TENOEN ETNIK 6 DESAINER BERSAMA BADAN EKONOMI KREATIF

0
786

JAKARTA − Disponsori oleh BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif), enam desainer ternama menampilkan karya terbaik mereka pada pagelaran Indonesia Fashion Week 2017 bertajuk Tenoen Etnik. Adalah Ida Royani, Jenahara, Torang Sitorus, Jeny Tjahyawati, Anne Rufaidah, dan Nieta Handayani yang akan mempertunjukkan karyanya pada pagelaran ini. Empat di antaranya (Ida Royani, Jenahara, Jeny Tjahyawati, dan Torang Sitorus) akan berkolaborasi menampilkan kreasi dari Ulos, kain khas adat Batak.

Hampir 15 tahun mempromosikan kain khas NTT, tahun ini Ida Royani membuat terobosan baru pada rancangan busana muslimnya dengan menggunakan kain khas Sumatera Utara, Ulos. Agar tidak monoton, Ida Royani membagi tema untuk pagelaran busananya kali ini ke dalam dua jenis kain Ulos yang berbeda, yaitu Pinuncaan dan Sadum. Dibandingkan Ulos lainnya, Ulos Pinuncaan memiliki harga jual paling tinggi, karena Ulos ini dibuat dari 5 kain tenun yang telah disatukan.

Ida mengolah Ulos Pinuncaan ini dengan pilihan warna hitam dan putih. Aturan pemakaian Ulos ini demikian ketat hingga ada golongan tertentu di Tapanuli Selatan dilarang menggunakannya. Dengan pilihan warna hitam, ungu, dan pink tua, Ida mengolah kain Ulos ini tidak hanya menjadi baju, tetapi juga menjadi sepatu dan tas. Seluruh Ulos ciptaannnya ini dapat digunakan baik untuk acara formal maupun informal.

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Jenahara dengan lini Jenahara Black Label menampilkan pula rancangan Ulos yang tak kalah menarik seperti sang ibunda, Ida Royani. Menamakan koleksinya Hinauli, Jenahara Black Label mengolah kain khas Batak dengan sentuhan edgy yang minimalis.

Hinauli merupakan bahasa batak yang memiliki arti keindahan. Motif dari kain ulos sendiri memiliki kesan ketegasan yang kemudian dipadukan oleh Jenahara dengan warna monotone yang selama ini telah menjadi ciri khasnya, kali ini didominasi hitam dan merah maroon. Potongan pada koleksi Hinauli ini sangat edgy, simple, asimetris, serta menggunakan teknik drapping pada beberapa looks sebagai fabric treatment pada koleksi Hinauli.

Masih menggunakan kain Ulos khas Sumatra Utara, Jeny Tjahyawati membuat rancangan yang bertajuk Rarigami Reconstruction. Terinspirasi dari Origami  dan Ulos Radigub, ia menggabungkan keduanya dan menciptakan rancangan bergaya feminin elegan dengan siluet H-Line. Ulos Ragidub merupakan salah satu jenis ulos dari Batak Toba yang memiliki derajat paling tinggi dalam tradisi Batak Toba. Origami sendiri merupakan sebuah seni lipat yang berasal dari Jepang dimulai sejak pertengahan 1900-an.

“Saya menggabungkan dua budaya yang bertolak belakang ini menjadi satu dan menciptakan jenis etnik baru yang tetap khas Indonesia,” ujar Jeny pada konferensi pers, Rabu (01/02). Melalui kemahiran tangannya, origami ini digunakan sebagai detail hiasan yang memberikan efek 3D pada koleksinya, sehingga memberi kesan hidup. Warna-warna yang digunakan untuk ditampilkan di Indonesia Fashion Week 2017 adalah putih gading, hitam, dan merah.

 

Koleksi bertema “The Passamot” adalah bentuk tribut Torang Sitorus lainnya pada kesederhanaan dan kesakralan yang mengakar begitu dalam bagi kekayaan budaya, warna, dan tekstil Batak. Terinspirasi dari cerita haru nan bahagia dalam ritus perkawinan adat batak,  momen disaat orang tua pengantin perempuan memberikan Ulos Passamot kepada orang tua pengantin laki-laki sebagai wujud terima kasih telah merelakan anaknya untuk hidup berdampingan bersama putri kesayangannya, mengganti tugasnya untuk membimbing putrinya, Borhat ma dainang!! Pergilah kau, hai putriku!! Puncak keharuan yang hanya tergambar oleh derai air mata kebahagiaan. Ulos Passamot adalah wujud berkat dan doa dalam suasana suka.

Koleksi “The Passamot” bermotif artistik dan didominasi oleh warna-warna lembut dan tegas: beige, burgundy, dark grey dan maroon yang diaplikasikan dalam sentuhan urban lifestyle berbahan katun. Cerita Passamot, warna dan pilihan cutting menyatu dalam sebuah tampilan dramatis koleksi The Passamot dengan tetap bertahan pada prinsip kesederhanaan dan kesakralan Ulos.

Masih sesuai dengan tema, Nieta Tjahyawati dan Anne Rufaidah juga turut meramaikan pagelaran ini dengan koleksi yang tak kalah menarik.

Tahun ini, Anne Rufaidah akan menampilkan 16 pakaian bertema etnik yang mengangkat kecantikan dan kekayaan alam dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Pakaian yang bertajuk Tenoen Etik ini nantinya akan dikombinasikan dengan tenun dari Tana Toraja, hal ini karena banyaknya kecocokan warna dari dua kain tersebut.

Dia mengatakan, pemilihan tenun dari Indonesia Timur karena ingin mendukung pariwisata nasional yang saat ini sedang gencar dipromosikan yang ingin mengenalkan 10 destinasi wisata antara lain Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Borobudur, Bromo-Tengger-Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi, dan Morotai.

Menggunakan tenun khas Sulawesi Tengah, Nieta Handayani mengusung Nagaya Donggala sebagai tema pakaian yang akan ditampilkan di Indonesia Fashion Week 2017. Nagaya merupakan bahasa Donggala yang berarti cantik.

Tenun Donggala yang digunakan adalah tenun bomba yang akan memberikan motif bunga-bunga untuk outfit rancangan Nieta. Dia mengaku ingin mempromosikan kain khas Sulawesi Tengah yang saat ini masih jarang dikenal oleh masyarakat.

Baik tenun Sumatera, NTT, hingga Sulawesi akan meramaikan pagelaran busana ini. Keenam desainer tersebut berharap, tenun Indonesia dapat semakin dekat dengan masyarakat dan dapat terkenal hingga ke mancanegara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here