Busana Ragam Warna di IFW 2018

0
750
Yogiswari Pradjanti Model's

Jakarta, 28/03/2018 – Desainer Yogiswari Pradjanti kali ini menampilkan busana bergambar lucu berkarakter naif (hasil gambar seperti anak-anak, misalnya  kepala lebih besar tidak proporsional). Yogi, panggilan desainer yang pernah memamerkan karya di Mercedes Benz Style Asia Fashion Week, memang kuat dalam hal membuat ilustrasi gambar berkarakter naif, dan sudah menjadi ciri khasnya.

Untuk pergelaran kali ini, Yogi menuangkan karyanya dalam tema Colourful Journey yang diterjemahkan dalam busana santai berwarna cerah ceria. Teknik yang digunakan Yogi untuk koleksi bernuansa liburan ini menggunakan batik atau cetak digital.

Sesuai dengan temanya, koleksi Yogi didominasi warna cerah seperti biru, hijau, kuning, merah, dan pink. Siluetnya berupa terusan selutut dan busana two pieces, dengan atasan dilengkapi hoody (tutup kepala) dan celana selutut yang membuat mood liburan makin terasa.

Koleksi selanjutnya yang mencuri perhatian adalah Gee Batik by Sugeng Waskito. Mengangkat tema Borobudur, desainer asal Yogyakarta ini menampilkan koleksi yang terinspirasi dari kemegahan candi yang terletak di Magelang, Jawa Tengah.

Yang membuat koleksi ini istimewa menurut Sugeng  adalah, proses rancangan dilakukan secara manual, mulai dari kain putih, pembatikan, pewarnaan hingga jahit. “Rancangan untuk koleksi kali ini menggunakan sutera batik tulis dan dipadukan dengan aksesoris plat tembaga sepuh emas 18 karat untuk menghasilkan efek glamour dan elegan,” kata Sugeng.

Dengan cerdik, Sugeng menampilkan gaun-gaun feminin berbahan ringan yang pas dikenakan oleh perempuan yang suka tampil bergaya tanpa kesan berlebihan. Gaun terusan mengambil pola batik ini dengan manis memeluk tubuh pemakainya namun tidak ketat di badan. Melalui koleksinya, Sugeng ingin menunjukkan bahwa banyak inspirasi fashion yang bisa digali dari warisan budaya Indonesia.

Gee batik by Sugeng Waskito

Dari batik, koleksi busana yang melenggang di pergelaran Indonesia Fashion Week 2018 berikutnya adalah tenun Nambo. Kain tenun khas Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, ini belakangan makin dikenal. Bukan hanya di Indonesia, namun juga di mancanegara. Wastra ini bahkan sudah tampil di New York Fashion Week, Amerika Serikat, Februari silam.

Sebagai informasi, kawasan Nambo dikenal menjadi sentra pengembangan tenun dengan memberdayakan warga setempat. Motif tenun Nambo memiliki nuasa pesisir yang sangat kental. Hal ini dikarenakan wilayah Nambo merupakan daerah yang berada di pesisir pantai Banggai.

Tenun Nambo di tangan Ryani Utami kali ini tampil di ajang IFW 2018, dan membuat penikmat mode terpukau. Desainer asal Yogyakarta ini ‘menyulap’ kain tenun Nambo menjadi busana yang sangat kekinian dan playful. Mengusung tema Dealova, warna-warna bold seperti merah, biru, dan kuning diaplikasikan dalam koleksi ready to wear yang cocok dikenakan sehari-hari.

Para model melenggok dengan busana terusan di atas lutut yang dipotong asimetris dengan topi-topi cantik pelengkap penampilan. Di tangan Ryani, tenun Nambo tampil sangat kontemporer dan mengundang para perempuan muda yang sadar gaya untuk mengenakan rancangan ini.

Sebagai penutup pergelaran Artistic Identity, desainer asal Lampung, Ida Giriz, menampilkan koleksi bertajuk Gold Olaz. Pemilik nama asli Zuraida kali ini mengeksplorasi kain tapis yang dia terjemahkan dalam 12 gaun malam di perhelatan fashion bergengsi ini.

Tema Gold Olaz atau Kemilau Emas, bercerita tentang sosok puteri Lampung zaman dulu yang terkenal dengan kecantikannya, berkulit terang, gagah berani, dan bertekad kuat. Meski terkesan gagah, namun perempuan Lampung juga digambarkan berhati lembut dan nrimo.

Untuk menggambarkan karakter itu, Ida memilih warna-warna solid hitam dan biru yang diaplikasikan dalam gaun feminin dari tapis yang membentuk tubuh dan menonjolkan keindahan pemakainya.(*)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here