru yang sedang gencar dipromosikan Kementerian pariwisata. Kita berharap, berkembangnya pariwisata tesebut juga ikut meningkatkan industri fashion dengan produk fashion sebagai oleh-oleh daerah wisata tersebut,” kata Poppy.

Seiring dengan itu, kualitas produk fesyen Indonesia, khususnya yang diproduksi para UKM, seharusnya terus ditingkatkan. Staf khusus II Kementerian BUMN Judith Jubilina Dipodiputro menambahkan, saat ini perusahaan di bawah BUMN berkolaborasi di dalam Rumah Kreatif BUMN (RBK) untuk melakukan pembinaan sekaligus membantu membuka akses pasar.

“Kami membina 202 Rumah Kreatif di seluruh Indonesia dengan 475 lebih UKM yang terdaftar dan 14 ribu produk yang sudah trading melalui Belanja.com. Saya harap melalui IFW dapat semakin mengenalkan produk mereka dan membuka pasar ,” kata Judith.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here