Apa yang ditampilkan desainer dalam sebuah fashion week – apalagi yang berskala nasional – bukan hanya mengenai produk-produk apa yang bisa dibeli darinya. Jika cuma soal jualan, akan lebih efektif bagi seorang desainer untuk membuat trunk show yang cukup dihadiri oleh klien-kliennya. Tak menampik bahwa koleksi desainer dalam pekan mode juga terkait perihal bisnis, namun ada visi lain yang harusnya bisa ditemukan di sana.

Ketika seorang desainer menampilkan rancangan-rancangannya di perhelatan sekelas Indonesia Fashion Week, ketika itulah dirinya harus siap untuk koleksinya dilihat dalam berbagai perspektif. Perspektif yang memang akan banyak melibatkan personal taste – sebagaimana karya-karya estetika lain – namun bukan sekadar penilaian suka atau tak suka tanpa ditempatkannya suatu konteks dalam membahas sebuah koleksi. Ini tentang bagaimana berbagai aspek diri desainer dalam hal fesyen diamati.

Hari pertama Indonesia Fashion Week 2015 jatuh pada Kamis, 26 Februari 2015. Kembali mengambil tempat di Jakarta Convention Center, namun pada area yang berbeda dari tahun lalu, stage 2 yang letaknya cukup terpencil dan sulit dijangkau karena padatnya susunan booth menjadi tempat berlangsungnya peragaan busana 3 desainer senior pada hari itu. Sekitar pukul 17.30, Poppy Dharsono, Wignyo Rahadi, dan Agnes Budhisurya yang tergabung dalam APPMI DKI Jakarta menampilkan koleksinya masing-masing.

Judul yang diberikan Poppy Dharsono untuk koleksinya kali ini adalah `Redefining Bali Heritage`. Produk kebudayaan Bali yang coba ia tempatkan dalam satu proses interpretasi baru adalah tenun Endek dan songket Bali. Bagaimana Poppy mengolah kain tradisional itu memang membawa kain Endek pada satu desain yang tak lagi setradisional kain itu digunakan dulunya.

059199300_1425025407-Indonesia_Fashion_Week_2015_-_Poppy_Dharsono_1

Jumpsuit dengan potongan flare di bagian lutu ke bawah yang dipasangkan dengan high neck bolero emas menjadi satu contoh paling kuat untuk melihat bagaimana koleksi ini memiliki identitas masa lampau. Inspirasi fesyen memang bisa berasal dari berbagai kondisi mode satu zaman. Pertanyaannya tinggal bagaimana hal itu menjadi bahan olahan dari kreativitas seorang desainer. Suntikan ide segar apa yang bisa diberikan seorang perancang busana bagi tema retro itu agar koleksinya menjadi suatu kreasi eksploratif baru?

Alih-alih mengekplorasi kelampauan dengan perspektif baru yang lebih fresh, mindscapedesain dari Poppy tampaknya masih diam dalam kelampauan itu sendiri, tak bergerak. Masalah gerak kreatif juga menjadi isu pada koleksi `Golden Royal` rancangan Wignyo Rahadi di hari pertama Indonesia Fashion 2015 ini. Merujuk pada kata `Gold`, koleksi ini tidak cukup emas. Bila dikaitkan dengan kata `Royal`, busana-busana itupun tak membawa karakter regal.

082918000_1425025414-Indonesia_Fashion_Week_2015_-_Wignyo_Rahadi_2

Anggota aristokrat mana yang akan memakai peplum dress kuning pucat dengan area dada atasnya berbahan sheer dan butterfly sleeves sebagai model lengannya? Desain-desain busana Wignyo ini berkesan standard dan bahkan lack of taste, seperti terlihat pada sebuah mermaid dress polos, dengan pemilihan warna dan bahan yang justru memperlemah looks secara keseluruhan. Kasus serupa juga terjadi pada rancangan-rancangan Agnes Budhisurya. `Dongeng Makhluk Surgawi` demikian judul koleksi Agnes.

069481700_1425025407-Indonesia_Fashion_Week_2015_-_Agnes_Budhisurya_2

Jika diibaratkan sebagai sebuah makhluk, busana-busana karya Agnes ini memang punya palet warna yang cantik, hasil teknik lukis yang diterapkannya pada kain. Contohnya adalah gradasi kuning metalik atau biru dalam yang menjadi latar motif bulu merak. Akan tetapi, makhluk-makhluk berwarna cantik itu sayangnya tak memiliki bentuk yang indah. Alam surgawi yang berisi gaun ungu bermodel belahan lebar hingga ke paha dan bagian atasnya seperti gelungan kain berhias aksen bagai rupa daun terasa tak menarik.

(Fotografer: Panji Diksana – Liputan6.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here